Milisi Abu Sayyaf
Kisah Empat ABK yang Ditawan Abu Sayyaf, Makan Kelapa Kering agar Bertahan Hidup
Empat WNI tersebut langsung dicek kesehatannya di klinik kesehatan TNI AU. Hasil pemeriksaan, terlihat empat WNI sehat-sehat saja.
Penulis: Junisah |
TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Empat Warga Negara Indonesia (WNI), anak buah kapal TB Henry yang disandera kelompok Abu Sayyaf di pulau terpencil akhirnya dibebaskan.
Jumat (13/5/2016) kemarin, keempatnya tiba di Kota Tarakan menggunakan helikopter Helly Bel sekitar pukul 07.00 Wita di Pangkalan Lanud Tarakan. Mereka didampingi Pangkostrad Letjend Edy Rahmayadi.
Kedatangan 4 ABK TB Henry bersama Pangkostrad Letjend Edy Rahmayadi dan Danguspurlatim Laksamana TNI ING Ariawan disambut Danlanud Tarakan Kol. P Umar Fatuhrohman, Danlatamal XII Tarakan dan Kasdam VI Mulawarman.
Empat WNI tersebut langsung dicek kesehatannya di klinik kesehatan TNI AU. Hasil pemeriksaan, terlihat empat WNI sehat-sehat saja. Tepat pukul 08.30 Wita, Pangkostrad Letjend Edy bersama 4 WNI langsung berangkat ke Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.
Sebelum pesawat bertolak ke Jakarta tiba-tiba saja pintu depan pesawat dibuka kembali.
Baca: Sebelum Disandera Empat ABK Sempat Lawan Kelompok Abu Sayyaf
Petugas yang membawa tangga kembali mendekati pintu depan pesawat. Beberapa anggota TNI AU yang berada di pesawat langsung turun memeriksa mesin pesawat tepat di bawah sayap bagian kiri.
Setelah lima menit memeriksa mesin, anggota TNI AU masuk kembali ke pesawat dan pesawat take off dari Lanud Tarakan.
Saat keberangkatan dari Tarakan ke Jakarta, Pangkostrad tidak ada sesi wawancara dengan wartawan.
Dari gedung Lanud Tarakan menuju ke pesawat, Pangkostrad naik mobil dan dari dalam mobil hanya memberikan senyuman kepada wartawan langsung naik ke dalam pesawat.
Keberadaan Samsir di Lanud Tarakan disambut gembira Saiman, kakak sepupu Samsir.
Saiman yang bekerja sebagai pekerja tambak di Bulungan mendatangi Lanud Tarakan untuk bertemu dengan adiknya. Saiman hampir saja tidak diperbolehkan masuk bertemu dengan Samsir, sampai akhirnya Saiman diperbolehkan masuk.
Saat bertemu Saiman di salah satu gedung di Lanud Tarakan, Samsir yang mengenakan kaos biru langsung memeluk erat Saiman.
Pelukan Samsir disambut hangat oleh Saiman. Melihat Samsir menangis, mata Saiman langsung berkaca-kaca. Pelukan hangat ini berlangsung sekitar dua menit.
Baca: Saiman Akhirnya Bertemu Syamsir, ABK TB Henry yang Sempat Jadi Sandera
Saiman mengatakan, dari cerita Samsir selama berada di hutan kedua tangannya diikat. Bahkan ada seorang temannya sempat ditendang oleh anggota kelompok bersenjata tersebut.
"Sempat cerita juga ada temannya ditendang, tapi Samsir tidak cerita kenapa temannya ditendang, karena saya ini bicara cuma sebentar saja," ucapnya yang bertemu Samsir antara 10 hingga 15 menit saja.
Samsir dan teman-temannya bertahan hidup dengan makanan seadanya. Ia mengaku, selama dalam penyanderan kelompok bersenjata Abu Sayyaf makan kelapa kering.
Bahkan, tidak jarang para tawanan dikasih makanan sisa dari kelompok Abu Sayyaf.
"Kadang kita juga dikasih makanan sisa mereka untuk makan," kata Samsir saat ditemui di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (13/5/2016).
Mereka berempat dikawal sekitar 20 anggota kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Dengan senjata laras panjang, kelompok Abu Sayyaf kerap membawa empat WNI berpindah tempat agar lepas dari bidikan militer Filipina.
