Kolom Rehat
Adil Sejak Dalam Kalam
Yang saya tahu dari M Quraish Syihab, kata 'adil' dalam berbagai bentuknya terulang 28 kali dalam Al Quran. Tema dan konteksnya beragam
oleh: ARIF ER RACHMAN
SEORANG teman menulis status di Facebook tentang 'berbuat adil' dengan mengutip Pramoedya Ananta Toer. Kutipan itu sangat terkenal, bahkan melebihi novelnya, Bumi Manusia, tempat kutipan itu berasal. "Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan ..," kata seorang tokoh di novel yang merupakan bagian pertama dari Tetralogi Buru itu.
Istilah 'adil sejak dalam pikiran' dari sastrawan terkemuka itu sering dikutip orang untuk menganjurkan sikap adil. Selain itu, bisa juga menunjukkan bahwa si pengutip adalah orang terpelajar dengan wawasan luas. Menunjukkan status.
Mungkin sekali akan terlihat keren dan berwawasan ketika kita merujuk kalimat dari mendiang sastrawan Indonesia yang selalu digadang-gadang dapat Nobel Sastra itu saat berbicara tentang keadilan.
Benar kita harus adil sejak dalam pikiran, without prejudice atau tanpa prasangka. Tapi sebenarnya sangat amat jauh sebelum novel yang terbit pertama kali pada 1980 itu, kalam-kalam Tuhan yang maktub dalam Al Quran, kitab suci yang laa rayba fih (tiada keraguan padanya), sudah memaparkan tentang konsep keadilan.
baca juga : Bernard Shaw dan Komunisme
Seperti kita tahu ajaran Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat yang menyelamatkan dan membawa rahmat pada seluruh alam (rahmatan lil alamin). Untuk itu, Islam meletakkan ajaran adil sebagai salah satu di antara nilai nilai kemanusiaan yang asasi dan dijadikan sebagai pilar kehidupan pribadi, rumah tangga, dan masyarakat.
Untuk itulah kemudian para Rasul dan Nabi diutus: menegakkan dan mewujudkan keadilan di muka bumi.
Yang saya tahu dari M Quraish Syihab, kata 'adil' dalam berbagai bentuknya terulang 28 kali dalam Al Quran. Tema dan konteksnya beragam. Salah satunya menyebutkan bahwa Allah sangat mencintai orang orang yang berlaku adil.
Secara pribadi, kutipan kalam Allah dalam Al Quran tentang 'adil' yang paling saya sukai adalah bagian dari ayat ke-8 Surah Al Maidah yang terjemahannya kurang lebih begini: "... Dan janganlah sekali kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa..."
Saya suka sekali ayat ini karena langsung memberikan contoh dalam tataran aplikatif. Kita harus tetap adil bahkan pada orang yang tidak kita sukai. Dari ayat tersebut dapat ditafsirkan bahwa kita boleh saja membenci tapi kita sama-sekali tidak boleh tidak adil dalam perbuatan.
Dari apa yang saya baca maupun dari pernyataan-pernyataan Pram sendiri di media semasa dia hidup, saya berkesimpulan bahwa saya tidak suka dengan sastrawan Lekra -- lembaga kebudayaan di bawah naungan PKI -- tersebut. Saya bahkan menganggapnya justru sebagai orang yang 'tidak adil sejak dalam pikiran" dan penuh syak wasangka dan kemarahan, terutama pada sosok haji dan ulama. Setidaknya begitu yang saya lihat dalam cerpen-cerpen lama Pram yang ditulisnya sebelum novel Bumi Manusia.
Meski begitu, ketidaksukaan pada Pram tidak menghalangi saya untuk membeli dan membaca buku-bukunya. Koleksi buku-buku Pram termasuk yang paling banyak saya miliki.
baca juga : Panama, Van Halen, dan Panama Papers
sama banyak dengan koleksi buku-buku Umar Kayam, Rendra, Goenawan Mohamad, dan Emha Ainun Nadjib. Saya menganggap tulisan-tulisan Pram sangat sukar dicarikan tangdingannya. Semoga apa yang saya lakukan ini dapat dikategorikan sebagai adil.
Ayat lain tentang adil dalam Al Quran yang selalu saya ingat -- karena selalu dibacakan oleh khatib dalam setiap khotbah shalat Jumat -- adalah Surah An-Nahl ayat 90.
Tafsiran ayat itu kurang-lebih seperti ini: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi/saling menolong pada kerabat/sesama, dan mencegah diri dari perbuatan keji, kemunkaran, dan permusuhan. Demikian diajarkan kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Ayat itu sebenarnya merupakan materi yang sangat penting, tapi sayangnya seringkali saya melihat khatib menyampaikan pesan baik tersebut seperti terburu-buru tanpa tekanan, seperti sekadar pelengkap penutup khotbah.
Karena itu, izinkan saya untuk menutup tulisan ini dengan ayat ke-90 Surah An-Nahl tersebut dengan harapan kita bisa memberikan penekakan pada maknanya:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rehat_20160313_191547.jpg)