Tahanan Kabur
Tidur Bergantian karena Sel Tahanan Diisi Hingga 17 Orang
"Biasanya yang tidur di dipan adalah tahanan yang tua atau dituakan," katanya. Tahanan harus "nyempil" cari tempat tidur di luar selnya.
TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Hasbullah masih mengingat benar bagaimana hari-hari panjangnya di sel tahanan Makopolres Kutai Timur, April hingga Oktober 2014.
Mantan Komisioner KPU Kutim yang terjerat kasus pidana pemilu itu harus mendekam di hotel prodeo selama enam bulan.
Saat itu, masing-masing dari 12 ruangan atau sel tahanan diisi 15 sampai 17 orang tahanan. Padahal kapasitas hanya 70 orang. Walhasil, sel berukuran 5 x 3 meter dan 7 x 3 meter tidak akan cukup menampung tahanan di setiap sel itu untuk tidur.
"Kalau tidur, tidak cukup masing-masing sel itu. Karena itu, pintu masing-masing sel jarang dikunci. Sehingga tahanan bisa tidur di ruang besuk, lorong, atau ruang jemuran," kata Hasbullah.
Memang ada dipan kayu sederhana untuk tempat tidur di setiap sel. Namun dipan itu hanya bisa ditempati 7 sampai 10 orang. Selebihnya harus tidur di lantai, baik lantai sel, lorong sel, maupun ruangan besuk dan tempat jemuran.
Baca: Kapasitas Berlebih, Pemkab Siapkan Lahan untuk Bangun Lapas
"Biasanya yang tidur di dipan adalah tahanan yang tua atau dituakan," katanya. Tahanan harus "nyempil" cari tempat tidur di luar selnya. Ia mengingat benar pintu masing-masing sel jarang dikunci. Yang dikunci adalah pintu luar yang dijaga petugas.
Meskipun demikian, petugas tetap memonitor secara berkala. Termasuk melalui CCTV. "Seingat saya, ruangan masing-masing sel baru dikunci ketika petugas melakukan razia. Saat itu semua dikumpulkan di sel masing-masing, apakah disuruh berdiri atau duduk," ujar Hasbullah.
Bahkan suatu saat, pernah kondisi ruang tahanan sangat penuh berjejal karena jumlah tahanan mencapai 220 orang. Terutama ketika tahanan kasus sabu tumbuh mendominasi.
"Saat itu tidur pun harus bergantian. Karena tempatnya memang tidak cukup," ujarnya.
Untuk pelayanan di tahanan, khususnya makanan masih relatif baik. "Porsinya masih layak lah," katanya. Namun kesulitan yang paling terasa adalah masalah air bersih.
"Ada kalanya kami tidak bisa mandi berhari-hari karena tidak ada air. Itu saat musim normal. Apalagi di musim kering seperti saat ini. Wudhu saja pakai air minum atau air galon," ujarnya.
Tentang upaya melarikan diri, Hasbullah menyebutkan sebelumnya sudah pernah terjadi.
"Saat itu dua tahanan sempat pelan-pelan membobol WC di kamar. Bahkan ukurannya sudah 20 x 20 cm. Supaya tidak ketahuan ditutupi sarung. Namun belakangan ketahuan petugas. Akhirnya keduanya harus menerima akibatnya," katanya.
Hasbullah mengaku heran mendengar kaburnya 16 tahanan. Pasalnya, selalu ada petugas jaga. "Kan juga ada CCTV yang seharusnya selalu dimonitor. Belum lagi besi penutup ruangan jemuran itu cukup tebal dan berlapis. Pasti lama kalau digergaji dan kedengaran jelas gesekan besinya," katanya.
Hasbullah berharap, pengamanan dan pengawasan di ruang tahanan Polres bisa terus diperkuat. Pada sisi lain, masa tahanan yang telah dilaluinya diharapkan bisa "membayar kesalahannya". "Saya sudah mengakui kesalahan dan menjalani hukuman. Semoga publik memaafkan saya," ujarnya berharap. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ruang-tahanan-polres-kutim_20151105_111317.jpg)
