Salam Tribun
Dari Rasa untuk Asa
Bagaimana tidak, dulunya mereka berpenghasilan puluhan juta rupiah per bulan tiba-tiba kini tak lagi memiliki penghasilan tetap.
MENYUSURI Kota Balikpapan di malam hari, kini tak lagi lengang. Di sepanjang jalan raya, jalan utama lingkungan, maupun masuk ke permukiman, banyak terdapat warung, lapak, kios, atau sekadar gerobak yang menjual makanan.
Ya bisnis kuliner kini memang tengah diminati orang sebagai lahan usaha baru. Mulai dari angkringan, pujasera, hingga resto berkelas. Tetapi tentu saja yang terbanyak adalah lapak-lapak kecil yang tumbuh bagai cendawan di musim hujan.
Para pelaku bisnis kuliner ini kebanyakan adalah para pekerja yang merupakan korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari perusahaan-perusahaan di penjuru Kalimantan. Sebagian besar adalah perusahaan tambang batu bara yang kolaps akibat tidak lagi beroperasi.
Baca: Puluhan Ribu Orang Kena PHK, Kini Supervisor Migas pun Jualan Air
Ribuan pekerja yang tadinya memiliki penghidupan layak bahkan sangat sejahtera berbalik 180 derajat. Gaya hidup terpaksa diubah. Perlu manuver hitung-hitungan ekonomi di atas kertas agar dapur tetap ngebul.

TRIBUN KALTIM/TRINILO UMARDINI -- Banyaknya korban PHK di sejumlah perusahaan, membuat bisnis kuliner marak di Balikpapan. Satu di antaranya Pujasera 'Djanggo' yang terletak di depan SD-SMP Advent, kawasan Gunung Pasir. Di pujasera ini berbagai jenis kuliner dijual seperti siomay, pempek, nasi goreng, bubur ayam, dan lain-lain.
Bagaimana tidak, dulunya mereka berpenghasilan puluhan juta rupiah per bulan tiba-tiba kini tak lagi memiliki penghasilan tetap. Banyak yang stres, merasa tak kuat menghadapi gerobak kehidupan yang seolah jungkir balik.
Tadinya begitu mudah membeli ini itu, kini harus mikir seribu kali membayar cicilan rumah, kendaraan, biaya sekolah anak, air, listrik, dan kebutuhan dapur.
Tak sedikit dari mereka yang akhirnya terpaksa menjual satu per satu harta berharga seperti rumah dan mobil untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tak mungkin berhenti. Ungkapan klise, seperti roda yang berputar, begitulah kehidupan para korban PHK itu.
Namun dari keterpaksaan, rasa terdesak, membuat mereka kreatif. Berpikir bagaimana caranya menghidupi keluarga dengan cara yang paling mudah dan modal yang tak terlalu besar. Bisnis kuliner, jadi solusi yang dilakukan.
Tak perlu memiliki keahlian rumit. Bisa memasak – hal yang hampir bisa dilakukan semua ibu rumah tangga, singkirkan rasa gengsi, dan modal nekat. Beberapa pebisnis kuliner dadakan ini akhirnya memang ada juga yang sukses. Yang penting bisa bertahan hidup dulu dengan keadaan sekarang.

Baca: Di Kabupaten Terkaya Ini, 31 Ribu Orang Menganggur Kena PHK
Timbulnya fenomena pelaku usaha dadakan, baik itu kuliner maupun kerajinan ternyata juga mendapat perhatian dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kaltim.
BPD Kaltim atau Bankaltim menawarkan program Kredit 4 Sejahtera dengan ketersediaan dana total Rp 500 miliar dipatok suku bunga ringan, 9 persen. Angka ini terpangkas 5 persen, dari sebelumnya 14 persen. Kredit 4 Sejahtera setara dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Program Kredit 4 Sejahtera meliputi yaitu Kredit Pangan Sejahtera mencakup usaha di bidang makanan, peternakan, pertanian (hortikultura), dan sawit. Program Kredit 4 Sejahtera berbunga rendah ini diluncurkan untuk mendukung program dalam arti luas yang digagas pemerintahan di Kaltim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/kawasan-wisata-kuliner_20160302_191259.jpg)