Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Eksklusif

Nafkahi Istri, Korban PHK Beralih jadi Penjual Balon di Pasar Malam

Herli, misalnya. Ia menekuni pekerjaan baru sebagai penjual balon di pasar malam di Kota Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur jadi jualan balon.

Tayang:
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO
Baju di Pasar Malam: Warga melihat-lihat baju yang dijual di Pasar Malam lapangan Jalan KS Tubun, Kelurahan Dadimulya, Samarinda, Kaltim Jumat (22/6/2015). Pasar malam merupakan alternatif berbelanja lapisan masyarakat Samarinda. Pasar malam diramaikan para pedagang yang mantan pekerja, korban PHK. (TRIBUNKALTIM.CO/NEVRIANTO HARDI PRASETYO) 

Laporan Wartawan TribunKaltim.co, Cornel Dimas/Rudy Firmanto

TRIBUNKALTIM.CO - Dampak langsung memburuknya perekonomian nasional dan dunia semakin terasa langsung masyarakat bawah.

Para pegawai atau pekerja pada perusahaan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), ramai-ramai banting setir menjalankan kegiatan ekonomi baru.

Berdagang di pasar malam, menjual barang remeh-temeh seperti balon pun terpaksa ditekuni demi satu tujuan, yakni menghidupi keluarga.

Demikian pantauan Tribun Kaltim atas fenomena sosial baru yang terjadi di dua kota besar, Samarinda dan Balikpapan, yakni maraknya pasar tradisional dadakan usai hari kerja; pasar malam.

Beralih profesi dari sektor formal menjadi informal dilakukan karena tuntutan ekonomi. Apalagi sebagian pekerja yang terkena PHK sudah baya, senja, atau setidaknya melewati paruh baya.

BACA JUGA: Korban PHK juga Berpeluang Dapat 2 Hektar dari Program Transmigrasi

(TRIBUNKALTIM.CO/FACHMI RACHMAN) - PASAR MALAM - Ibu Jasmine berbelanja di stand milik salah satu pedagang pasar malam yang berada di Kawasan Sepinggan, Balikpapan, Minggu (13/9/2015). Pasar malam di beberapa lokasi di Kaltim dan Kaltara merupakan salah satu bentuk usaha para karyawan yang terkena PHK.


Herli (55 tahun), misalnya. Ia menekuni pekerjaan baru sebagai penjual balon di pasar malam di Kota Samarinda, Ibu Kota Kalimantan Timur

Malam itu, saat ditemui Tribun Kaltim.co, Herli mengaku hanya meraup keuntungan sekitar 50 ribu rupiah. Ia mengeluh lantaran kondisi akhir-akhir ini sangat sulit mencari pembeli.

Herli memutuskan menggantungkan hidupnya pada aktivitas pasar malam sebagai pedagang balon. Meskipun penghasilannya tak menentu, pekerjaan ini ia tekuni sambil bersyukur atas kehidupannya.

BACA JUGA: Gawat, 125 Perusahaan Tambang Batu Bara Bangkrut, 5.000 Korban PHK

(TRIBUN KALTIM/RUDY FIRMANTO) - Beberapa pembeli sedang memilih aksesoris yang dijajakan pedagang di Pasar Malam Jalan Soekarno Hatta Kilometer 7, Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (13/9/2015).


"Sekarang ini susah kita mau untung. Dollar naik, sementara pembeli di pasar malam sudah sedikit. Hari ini cuma dapat 50 ribu," ucap Herli, pedagang yang beralamat Jalan Pasundan Samarinda. Rupanya Herli mengikuti kondisi perekonomian global terhadap perekonomian nasional, termasuk fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Sebelum bergelut dengan perekonomian pasar malam, ia bekerja di perusahaan tambang. Memang bukan kalangan manajer atau bos perusahaan. Herli hanya seorang moring kapal ponton pengangkut batubara.

Menurutnya moring itu semacam petugas pengikat tali kapal, saat bongkar muat komoditas tambang batubara. Ia mengaku pekerja pada satu perusahaan batubara.

BACA JUGA: PHK di Perusahaan Sektor Batubara Terjadi Sejak Dua Tahun Lalu

(TRIBUNKALTIM.CO/GEAFRY NECOLSEN) -Kegiatan penambangan batubara di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Selama bekerja sebagai moring, hidupnya banyak dihabiskan mengarungi sungai hingga ke laut. Sebagai moring ia menerima upah 100 ribu rupiah per hari. Jauh lebih tinggi daripada pendapatannya sekarang sebagai penjual balon.

Penghasilan rata-rata Rp 3 juta per bulan. Bahkan untuk menambah uang dibawa ke rumah, selama bekerja di kapal, Herli sambil berdagang rokok.

"Ya untungnya lumayan, karena di laut kan nggak ada warung. Jadi rokok itu selalu habis terjual. Saya bawanya slop-slopan, hasilnya bisa untuk nambah-nambah uang kebutuhan," tuturnya.

Seiring berjalannya waktu,  Herli menyadari industri batubara bakal tak bertahan lama. Selepas itu, ia mulai memikirkan cara bekerja sendiri menafkahi istri dan tiga anaknya. Karena terhalang modal, Herli segera menjual motornya yang laku 6,5 juta.

