Kontroversi Organisasi Gafatar

Alhamdulillah, Bayi Ini Lahir Selamat di Tempat Pengungsian Gafatar

ada empat poin yang bakal melemahkan KPK. Antara lain, pembentukan dewan pengawas, penghentian penyidikan dan penuntutan, kewenangan penyadapan

Penulis: Budi Susilo |
TRIBUNKALTIM.CO/BUDI SUSILO
Chatira bersama putrinya yang baru saja lahir diberi nama Popon Zelina yang kini untuk sementara menguhuni di tempat pengungsian eks Gafatar di Balai Diklat Bulungan, Jalan Agatis, Selasa (16/2/2016) siang. 

Laporan wartawan TribunKaltim.co, Budi Susilo

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR – Sudah hampir sebulan, ratusan orang bekas pengikut organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) menghuni tempat pengungsian di Balai Diklat, Jalan Agatis, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Kepastian para eks Gafatar Bulungan dipulangkan ke kampung halaman belum ada titik terang, pemerintah daerah baik Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi masih sibuk merancang bagaimana caranya untuk melakukan pemulangan.

Di tengah menunggu kepastian pemulangan pengungsi eks Gafatar, di antara mereka ada seorang perempuan yang hamil, kemudian sukses melahirkan di dalam kondisi evakuasi. 

Wanita yang dimaksud ialah Chatira, 25 tahun, yang sukses melahirkan anaknya yang ketiga.

Ditempat pengungsian, Chatira merasa bahagia karena anak ketiganya lahir dengan selamat dan normal sekitar seminggu yang lalu.

Wanita yang merupakan satu di antara bekas pengikut Gafatar ini mendapatkan rasa nyaman di gedung Balai Diklat Kabupaten Bulungan, Jalan Agatis.

BACA JUGA: Irianto Tolak Opsi Mentransmigrasikan Warga Eks Gafatar di Wilayahnya

Saat ditemui pada Minggu (14/2/2016), Chatira mengungkapkan, bayi yang dilahirkannya diberi nama Popon Zelina dengan panjang tubuh 51 centimeter dan berat badan 3,2 ons berjenis kelamin perempuan.

“Keluarnya jam sembilan malam lewat delapan menit. Di antar pakai ambulans dari pemerintah daerah. Awalnya sakit sekali, tapi setelah lahir rasanya senang bisa dapat anak yang sehat,” tuturnya.

Chatira mengungkapkan, selama masa kandungan hamil tua hingga proses persalinan, dirinya mendapat pelayanan yang memuaskan.

“Dari beribadah hingga biaya persalinan semuanya ditanggung. Saya senang semuanya ditanggung sama pemerintah daerah. Tidak sampai keluarkan biaya sepeserpun,” ujar wanita berambut keriting ini.

BACA JUGA: Warga Eks Gafatar Merasa Diusir Paksa

Tempat tinggalnya yang kini berada di lokasi pengungsian, dirinya bersama bayinya, tidur di sebuah ruangan besar bersama pengungsi yang lainnya. Tidur di lantai keramik beralaskan kasur busa.

“Tidur disini saja. Sampai sekarang masih sehat-sehat saja,” kata Chariah.

Anaknya diberi nama Popon menurut suami Chatira, artinya adalah perempuan cantik. Kata ini diambil dari bahasa sunda, Jawa Barat. Pemberian nama dianggap sebagai doa, menjadi anak yang cantik, baik fisik maupun tingkah lakunya.

“Saya sangat bersyukur pada Allah anak saya terlahir dengan normal, sehat. Saya ingin anak saya bisa menjadi orang yang nasibnya lebih baik dari orangtuanya. Saya tidak akan memaksakan mau jadi apa, itu nanti saya bebaskan ke anak saya,” tutur Hartono, suami dari Chatira.

Dia kini sudah pasrah, mengikuti petunjuk dari pemerintah kabupaten. Apabila nanti kebijakannya dipulangkan, dirinya dan keluarga intinya siap saja. Sebab sebelum merantau di Tanjung Selor, Hartono bekerja sebagai buruh supir di sebuah perusahaan swasta di Kota Jakarta.

"Saya merantau tadinya ingin mengubah nasib. Saya sudah bosan menjadi sopir sudah tujuh tahun. Nanti kalau disuruh pulang lagi ke Jawa Barat, saya masih mau mencari-cari pekerjaan lain,” ujar pria berumur 48 tahun ini. (*)

***

Seru, berinteraksi dengan 75 ribu netizen?

Like fan page  fb TribunKaltim.co, Follow  twitter@tribunkaltim dan tonton Video Youtube TribunKaltim


Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved