Selasa, 7 April 2026

Kecantikan

Mau Lebih Tinggi, Gadis-gadis Ini Rela Lakukan Operasi Berbahaya

Komal melakukan prosedur operasi yang tidak teratur ini dimana tulang kakinya dipatahkan.

AP
Seorang gadis di India melakukan operasi menyakitkan agar kakinya bisa lebih panjang. 

TRIBUNKALTIM.CO, INDIA - Kalangan kaum muda di India sedang gencar melakukan prosedur operasi yang menyakitkan dan berbahaya untuk memanjangkan tulang kaki mereka.

Hal ini diyakini dapat menambah tinggi badan ideal yang diinginkan agar tampil lebih percaya diri.

Komal (24) wanita asal dari Kota, India Barat mengaku mengunjungi Dr Amar Sarin, seorang dokter ahli bedah di Delhi untuk berkonsultasi mengenai operasi plastik yang berisiko tersebut untuk membantunya menjadi lebih tinggi.

Komal melakukan prosedur operasi yang tidak teratur ini dimana tulang kakinya dipatahkan.

Baca: Tak Usah Operasi Plastik, dengan Transfer Lemak Anda Bisa Tampil Lebih Muda

kemudian ia harus terus memakai penjepit yang telah didesain khusus seperti kawat gigi untuk menarik tulang kakinya sampai ia bisa berjalan normal kembali dan melalui proses penjepitan tersebut dapat meninggikan tubuhnya.

Orangtuanya harus membayar biaya yang sangat mahal dan harus menjual tanah untuk membayar seluruh proses operasi.

Namun hasil pasca operasi tersebut sangat memuaskan dan ia sangat senang dengan hasilnya.

"Saya jadi lebih percaya diri sekarang, dulu tinggi badanku hanya 137 cm dan banyak orang yang mengejekku. Selain itu saya juga tidak bisa mendapatkan pekerjaan karena hal tersebut. Malahan adik saya juga ikut melakukan operasi serupa," ujar Komal.

Baca: Menakjubkan, Ibu Ini Menarik Sendiri Bayi dalam Perutnya saat Operasi Caesar

Banyak kalangan anak muda di India yang melakukan operasi plastik untuk meninggikan badan karena dianggap menarik dan dapat mendapatkan pasangan yang baik dan karier pekerjaan yang gemilang.

Namun, yang mengkhawatirkan, proses pemasangan tulang kaki ini merupakan praktik yang berbahaya serta prosedurnya tidak teratur dan seringkali dilakukan oleh ahli bedah yang tidak berpengalaman.

"Operasi ini tidak ada dipelajari di bangku perguruan tinggi, tidak ada pelatihan yang tepat." ungkap dr Sarin, dikutip melalui situs thesun.

Walaupun begitu, hal ini tampaknya tidak menghalangi para pasien berdatangan untuk melakukan operasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved