Salam Tribun
La Vie est Belle
La vie est belle, c'est la vie. Hidup itu indah, begitulah semestinya kehidupan.
DUNIA tersentak. Serangkaian penembakan dan bom bunuh diri terjadi di Kota Paris, Perancis, Jumat (13/11/2015) malam atau Sabtu dini hari WIB.
Teror di Paris itu bermula dari penembakan yang terjadi di Distrik 11. Tak lama setelah itu, ada tiga ledakan di bar dekat Stade de France, tempat laga persahabatan antara Perancis dan Jerman. Total ada delapan lokasi serangan terjadi di Kota Paris. Lebih dari 150 orang meninggal dunia dan ratusan korban lainnya luka-luka.
Pejabat Perancis menyatakan, sedikitnya 153 orang tewas dalam penembakan dan pengeboman di Paris dan Saint-Denis, tempat Stadion Stade de France berada. Sebanyak 112 orang di antaranya terbunuh di ruang konser Bataclan.
Presiden Perancis Francois Hollande mengatakan kepada wartawan, para teroris yang melakukan kekejaman ini akan menghadapi Perancis yang nekat dan bersatu.
Menurut Hollande, dalam menghadapi teror ini, semua warga Perancis harus mengetahui cara mempertahankan diri, memobilisasi kekuatan, dan mengatasi teroris.

(REUTERS/Philippe Wojazer) --Seorang polisi Perancis membantu korban yang berlumuran darah akibat penembakan membabi-buta di arena konser di gedung Bataclan di Paris, Perancis, Jumat (13/11/2015). Dalam waktu hampir bersamaan terjadi serangan menggunakan bahan peledak dan senjata api di 8 tempat di Kota Paris. (REUTERS/Philippe Wojazer)
Baca: Inilah 8 Lokasi Bom dan Penembakan Serentak yang Menewaskan 158 Orang di Paris
Pasca serangan teroris, 5 juta populasi Muslim di negeri itu mulai ketar-ketir. Bagaimana tidak, para ekstremis pelaku penembakan dan pengeboman menyebut diri mereka Muslim.
Menurut berbagai laporan berita, para jemaah di Masjid Besar Paris yang terletak di distrik 5 dan pusat-pusat Muslim di penjuru negara itu menguatkan diri menunggu adanya serangan balasan setelah ada berita tentang aksi-aksi anti-Islam mulai bermunculan.
Warga Muslim pun turut menjadi korban terorisme. Pada akhir pekan, simbol-simbol keagamaan yang mencerminkan sentimen anti-Islam dicatkan di dinding mesjid di Paris bagian timur.
Samia Edd Cardi, penyelenggara demonstrasi Masjid Besar, seorang muslim dan tech entrepreneur menyatakan, terorisme tidak memiliki agama maupun kebangsaan. Ungkapan itu untuk menegaskan bahwa ISIS tidak sama dengan Islam.
Baca: Anti-Islam Merebak, Perancis Bersatu Dukung Kaum Muslim
Di dunia media sosial pun, aksi teror tersebut menjadi trending topic. Tagar #PrayforParis marak di Twitter. Begitu juga bendera Perancis biru-putih-merah menghiasi profile picture para pengguna akun Facebook sebagai ungkapan simpati netizen terhadap peristiwa berdarah tersebut.
Sayangnya, bukan malah menguatkan sikap antiteror, netizen pun terpecah-belah. Mereka berlomba ikutan marah dan geram antara mendukung atau tidak dengan insiden kelam di Perancis.
Banyak yang berkomentar sinis, kejadian di Paris menjadi perhatian dunia sementara peristiwa pembunuhan massal di Lebanon, Suriah, dan negara-negara Timur Tengah lainnya justru diabaikan. Padahal peristiwa pembantaian di Timur Tengah terjadi secara terus-menerus dan masif. Dunia dalam hal ini yang diwakili barat dan identik dengan non-Muslim dinilai tidak adil.

(REUTERS/Christian Hartmann) -- Personel pemadam kebakaran Perancis menolong dan mengevakuasi korban terluka dalam serangan serentak sekelompok orang yang menembak membabi-buta di arena konser di gedung Bataclan di Paris, Perancis, Jumat (13/11/2015). Dalam waktu hampir bersamaan terjadi serangan menggunakan bahan peledak dan senjata api di 8 tempat di kota Paris. (REUTERS/Christian Hartmann)
Sebenarnya, teroris apapun benderanya adalah musuh bersama. Korbannya adalah warga sipil dengan lintas agama. Angelina Jolie, artis papan atas Hollywood sekaligus aktivis kemanusiaan malah lebih bijak menanggapinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/trinilo-umardini_20150420_123312.jpg)