Salam Tribun
Pemimpin atau Top Predator
Dalam dua tahun terakhir, sedikitnya sudah tiga kali terjadi dua kasus pembantaian satwa liar yang diunggah ke media sosial, facebook.
Penulis: Amalia Husnul A | Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNKALTIM.CO - Dalam dua tahun terakhir, sedikitnya sudah tiga kali terjadi dua kasus pembantaian satwa liar yang diunggah ke media sosial, facebook. Kamis (24/9/2015) malam, dunia maya dihebohkan salah satu netizen yang menggunakan akun Ronal Cristoper Ronal, lewat unggahan berjudul Tangkapan Hari Ini. Tiga orang pria mengunggah foto-foto dengan latar belakang bangkai beruang madu (Helarctos malayanus). Seperti, unggahan-unggahan sebelumnya, setelah mendapat kecaman dari netizen, foto-foto pun lenyap dari akun tersebut.

Setahun lalu, pembantaian beruang madu juga diduga terjadi di Berau, Kalimantan Timur. Kejadian ini diketahui juga karena si pelaku mengunggah ke facebook. Pemilik akun Ricky C Werang dan tiga temannya sempat diperiksa kepolisian Berau akibat unggahan bertajuk Berburu Beruang. Ricky menggunggah foto-foto mulai dari menguliti hingga memakannya.
Itu beruang madu. Bukan hanya beruang madu, yang bernasib sama di dunia maya. Hanya jadi objek unggahan kekejaman makhluk Tuhan yang sejatinya diberi kemuliaan berupa akal. Sederet satwa liar lainnya seperti orangutan dan primata lainnya, berbagai jenis burung, hingga si raja hutan bahkan seolah hanya sekadar menjadi bukti kedigdayaan manusia.
Kemudahan dan semakin murahnya teknologi komunikasi semakin memudahkan manusia. Jika dimanfaatkan untuk tujuan positif tentu hasilnya baik. Tapi, jika hanya untuk pamer bahwa manusia lebih hebat dari makhluk ciptaan Tuhan lainnya, rasanya sungguh tidak bijaksana. Manusia adalah pemimpin seluruh umat yang ada di Bumi. Bukan hanya manusia atas manusia lainnya. Tapi, juga makhluk Tuhan yang lain.

BACA JUGA: Tiga Pria Selfie Sambil Membelah Perut Beruang Madu, Satwa Langka
Dalam teori rantai makanan, yakni proses perpindahan energi dari produsen ke konsumen teratas biasanya dimulai dari tumbuhan dimakan hewan kecil, selanjutnya hewan kecil dimakan hewan besar, dan seterusnya. Rantai makanan lebih mudah disebut proses makan dimakan di alam. Binatang yang menduduki posisi teratas dalam rantai makanan adalah top predator. Harimau yang berjuluk raja hutan ataupun elang biasa digambarkan sebagai top predator.
Sebuah rantai makanan singkat, rumput dimakan sapi selanjutnya manusai mengkonsumsi daging sapi, manusia dapat diposisikan sebagai top predator. Namun, apakah manusia sama dengan top predator lainnya? Seharusnya tidak, karena tidak seperti top predator lainnya, manusia diberikan akal pikiran oleh Sang Pencipta.
BACA JUGA: Mad Max: Ketika Pemimpin Serakah
Manusia tidak menggigit apa yang dimakannya dalam wujud asalnya. Contohnya saja, ketika mengkonsumsi daging ayam saja, tentu akan disembelih dahulu. Bagi umat Muslim bahkan harus dipastikan kehalalannya. Label halal ini juga diikuti dengan berbagai prosedurnya. Semua ini sesungguhnya adalah pertanda bahwa manusia tidak sama dengan hewan pemangsa lainnya.
Boleh saja manusia merupakan top predator dalam rantai makanan, tapi manusia bukan hewan pemangsa. Manusia diberikan akal pikiran juga dibatasi dengan norma-normal karena manusia adalah makhluk sosial. Lantas mengapa manusia tak ubahnya hewan pemangsa lainnya? Menguliti dan memakan hewan dengan cara yang biadab?

Adegan harimau memakan mangsanya mungkin terbilang keras. Tapi, sulit untuk disebut biadab atau tak beradab. Karena harimau tidak dibatasi norma kesopanan layaknya manusia. Bahkan untuk urusan menghargai makhluk hidup lainnya, manusia juga masih harus belajar dari top predator lainnya. Makan hanya ketika lapar dan sesuai dengan kebutuhannya. Bukan untuk gagah-gagahan di media sosial.
Lantas, apakah manusia layak disebut pemimpin ataukah sesungguhnya ia hanyalah top predator? Yah..kembali kepada manusia sendiri. Apakah ia layak disebut sebagai pemimpin? Ataukah ia hanyalah top predator yang lebih rakus daripada si raja hutan? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/beruang-madu-di-kwplh-km23_20150411_183707.jpg)