Salam Tribun
Small is Beautiful
PETRUK GARENG adalah satu di antara ratusan angkringan yang nongkrong di kawasan Mangkubumi, Yogyarkarta.
TRIBUNKALTIM.CO - PETRUK GARENG adalah satu di antara ratusan angkringan yang nongkrong di kawasan Mangkubumi, Yogyarkarta. Satu rombong memanfaatkan area seluas 4 X 6 meter itu dijejali bagitu banyak pembeli. Menggunakan layanan self service alias melayani diri sendiri, pembeli bebas memilih semua makanan yang tersaji.
Begitu tenda dibuka, puluhan orang berjejelan antre mengambil nasi kucing Rp 4000 an, sate puyuh, ceker ayam, aneka macam masakan dengan aneka rasa resep khas Yogya dan Jawa Tengah . Ada bermacam-macam minuman, panas dingin, manis, kecut, pedas dan panas semua ada dan terjangkau harganya. Murah meriah.
Pukul 24.00, sudah ludes. Berapa pendapatanya? Selama tidak kurang Rp 7 juta, malam minggu bisa mencapai Rp 12 juta. Petruk Gareng bisa menyajikan sedikitnya 60 macam makanan dan minuman. Apa tidak klenger? "Ya, tidak. Karena kami ini cuma menerima pasokan dari 43 pemasok semuanya masalah rumahan," begitu kata pemiliknya.
Artinya dari angkringan Petruk Gareng saja sedikitnya ada 43 kepala keluarga menggantukan hidupnya dari situ, belum lagi ada delapan keryawan sebagai pekerja di angringan itu. Lalu sewa lahan berapa? "Ya, kebetulan Pemerintah DIY memungut retribusi Rp 4.000/ bulan."
BACA JUGA: Didit Ingin Jadi Bos Lewat Usaha Angkringan di Tenggarong
Konsed angkringan sudah menjalar di Balikpapan. Misalnya di perempatan Balikpapan Baru ada angkringan Lek Ndut! Tiap malam tidak kurang 100 bahkan lebih orang mengerumini warung kecil yang numpang di depan sebuah ruko untuk bengkel di siang hari. Kebetulan Lek Ndut juga dari Yogyakarta. Sejak tiga tahun lalu mereka menggelar angringan dan semakin ramai saja tiap malam dikunjungi pembeli.
Balikpapan juga mempunyai sentra-sentra kuliner yang baik. Misalnya di depan Lapangan Kodam, Jl. Panglima Sudirman, A Yani, Gunung Malang da sekitarnya. Disana berderet-deret warung dengan aneka ragam menu. Hampir semua resep Nusantara ada tersaji di kota ini. Ikan bakar di Kampung Baru sangat populer, demikian pula di sekitar Pasar Inpres (Kebun Sayur).
Sepanjang Jl. A Yani, Sudirman, Mayjen Sutoyo, Sepinggan serta ke arah utara jalur menuju Samarinda dipenuhi oleh warung, depot, dan tempat jualan makanan. Ini semua menunjukkan bahwa minat masyarakat bergerak di bidang usaha kecil menengah, PKL memang luar biasa.
BACA JUGA: Citarasa tak Kalah dengan Restoran
Sudah terbukti bahwa usaha kecil menengah, PKL, industri rumah tangga adalah sektor ekonomi yang tangguh. Tak tergoyahkan oleh krisis ekonomi apalagi soal kurs rupiah dan sejenisnya. Lewat penguatan sektor inilah Indonesia beberapa kali mampu terhindar oleh gerus tsunami krisis ekonomi global.
Bukan cuma tampak dari kekuatan riilnya saja, sektor non-formal ini kemudian diangkat dalam sebuah buku yang luar biasa melalui pemikir dan ekonom Barat, EF Schumaker dari Inggris berjudul: Small is Beautiful (Kecil Itu Indah).
Solo, Yogya dan Bandung menjadi contoh konkret teori Schumaker ini.
Di tengah-tengah upaya menarik investor secara besar-besaran, pemerintah di kota itu tetap saja memberikan peluang dan pengembangan sektor non formal, khususnya PKL. Mengatur perekonomian dengan membagi ke dalam unit unit kecil ternyata lebih indah dibanding mengaturnya dalam skala global.
BACA JUGA: Tiga Hal Ini Penyebab Utama Krisis Ekonomi Bukan karena Kinerja Jokowi-JK
Pengalaman Indonesia dalam melewati krisis ekonomi sejak tahun 1997 telah membuktikan asumsi tersebut. Di saat banyak perusahaan besar berguguran, banyak karyawan yang di PHK dan pengangguran meningkat, ternyata usaha kecil menengah (UKM) menjadi primadona yang menahan kehancuran ekonomi Indonesia.
Banyak usaha kecil tumbuh bak jamur di musim hujan, mulai dari kafe tenda hingga home industry. Mereka terbukti kuat menahan kehancuran, sehingga tidak heran saat ini sejumlah bank berlomba lomba membentuk divisi yang khusus melayani usaha kecil menengah ini.
Tren small is beautiful ternyata tidak hanya dari sisi industri saja. Perkembangan ini juga terlihat dari sejumlah alat elektronik seperti handphone dan komputer. Kita tentunya ingat pertama kali handphone masuk ke Indonesia dengan ukuran yang sangat besar, sehingga mustahil kita memasukkannya ke kantong celana.
Namun saat ini, kita sudah melihat handphone seukuran telapak tangan, sehingga mudah digenggam atau dimasukkan ke kantong baju. Mungkin sudah saatnya istilah handphone diganti menjadi palmphone.
BACA JUGA: Pelemahan Kurs Rupiah Berpotensi Hantam Perekonomian Kaltim
Demikian pula dengan komputer. Saat pertama kali diperkenalkan ukuran CPU tidak lebih kecil dari sebuah ruangan. Namun saat ini, sebuah laptop memiliki kemampuan mengolah data jauh lebih besar dan cepat. Jika 30 tahun lalu chip komputer hanya memuat 2.250 transistor, saat ini sebuah chip dapat memuat 42 juta transistor. Ini semua adalah pengejawantahan Small is Beautiful.
Sekarang kita --termasuk Balikpapan dan Kalimantan Timur-- sedang menghadapi masalah serupa, harga batu bara melosot belum mau kembali, dihantam pula krisis ekonomi global. Beberapa perusahaan melakukan PHK. Jangan lupa kita masih punya pelampung, punya sekoci untuk menyematkan derita itu, yaitu sektor non-formal.
Jadi Pak Gubernur, Pak Wali dan Pak Bupati jangan sungkan-sungkan memanfaatkan kepiawaian para pelaku sektor non-formal untuk tetap menjaga roda ekonomi. Pantang menyerah untuk tetap berusaha dan bekerja, agar perekonomian kita tidak ambruk. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/angkringan-jogja_20150702_235625.jpg)