Tanggul Jebol Kedengaran Seperti Gemuruh Tsunami, Satu Orang Tewas
Hujan deras yang mengguyur Kota Samarinda menimbulkan bencana bagi warga Loa Bakung, Sungai Kunjang.
Penulis: Christoper Desmawangga |
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Hujan deras yang mengguyur Kota Samarinda menimbulkan bencana bagi warga Loa Bakung, Sungai Kunjang.
Selain banjir, hujan lebat disertai angin kencang membuat tanggul penahan air dari aliran air bekas lubang tambang jebol. Dua bangunan rumah warga hanyut.
Tak hanya meratakan bangunan rumah, sejumlah kendaraan bermotor terendam dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 02.00 Wita, Kamis (17/12/2015).
Tragisnya lagi, kejadian tersebut juga mengakibatkan meninggalnya Siti Aminah (60) dan beberapa orang luka-luka.
Amik Bahar (36), kakinya terkena aliran listrik. Korban lainnya trauma setelah rumahnya diterjanya banjir, antara lain Amin (65), Hadi (35), Sugiyono (40), Misnan (20) dan 2 anak kecil.
Baca: Dua Korban Lubang Tambang Ini Ternyata Bertetangga
Rumah yang diterjang air bah terseret hingga sekitar 75 meter, sedangkan jarak tanggul dengan kawasan pemukiman berjarak sekitar 300 meter.
Korban merupakan satu keluarga, terdiri dari dua kepala keluarga. Korban meninggal Siti Aminah merupakan istri dari Amin, memiliki 8 anak, ikut menjadi korban tanggul jebol tersebut, yakni Amik Bahar, Hadi dan Misnan. Sedangkan Sugiyono merupakan suami Amik Bahar.
Hamrani (55), warga rumahnya ikut diterjang air bah, mengaku kejadian banjir begitu cepat.

TRIBUNKALTIM/NEVRIANTO HP -- Tanggul parit jebol hantam rumah warga Kampung Pal Besi Loa Bakung RT 52.
"Suara gemuruh yang saya dengar itu, seperti tsunami. Saat itu hujan sudah tidak terlalu lebat, saat rumah bu Siti hanyut, saya masih sempat lihat, tapi belum berani selamatkan keluarga bu Siti, karena air masih sangat deras," tuturnya.
Penuturan Amik Bahar, kejadian berlangsung cepat, hanya sekitar 15 menit namun efeknya sangat besar terhadap tempat tinggal mereka. Saat kejadian, seluruh anggota keluarganya sedang tertidur lelap. Dia sempat bangun saat mendengar suara gemuruh dari belakang rumah. Semua keluarga bergegas menyelamatkan diri. Derasnya air membuat korban sempat hanyut beberapa meter dari rumah.
"Saya sama suami saya tersangkut di pohon, yang lainnya manjat pagar tembok yang berada di samping rumah. Sedangkan tembok yang berada di belakang rumah ambruk menimpa rumah," tuturnya.
Amik sempat melihat pengorbanan ibunya menyelamatkan ayahnya dari bencana itu. Kondisi ayahnya yang sedang sakit tidak bisa berjalan, membuat ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai penjual sayur nekat melindungi ayahnya. "Saat kejadian itu, Ibu saya berada di depan melindungi ayah saya terkena serpihan puing," ujar Amik.
Baca: Mungkinkah Gunakan APBD untuk Tutup Lubang Tambang ...
Berkat penyelamatan ibunya Siti Aminah, ayahnya selamat, Namun naas bagi ibunya, perut Siti Aminah tertusuk seng rumah, hingga menyebabkan isi perut ibunya tersebut terhambur keluar.
"Ibu saya sempat terjepit saat selamatkan ayah. Perutnya tertusuk seng, isi perut ibu saya berhamburan keluar," ungkapnya sambil terisak tangis.
Siti Aminah sempat dilarikan ke Rumah Sakit IA Moies untuk mendapat pertolongan, namun nyawanya tak terselamatkan sesampainya di rumah sakit.
Korban langsung dibawa ke rumah duka di Jl Sukun, RT 25, Desa Loa Duri, Kutai Kartanegara. Pukul 15.30 wita, korban akhirnya dikebumikan di tempat pemakaman umum dekat rumah.

TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP -- Tanggul parit jebol hantam rumah warga Kampung Pal Besi Loa Bakung RT 52.
Sekitar pukul 07.00 wita, sejumlah bantuan relawan, kepolisian hingga anggota TNI mulai berdatangan ke lokasi kejadian melakukan pembersihan.
Tanggul Tambang
Jebolnya tanggul yang mengakibatkan korban jiwa di Jl Pal Besi RT 52, Loa Bakung, Sungai Kunjang, hingga saat ini belum ada kejelasan tentang siapa yang membangun tanggul tersebut, tanpa membuat aliran air. Bahkan, tanggul tersebut hanya dibuat menumpuk tanah, tanpa ada beton maupun penyangga yang kokoh agar tanggul tidak mudah jebol.
Setelah ditelusuri kepemilikan tanggul tersebut, ternyata lahan tersebut telah berganti kepemilikan. Awalnya lahan tanggul tersebut merupakan milik perusahaan tambang batu bara PT TES yang dikelola sub kontraktornya, PT SPG, lalu lahan menjadi milik Zulkifli (70). Tanggul itu baru sekitar 3 bulan terakhir dibangun, karena setiap kali hujan turun, sekitar pemukiman warga selalu digenangi oleh air alias banjir.
Zulkifli berinisiatif membangun tanggul agar tidak lagi terjadi banjir, bahkan di sekitar lahan tanggul tersebut merupakan tanah kavlingan dengan luas mencapai 9.000 perkan.
"Awalnya lahan tanggul ini milik Transisi, tapi tidak terpakai lagi untuk pertambangan, lalu saya ambil alih lahan ini, dengan surat-surat yang lengkap. Saya buat tanggul, karena sering banjir di bawah," ungkapnya, Kamis (17/12/2015).
Setelah selesai membuat tanggul tersebut, Zulkifli berkoordinasi dengan pihak PT TES untuk dibuatkan aliran air, namun hingga kejadian tersebut terjadi, aliran air yang diminta tidak kunjung dibuatkan.
Baca: Jatam Sebut Kaltim Darurat Anak Korban Lubang Tambang
Kapolsekta Sungai Kunjang, Kompo Siswantoro mengungkapkan, pihaknya akan menyelidikan penyebab jebolnya tanggul tersebut. Polisi segera memanggil pihak-pihak yang terkait.
"Kami sudah lakukan pengecekan langsung ke TKP, kami juga sudah minta beberapa keterangan saksi, termasuk pemilik lahan," tutupnya. (*)
***
Follow @tribunkaltim Tonton Video Youtube TribunKaltim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rumah-siti-jebol_20151218_125613.jpg)