"Uang dari hasil jual motor itu jadi modal saya untuk berdagang balon. Beli tabung gas balon itu habis 1,5 juta. Kalau untuk beli bahan, habis 500 ribu lah. Sisanya ditabung untuk keperluan lain," ungkapnya.

BACA JUGA: Mau PHK, Perusahaan Harus Beber Dulu Data Keuntungan dan Kerugian


Kondisi mirip dialami Budiman, warga Balikpapan. Ia kini menghidupi keluarga dengan mencari rezeki sebagai keberadaan pasar malam. Setiap malam, dalam satu minggu, ia selalu berpindah-pindah tempat dari satu lokaei ke lokasi pasar malam lainnya, sesuai jadwal yang sudah disepakati.

Budiman berjualan pakaian di pasar malam setelah tak lagi bekerja di sebuah perusahaan kayu di kawasan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Awalnya Budiman tak membayangkan harus berjualan pakaian untuk mencari nafkah. Tekad membiayai istri dan ketiga anaknya, membuat Budiman tekun berjualan di pasar malam, pasar dadakan.

Pilihannya jual kebutuhan pokok, yakni pakaian atau makanan. Pilihan jatuh pada komoditas pakaian. “Tidak terpikirkan. Awalnya malu juga nawarin jualan ke orang karena tidak biasa. Tapi lama-kelamaan sudah tak canggung lagi,” ujar Budiman kepada TribunKaltim.co yang menemuinya di lapak pakaianya di Pasar Malam Km 25 Poros Balikpapan-Samarinda, Sabtu (12/9).

Pilihan untuk berjualan bermula ketika ia teringat kenangan kecil, yang terbiasa datang di pasar malam. Selain itu, modal membeli barang dangan relatif kecil. Barang dagangan yang dijual Budiman relatif murah, mulai harga Rp 20 Ribu hingga yang paling mahal Rp 75 Ribu untuk satu potong jaket.

Lalu, biaya sewa tempat juga murah sekali. “'Kalau di pasar, biaya kios saya tidak sanggup, kalau di sini kan biaya lebih murah bayar Rp 5 ribu semalam. Jadi masih terjangkau pedagang seperti kita ini,” kata Budiman.


Dua Bulan Tunggak Biaya Sekolah

BACA JUGA: Industri Batu Bara Bangkrut, 587 Ribu Peserta BPJS Kesehatan Tunggak Premi

Mantan pekerja pada perusahaan seperti Herli dan Budiman telah menjatuhkan pilihan. Penghasilan dari hasil bekerja pada orang lain dibandingkan dengan bos sendiri pada usaha pribadi, relatif berbeda. Kadang-kadang lebih banyak, kadang lebih sedikirt.

Herli kini berjualan balon keliling tiap pasar malam menggunakan motor bebek. Meski tak punya lapak, Herli tetap membayar iuran kebersihan 4 ribu rupiah per malam. Paling laris balon terjual 20 buah per hari. Tapi tetap tidak dapat menandingi pendapatannya semasa bekerja di kapal.

Bahkan pendapatan Herli sebagai penjual balon tak cukup untuk membayar sekolah anak bungsunya yang baru masuk SMA swasta.

"Uang gedung anak saya ini belum bisa dibayar dari dua bulan kemarin. Biayanya 2,5 juta. Nantilah saya bayar tunggu ada uang. Sekarang masih sedikit pendapatan," ucapnya.

Tak hanya untuk biaya sekolah, Herli juga masih harus menafkahi keluarganya yang lain. Meski anak sulungnya sudah bekerja sebagai guru, Herli mengaku anaknya itu bergantung pada Herli pula hidupnya.

"Anak saya itu sudah jadi guru SD Negeri selama 10 tahun. Tapi sampai sekarang nggak pernah diangkat jadi PNS atau guru tetap. Makanya ini masih bergantung dengan saya. Kalaj saya nggak dapat penghasilan, uang makan dapat darimana?" ujar Herli sembari membereskan dagangannya.

Kesulitan pun dialami Budiman. Ketika perekonomian belum buruk seperti saat ini, di mana harga barang-barang melonjak tajam, sedangkan daya beli masyarakat melemah, pengunjung pasar malam cukup ramai. Hasilnya, penjualan pedagang pun bagus.

Namun saat ini, kondisi perekonomian yang sedang turun ternyata dirasakan Budiman. Menurutnya, biasanya dalam seminggu, omzet penjualan mencapai Rp 2 juta, sedangkan saat ini untuk mendapatkan Rp 1 juta sudah termasuk lumayan baik.

“Sepi sekali, tak jarang tiap jualan tidak ada pembeli satu pun,” kata Budiman mengeluh.

Bila membandingkan penghasilannya sebelumnya di perusahaan kayu dengan saat ini menjadi pedagang pakaian, memang diakui sangat jauh menurun. Meski begitu, tetapi Budiman mensyukuri semua kondisi yang dijalanin saat ini.

“Ambil positifnya saja, kalau sekarang walaupun kecil tapi setiap hari bisa kumpul dengan keluarga dirumah,” katanya. (*)

*** UPDATE berita eksklusif, terkini, unik dan menarik dari Kalimantan.

Like fan page fb TribunKaltim.co 

dan follow twitter  @tribunkaltim 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved