Kontroversi Organisasi Gafatar
Usir Kejenuhan di Pengungsian, Anak-anak Eks Gafatar Belajar Seni Origami
Para pengungsi, terutama kalangan anak-anak di tempat pengungsian mengisi waktu dengan belajar sambil bermain.
Penulis: Budi Susilo |
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR – Sudah hampir seminggu, warga eks para pengikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) wilayah Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, bertempat tinggal di pengungsian Balai Diklat Bulungan.
Para pengungsi, terutama kalangan anak-anak di tempat pengungsian mengisi waktu dengan belajar sambil bermain.
Selama di Desa Pejalin Kecamatan Tanjung Palas Kabupaten Bulungan, hingga di tempat pengungsian, mereka ini tidak bersekolah formal.
Pada Sabtu (6/2/2016) pagi, sebanyak puluhan anak-anak bekas pengikut organisasi Gafatar mengikuti kegiatan belajar keterampilan seni menggambar dan melipat kertas (origami) warna di pengungsian.
Hal itu terpantau Tribunkaltim, anak-anak berusia empat sampai enam tahun ikut belajar membuat prakarya seni, yang dilangsungkan di mushala Gedung Balai Diklat Kabupaten Bulungan, Jalan Agatis, Tanjung Selor, Provinsi Kalimantan Utara.
Satu di antaranya, Abraham, bocah berumur enam tahun ini mengikuti belajar, mengisi lembar jawaban yang berisikan gambar-gambar bidang.
Gambar-gambar yang ada di kertas ini nantinya dipotong-potong untuk ditempelkan lagi di sebuah pola gambar.
Baca: Ratusan Warga Eks Gafatar Kembali Dipulangkan, Ini Jadwal Gelombang Selanjutnya
“Ini bentuk segitiga. Yang ini bujur sangkar,” ujarnya menunjukkan hasil karyanya kepada Tribunkaltim.co, yang juga didampingi seorang guru PAUD Pelita Madani, Tanjung Selor.
Keceriaan anak-anak tampak diraut wajah mereka. Kegiatan belajar itu memberikan rasa bahagia. Anak-anak terhanyut mengikuti kegiatan belajar, tidak ada yang rewel, semua anak terlibat dalam pembuatan karya seni.
Saat ditemui, Tati Hartati, guru PAUD Pelita Madani, tujuan digelarnya pendidikan ini untuk menumbuhkan kreativitas anak-anak. Sajian belajarnya mengenal bentuk-bentuk gambar dan meliat kertas. Jari-jari tangan bisa bergerak, anak-anak bisa belajar sambil bermain.
“Semoga mereka tidak jenuh. Bisa menghilangkan kebosanan. Sudah hampir seminggu tinggal di tempat pengungsian, tidak pergi kemana-mana. Belajar disini, mereka bisa mendapat kebahagiaan,” kata Tati, yang lahir di Salimbatu 24 Juni 1979 ini.
Dia mengajar di tempat itu hanya bertugas saja, memberikan pelayanan pengajaran bagi anak-anak. Tati tidak tahu persis mengenai keberadaan nasib para mantan pengikut Gafatar ini.
“Saya tidak tahu, mereka akan pulang ke kampung halamannya kapan,” ujarnya, yang menggunakan jilbab coklat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/anak-anak-eks-gafatar4_20160206_175406.jpg)
