Salam Tribun
Nihil Prestasi Minim Partisipasi
PESTA demokrasi baru saja usai. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di beberapa daerah di Indonesia dilakukan pada Rabu, 9 Desember 2015.
PESTA demokrasi baru saja usai. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di beberapa daerah di Indonesia dilakukan pada Rabu, 9 Desember 2015. Peristiwa ini bakal menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya, beberapa daerah menggelar Pilkada secara serentak.
Ada 269 daerah yang melaksanakan Pilkada Serentak. Di Kalimantan Timur tercatat delapan kabupaten/kota menggelar Pilkada yaitu Paser, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Timur, Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Berau. Sedangkan di Kalimantan Utara tercatat Kabupaten Nunukan, Tana Tidung, Malinau, Bulungan, dan Pilgub Kaltara.
Meski sejak pagi TPS sudah bersiap menerima para warga yang memiliki hak suara, namun suasana gegap-gempita tak begitu nampak selayaknya sebuah pesta.

TRIBUNKALTIM.CO/FACHMI RACHMAN -- Semua petugas KPPS TPS 07 Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara adalah perempuan. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian tradisional atau pakai adat asli khas penghuni Pulau Kalimantan, yakni etnis Dayak. Dan sebagian lagi mengenakan busana ibu-ibu.
Padahal, Presiden Joko Widodo telah menetapkan tanggal 9 Desember sebagai hari libur nasional. Aturan tersebut diberlakukan guna memberi kesempatan yang seluas-luasnya bagi warga negara untuk memberikan hak pilihnya.
Baca: Golput Tinggi karena Warga Pesimistis Tak Selesaikan Masalah ...
Lantaran libur dari pekerjaan, maka warga bisa dengan leluasa pergi ke TPS terdekat agar tak ada alasan lagi pegawai sibuk bekerja sehingga tak sempat menggunakan hak pilih.
Tapi kenyataan di lapangan, angka pemilih yang tidak menyalurkan hak suaranya terbilang tinggi. Lebih tinggi ketimbang saat Pilpres lalu.
Padahal, dengan percaya diri, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menargetkan angka partisipasi pemilih Pilkada serentak 2015 sebesar 77,5 persen. Bukan tanpa sebab KPU mematok angka tinggi lantaran pada Pilpres lalu, antusiasme publik sangat tinggi.
Hanya saja kali ini, di hampir seluruh daerah yang melaksanakan Pilkada, partisipasi pemilih tak sampai 70 persen. Rata-rata hanya 50-60 persen. Itu berarti angka warga yang tidak menggunakan hak pilih mencapai lebih dari 40 persen.
Menurut Masykurudin Hafidz, Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), target KPU dinilai terlalu tinggi. Berdasarkan hasil penelusuran JPPR angka partisipasi pemilih yang tinggi hanya terjadi di daerah yang mendapakan sorotan seperti Surabaya, Depok, Tangerang Selatan, Semarang, dan Palu.

TRIBUN KALTIM/ARIDJWANA -- Seorang warga mendatangi TPS untuk memberikan hak suaranya di Pilkada Balikpapan, Rabu (9/12/2015).
Baca: Jangan Golput, Presiden Putuskan Pilkada Serentak 9 Desember ...
Bagaimana dengan di Kaltim sendiri? Di Samarinda, dari hasil quick count, angka golput mencapai lebih dari 50 persen. Padahal menurut Ramaon Saragih, sebagai penyelenggara, KPU Samarinda menaruh harapan partisipasi pemilih tinggi. Nyatanya, hasil di lapangan tidak sesuai harapan. Bahkan dibanding Pilwali pada 2010 lalu, angka golput naik 10 persen.
Begitu juga di daerah-daerah lain di Kaltim dan Kaltara. Rata-rata, angka golput mencapai 40 persen!
Istilah golput selalu mengemuka pada setiap pelaksanaan Pemilihan Umum, baik itu Pilwali/Pilbup, Pilgub, Pileg, juga Pilpres.
Golput adalah singkatan dari golongan putih. Makna inti dari kata golput adalah tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu dengan berbagai alasan. Fenomena golput sudah terjadi sejak diselenggarakan pemilu pertama tahun 1955, akibat ketidaktahuan atau kurangnya informasi tentang penyelenggaraan pemilu. Biasanya mereka tidak datang ke tempat pemungutan suara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/relawan-antigolput_20151020_104945.jpg)