Penutupan Lokalisasi
Lokalisasi Disulap Jadi Pesantren, Menteri Khofifah Minta Masyarakat Ikut Andil
Namun, saat ditanya hukuman yang terima bagi para hidung belang atau pengguna jasa prostitusi ini, Khofifah tak menjawab.
Penulis: tribunkaltim | Editor: Amalia Husnul A
Laporan wartawan Tribun Kaltim, Rahmat Taufik, Siti Zubaidah, Amanda Liony
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa disaksikan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Ketua DPRD Kaltim dan sejumlah Muspida resmi menutup lokalisasi se-Kaltim.
"Ramadhan ini akan dilakukan penutupan beberapa lokalisasi di Tangerang. Di sana ada sekitar 600 penghuninya. Kaltim ini catatan dari Dinas Sosial ada 1.315, lokalisasinya banyak, tapi penghuninya sedikit, hanya sekitar 20 orang. Jadi titiknya banyak, tapi penghuninya tidak banyak seperti di Jawa Barat," kata Khofifah.
Khofifah menyebutkan, Kementerian Sosial memiliki Panti Sosial Karya Wanita (PSKW), yang mana bisa digunakan untuk tempat berkumpul sekitar 150 sampai 600 orang, nanti dilakukan pendampingan sesuai dengan kebutuhan lokal.
Pendampingan dilakukan selama enam bulan, dan profesional trainning.
BACA JUGA: Hari Terakhir di Lokalisasi Bayur, PSK Masih Sempat Layani 4 Tamu
"Antisipasi menyebar seharusnya masyarakat harus melakukan hantam rata. Sebetulnya ini dari sisi keamanan masyarakat juga, setiap lokalisasi kita melihat ada eksploitasi, ada kekerasan, dan ada perdagangan orang. Bukankah kita ini menolak perdagangan orang, dan kekerasan," kata Khofifah.
Untuk bantuan yang diterima para PSK, Khofifah menyebut PSK akan mendapatkan Rp 5.050.000. Dana itu untuk jamunan hidup dan transpor.
Kalau mereka ingin kembali ke kampung halaman, Pemprov yang akan menyediakan ke kampung halaman. Namun, saat ditanya hukuman yang terima bagi para hidung belang atau pengguna jasa prostitusi ini, Khofifah tak menjawab.
Pasca penutupan lokalisasi, Pemkot Samarinda berencana mendirikan sekolah pesantren di eks lokalisasi Bayur, Jl Padat Karya, Sempaja Utara, dan disepakati warga sekitar yang ditinggal di lokalisasi Bayur.
BACA JUGA: Lagu Jangan Menyerah yang Mengiringi Penutupan Lokalisasi Membuat Suasana Haru
Bangunan di lokalisasi nantinya akan dibongkar, dan didirikan pesantren. Hal itu sama dengan Kantor Balai Kota Samarinda saat ini, yang dulunya adalah lokalisasi pintu lima.
Selain itu, Kampus Biru Widyagama dulunya adalah tempat prostitusi banyu biru. Hal tersebut disampaikan Nusyirwan Ismail, Wakil Walikota Samarinda saat penutupan lokalisasi yang dihadiri Menteri Sosial Republik Indonesia Khofifah Indar Parawansa, Rabu (1/6/2016)
"Lahan lokalisasi ini milik Pemerintah Kota Samarinda, luasnya kurang lebih 2 Ha. Nantinya setelah penutupan lokalisasi ini, bisa dijadikan Panti Asuhan, dan Pasantren, nantinya akan didirikan Masjid di sini (lokalisasi)," kata Nusyirwan disambut dengan tepuk tangan para tamu.
Ia menyebutkan, mudah-mudahan langkah yang pas pada penutupan ini akan dikembangkan, sehingga bisa menjadi sentra industri kecil. Bisa juga menjadi pusat-pusat ketrampilan lainnya, yang mengajak perubahan ke hal yang lebih produktif.
BACA JUGA: BREAKING NEWS - Gunakan Beberapa Mobil dan Truk, Satpol PP Susuri Sejumlah Lokalisasi
Sehingga semua bisa terbebas dari praktek-praktek, dan kehidupan mereka (wanita tuna susila) menjadi baik.
"Nanti semua alternatif itu akan dikaji, mana yang terbaik, ada beberapa opsi. Yang jelas lokalisasi yang ditutup ini kan ada manfaat untuk kemaslahatan. Bisa juga menjadi pusat kuliner, nanti kita pikirkan, jelas setelag dihapus kesan lokasi ini bermanfaat," ujar Nusyirwan.
Ia menyakinkan, mulai malam ini dipastikan tidak ada lagi kegiatan di lokalisasi ini.
"Kan nanti ada uang yang diberikan, hal itu juga sejalan dengan pelatihannya. Saya rasa kan ini berhenti lebih dahulu, dan menjadi perhatian penting bagi Pemerintah, kalau sudah berhenti malam ini ya berhenti, kan sudah ada plang ditutup," kata Nusyirwan.
Terpenting, lanjutnya, bukan hanya mengamankan pelaku yang ada di dalamnya, tapi pelaku yang suka belanja itu, yang perlu ditindaklanjuti. "Sehingga ada hukum sosial, kalau perlu wartawan foto, jadi bisa tahu," tutur Nusyirwan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/tribun-kaltim-edisi-02062016_20160602_201005.jpg)