Salam Tribun

Antara Jokowi dan Aprilia

Rabu (18/11/2015) juga hari yang tidak akan dilupakan pasangan suami istri Mulyani dan Mulyana. Hari itu mereka kehilangan anak kedua mereka.

Penulis: Amalia Husnul A | Editor: Amalia Husnul A
tribunkaltim.co/cristoper desmawangga
Plang larangan untuk tidak beraktivitas di lubang eks tamang PT Transisi Energy Satunama, baru saja dipasang pihak perusahaan, Kamis (19/11). Sebelumnya tidak pernah ada tanda larangan maupun pagar di sekitar lubang maut tersebut yang mengakibatkan tewasnya Aprilia Wulandari, Rabu (18/11/2015). 

tribunkaltim.co - Rabu (18/11/2015) sejumlah orang sibuk menyambut kedatangan orang nomor satu di Republik ini, Presiden RI, Joko Widodo. Sejumlah warga antusias menyambut kedatangan Jokowi. Hampir sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan yang dilalui rombongan kendaraan Kepresidenan diramaikan dengan warga yang berdiri di pinggir jalan. Mulai anak-anak sampai orang tua berdiri menyambut Jokowi.

Kesibukan juga terlihat di Bontang dan Penajam Paser Utara (PPU). Maklum saja, dua kabupaten/kota ini juga menyambut kedatangan Jokowi, Kamis (19/11/2015). Pertemuan dengan Jokowi akan jadi kenangan bagi warga yang kebetulan punya kesempatan bisa dekat dengan Sang Presiden.

Seperti halnya Jumilah, warga Markoni dan Abdul Munif, Abdul Munif, warga Jl Siaga yang bekerja sebagai petugas keamanan di kawasan pertokoan Jl Sudirman (Baca: tribunkaltim.co). "Saya sempat cium tangan pak Jokowi, tangannya wangi," kata Jumilah. Sementara Munif yang menyempatkan diri memotret Jokowi segera mengunggah hasil jepretennya ke akun facebook-nya. "Luar biasa Pak Jokowi, begitu dengan rakyat. Meski hanya sebentar, kejadian ini tidak akan saya lupakan," ujar Munif.

Rabu (18/11/2015) juga hari yang tidak akan dilupakan pasangan suami istri Mulyani dan Mulyana. Hari itu mereka kehilangan anak kedua mereka. Aprilia Wulandari, yang baru berusia 13 tahun itu akhirnya ditemukan tidak bernyawa di dalam kolam bekas tambang milik sebuah perusahaan tambang batu bara. Tewasnya Aprilia menggenapkan jumlah bocah yang meregang nyawa di kolam bekas tambang batu bara di Kota Samarinda menjadi 12 orang. Dari data yang dirilis Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), sedikitnya sudah genap satu lusin bocah yang tewas di kolam bekas tambang batu bara.

Walikota Samarinda, Syaharie Jaang membantah ada pembiaran. Menurutnya, masalah pengawasan dan perizinan bukan lagi di Pemkot Samarinda dan sudah dilimpahkan ke Provinsi Kaltim. Dari data yang dirilis JATAM, bocah tewas di kolam tambang telah diketahui sejak tahun 2011. Ketika itu, tiga bocah sekaligus tewas di kolam bekas tambang PT Hymco Coal. Ketiga bocah itu adalah Miftahul Jannah (10 tahun), Junaidi (13 tahun), Ramadhani (11 tahun). Seharusnya, tewasnya ketiga bocah itu sudah menjadi peringatan bagi seluruh stakeholders. Ada yang harus dibenahi, jika tidak ingin nyawa generasi penerus 'tergadai' di kolam-kolam tambang. Keberadaan tambah dimaksudkan untuk kemakmuran rakyat. Kenyataannya, rakyat juga tidak seluruhnya makmur karena hasil tambang hanya dinikmati sebagian kalangan, lingkungan rusak karena pengelolaan tambang yang tak ramah lingkungan, dan bocah-bocah itu tewas di bekas kolam tambang. Kedua belas bocah ini bukan tumbal.

BACA JUGA: Budidaya Ikan di Kolam Bekas Tambang Tak Ekonomis

Tapi, mereka adalah peringatan bahwa kita sebagai orang dewasa nyatanya tak mampu menciptakan lingkungan yang aman bagi mereka. Mengapa anak-anak suka bermain di sekitar kolam tambang? Jarak kolam tambang itu dekat dengan permukiman mereka, dan sebagai kanak-kanak bahkan remaja, bermain masih jadi kebutuhan mereka.

Apakah tidak ada yang dapat dilakukan untuk mencegah korban-korban berjatuhan? Masyarakat tentu berharap pemerintah dapat bertindak. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berdalih dengan terbitnya Undang-undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, kewenangan tambang dan beberapa instansi lain ada di tangan Provinsi, padahal korban tewas itu sudah ada sejak tahun 2011. Kini, ketika kewenangan menjadi tanggung jawab provinsi bukan berarti kota lepas tangan. Dan Provinsi juga sedianya lebih tanggap. Apakah tidak mungkin mendata berapa jumlah kolam tambang yang masih terbuka?

Lantas apakah tidak bisa pemerintah meminta semua kolam terbuka ini diberi pengaman atau tidak mungkin pemerintah membuat aturan yang memaksa para pemilik tambang untuk menutup atau mengembalikan? Tidak adakah sanksi hukum bagi pemilik tambang?

Warga berkerumun melihat upaya pencarian Aprilia Wulandari, bocah yang tenggelam di kolam bekas tambang batu bara di Lok  Bahu, Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Rabu (18/11/2015).

Mungkinkah memang hanya Presiden yang dapat menyelesaikannya? Seperti permintaan Jatam. Momentum kejadian yang bertepatan dengan kedatangan Presiden Joko Widodo di bumi Kaltim ini, diharapkan juga ada langkah-langkah yang dapat diambil untuk menghentikan kasus ini. "Jatam meminta ini menjadi perhatian Presiden dan meminta Presiden mengambil langkah serius, guna menghentikan bergugurannya korban anak-anak di bekas lubang tambang Samarinda akibat obral izin tambang yang meninggalkan 150 lubang bekas tambang dan mengkapling 71 persen Samarinda selama ini," kata Merah Johansyah, Dinamisator Jatam Kaltim.

Semoga gubernur dan walikota bisa lebih arif mendengarkan permasalahan di wilayahnya, memberi kenyamanan untuk warganya. Bukan melulu mengejar target menggolkan proyek- proyek mercusuar. (*)

***

  Follow  @tribunkaltim Tonton Video Youtube TribunKaltim


Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved