Berita Pemkab Kutai Timur
Balitbang Ajak Stakeholder Kembangkan Rekayasa Alat TTG
Kemudian dalam proses pembakaran yang menghasilkan api tersebut, juga didapat cairan yang dapat digunakan sebagai pupuk.
TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) terus menjajaki kerja sama positif dengan berbagai stakeholder untuk mengembangkan teknologi yang dapat direkomendasikan kepada pemerintah untuk kemajuan daerah.
Terbaru, Balitbang bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (Stiper) Kutim mengembangkan dua alat rekayasa berupa penjernih air dan reaktor alumunium foil. Alat pertama untuk menghasilkan air dengan kualitas yang baik, sedangkan alat kedua merupakan alat penghasil gas.
Usai Rapat Koordinasi Balitbangda beberapa waktu yang lalu, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, didampingi Kepala Balitbangda Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Prof DR Dwi Nugroho Hidayato, Kepala Balitbang Kutim Zubair, bersama sejumlah Pimpinan SKPD, FKPD dilingkungan Pemkab Kutim melihat langsung proses kerja alat tersebut di Kantor Balitbang.
Joko Prisdiantoro mewakili Ketua Peniliti Dani Arianto dan Beni Kurniawan, mejelaskan bahwa alat penjernih air sebenarnya sudah ada. Untuk itu alat tersebut dinamai alat rekayasa penjernih air. Alat temuan terbaru tersebut menggunakan penyaring untuk menjernihkan, berupa herbal yaitu biji daun kelor.
(Baca juga: SMK Kelautan Cetak SDM Kemaritiman yang Handal)
Sistem kerjanya sangat mudah dan murah. Diawal ditebarkan biji kelor ke penampung air seperti di dalam tandon dengan kuantitas sesuai dengan ukuran bak atau tendon. Minimal dua sendok makan atau lebih tergantung dengan kualitas air baku.
"Lalu kita buat tiga tabung penyaring dibawah tendon. Pada tabung pertama kita isi pasir kuarsa yang berfungsi untuk filtrasi,” jelas Joko kepada Bupati dan pejabat Pemkab Kutim lainnya.
Kemudian pada tabung kedua dimasukkan arang aktif yang berfungsi untuk mereduksi FE, bau dari air, kandungan mangan. Pada tambung ketiga diberi batuan alam atau yang lebih dikenal ziolit yang menjadi salinitas, mengikat logam-logam berbahaya.
Ketiga alat tersebut dapat dengan mudah didapat ditoko pupuk atau toko-toko tanaman dan pertanian sekitar rumah dengan harga yang cukup terjangkau.
Joko menambahkan, penilitian seperti ini dapat terus dikembang jika didukung dengan pendanaan yang memadai. Tentunya hasilnya pun akan lebih sempurna. Pihaknya berharap alat-alat tersebut dapat diadopsi di masyarakat.
Kepala Balitbang Kutim, Zubair, pada kesempatan tersebut menjelaskan fungsi dari alat reaktor alumunium foil. Alat dimaksud menurut dia mempunyai kegunaan yakni menghasilkan api layaknya gas LPG (liquefied petroleum gas), namun dengan bahan baku berupa sampah.
“Seperti sampah yang mengandung alumunium foil antara lain kemasan susu, bungkus snack dan sejenisnya. Melalui proses pembakaran dihasilkan api yang dapat digunakan memasak dirumah,” katanya.
Kemudian dalam proses pembakaran yang menghasilkan api tersebut, juga didapat cairan yang dapat digunakan sebagai pupuk.
Sebelumnya Bupati Ardiansyah Sulaiman saat rakor mengatakan bahwa kelitbangan memiliki fungsi yang bersifat universal. Sumber pengembangannya bisa dari ide hangat para mahasiswa. Begitu juga ide-ide cemerlang dari masyarakat yang dapat dikelola Balitbang.
Dengan ide-ide tersebut, melalui Litbang akan mampu diproduksi rekayasa alat yang bersifat aplikatif. Terutama teknologi tepat guna (TTG) agar dapat dipakai di zona tertentu di Kutim ini.
"Saya rasa peluang dan kesempatan itu dapat diraih melalui Litbang. Tentunya sesuai dengan arah kebijakan pemerintah daerah untuk segera mewarnai kegiatan infrastuktur kita,” sebut mantan Wakil DPRD Kutim ini. (*hms7/adv)
***
Follow @tribunkaltim Tonton Video Youtube TribunKaltim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ttg_20151215_212626.jpg)
