Berita Video
VIDEO- Operasi Duodenal Switch, Berat Maxwell Bisa Susut 175 Kg
Inilah kisah Maxwell Ivey, 49, tunanetra dengan berat badan 300 kg. Kini beratnya tinggal 125 kg, dia menjalani operasi duodenal switch. Apa itu?
PRIA tunanetra ini badannya membengkak hingga mencapai 600 pon atau sekitar 300 kg. Tetapi berkat sebuah teknologi baru, dia berhasil mengurangi berat badan hingga 350 pon (sekitar 175 kg). Kini dia punya berat badan ideal 125 kg. Bagaimana bisa terjadi perubahan fisik yang luar biasa ini?
Inilahlah kisah pria bernama Maxwell Ivey, 49, dari Texas, punya berat badan hingga 600 pon (sekitar 300 kg) sebelum membuat keputusan menjalani proses duodenal switch, teknologi terbaru untuk operasi penurunan berat badan.
Inilah Video Operasi Duodenal Switch:
Kini dia gembira berat badannya tinggal 250 pon (sekitar 125 kg) saja, sudah bertahan hampir setahun. Semula dia harus mengenakan celana ukuran 62 dan kemeja XXXXL untuk menyesuakan dengan ukuran tubuhnya, kini dai cukup mengenakan celana ukuran 4o serta kemeja XXL.
"Saya menjalani operasi lambung secara maraton, bukan dalam pengertian perbaikan cepat, " katanya kepada New York Magazine.
dalimail.co.id(Kiri) Tubuh Maxwell Ivey sebelum dioperasi dan (kanan) setelah dioperasi menggunakan teknologi duodenal switch.
dailymail.co.ukMaxwell Ivey mempunyai kesibukan di depan laptop dan komputer.
dailymailco.ukMaxwell Ivey mengaku sekarang bisa melihat diri sendiri, bisa hidup sehat dan bahagia setelah menjalani operasi saklar duodenum untuk mengurangi berat badannya.Maxwell menjelaskan bahwa berat badannya selalu naik. Saat SMA berat badannya 300 pon (sekitar 150 kg). Dia berjuang keras untuk melawan obesitas. Tetapi selalu saja gagal pertunya selalu lapas, perlu makanan dan asupan tambahan berupa junk food. Sebagai remaja gemuk dia kehilang visi sebagai pemuda yang kreatif akibat kondisi tubuhnya.
Sebagai anak, teman-temannya selalu saja menggodanya dan memberi julukkan kejam misalnya: Maxwell House dan Max Truck. Di tempat bermain jungkat-jungkit, dia harus melibatkan beberapa teman agar permainan bisa seimbang. Tanpa pertolongan keluarga dan dokter, maka saya sudah tidak bisa hidup lagi.
"Aku beruntung, di rumah saya ada internet. Disitulah saya habiskan waktu untuk menjalani hidup ini" tuturnya.
Maxwell menjelaskan bahwa anggota keluarganya juga banyak yang gemuk, tetapi mereka semua menunjukkan cinta melalui makanan. Tumbuh ia melihat makanan sebagai kenyamanan - serta penghargaan untuk hari kerja keras.
Setelah ayahnya meninggal tahun 2003, Maxwell mengatakan dia 'secara fisik kacau dan klinis tertekan'. Keluarga saya selalu meyakinkan saya agar menemui dokter agar hidup saya tidak segera berakhir,' kata dia.
Maxwell menceritakan bahwa ketika gemuk, tidak bisa mengenakan sepatu dan kaus kaki tanpa harus duduk dan menopang nya kaki ke atas. Dia juga memiliki masalah di kamar mandi karena ukuran dan kurangnya visi.
"Belum lagi untuk ke toilet, saya pasti memerlukan tempat lebih luas. Kadang saya terpaksa mengambil kursi untuk berdiri agar bisa buang air besar,'" tuturnya.
Di tempat umum, Maxwell memiliki kesulitan untuk mencari kursi yang ukurannya pas dengan badannya. Di bandara dia selalu membutuhkan extenders sabuk pengaman, dan ketika dia bekerja di sebuah kantor ia tidak dapat menemukan kursi yang bisa menampung ukuran tubuhnya.
Maxwell mencapai titik puncaknya ketika mengalami sleep apnea, menyebabkan dirinya berhenti bernapas dan mengompol dan harus membuntal kotorannya dengan lembaran kertas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/gemuk-jadi-kurus_20150918_152445.jpg)