"Ada ancaman, kalau tebusan tidak dituruti kami dikasih lihat video kami akan digorok seperti ini," tutur Samsir yang mengaku diperlihatkan rekaman video saat kelompok Abu Sayyaf mengeksekusi mati sandera.
Ia menjelaskan, para tawanan juga sempat beberapa kali mendapat tendangan.
Laurens Petrus, seorang WNI pernah ditendang penyandera lantaran dianggap lambat saat berpindah lokasi persembunyian.
Trauma
Mochammad Arianto Misnan, ABK berusia 23 tahun pun mengaku trauma usai menjadi sandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf.
Saat ditemui Tribun, Rian -sapaan Arianto- menatap kosong. Bahkan, Ia irit berbicara meski telah bebas dari kelompok bersenjata Abu Sayyaf.
"Yah kami sebagai pelaut, kami tidak bisa mengatakan apa-apa dulu, soalnya kami masih dalam keadaan trauma. Maaf kami belum bisa jawab banyak," kata Rian usai upacara serah terima.
Rian merupakan satu dari empat ABK kapal TB Henry yang kapalnya dibajak dan diculik kelompok Abu Sayyaf saat perjalanan di perairan perbatasan Malaysia-Filipina sejak 15 April 2016.
Enam ABK lainnya yang tidak disandera Abu Sayyaf telah dipulangkan ke Tanah Air sebelumnya. Keempat ABK baru berhasil dibebaskan, Rabu (11/5/2016) kemarin.
Menurut Rian, trauma dialami dirinya dan ketiga rekannya karena sejumlah intimidasi dari kelompok penyandera selama disandera di hutan sebuah pulau di Filipina.
Terlepas masih adanya rasa trauma dalam dirinya, Rian mengaku bersyukur saat ini sudah bisa kembali ke Tanah Air dan berkumpul dengan keluarga di Bekasi, Jawa Barat.
"Saya Alhamdulillah. Saya banyak-banyak mengucapkan rasa syukur kepada pemerintah Indonesia, Bapak Presiden, Bu Menteri Luar Negeri, Panglima TNI dan bapak-bapak prajurit yang tiada capek mengurus kami yang disandera," ucapnya lirih.
Setelah upacara serah terima keempat WNI dari Kemenlu, Rian menyambangi ibundanya, Melati Ginting (52). Ia mencium tangan dan memeluk ibundanya.
Ucapan syukur pun tidak henti-hentinya keluar dari mulut Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi.
Saat menjemput para sandera di Lanud Halim Perdanakusuma serta saat penyerahan, Retno selalu mengucapkan dirinya sangat berterimakasih kepada seluruh pihak yang membantu.
Dalam sambutannya, Retno juga mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi warga negara Indonesia yang menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf.
"Selesai sudah semua. Alhamdulillah semua WNI sudah pulang dengan selamat," ucap Retno.
Dia menjelaskan total 10 orang ABK dari kapal TB Henry dan kapal tongkang Cristy telah sampai di Indonesia. Dia menjelaskan satu orang sandera yang tertembak juga sudah dipulangkan pada 11 Mei 2016 lalu melalui Kuala Lumpur dari Tawau setelah menjalani pengobatan.
Diketahui, setibanya di Landasan Udara Halim Perdanakusuma pada pukul 10.20 WIB, keempat sandera sempat melambaikan tangan kepada kamera media yang sedang meliput.
Para sandera disambut Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, Panglima TNI, Jendral TNI Gatot Nurmantyo dan pejabat TNI lainnya.
Dalam rombongan, terlihat juga Pangkostrad TNI AD, Letjend TNI Edy Rahmayadi yang ikut turun bersama para sandera.
Keempatnya diidentifikasi bernama Moch Ariyanto Misnan, Lorens M.P.S, Dede Irfan Hilmi, dan Syamsir yang diculik di perairan Tawi-Tawi pada 15 April 2016 lalu.
Helida Sagita, istri dari ABK TB Henry, Mochammad Arianto Misnan tak kuasa menahan air mata saat berjumpa suami.
Menggendong seorang bayi, Helida berkali-kali mengusap air mata yang jatuh di pipi.
Begitu juga dengan Anom yang merupakan ayah dari ABK Dede Ifan Hilmi. Anom sempat terlihat mengusap matanya. (*)
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/sandera-wni-abk-tb-henry_20160514_173021.jpg)