Minggu, 12 April 2026

Vaksin Palsu Beredar

Orangtua Cemas, Jangan-jangan Vaksin Anakku Palsu. . .

”Mencari uang, kok, membahayakan anak orang lain. Jumlah anak yang dirugikan juga ribuan. Ini keterlaluan,” ujarnya.

Thinkstockphotos
Ilustrasi 

TRIBUNKALTIM.CO -- Terungkapnya produksi dan distribusi vaksin palsu mengusik ketenangan masyarakat. Temuan itu membuat marah, geram, sekaligus cemas masyarakat, khususnya orangtua yang memiliki anak balita.

”Orangtua mana pun pasti ingin memberikan yang terbaik buat anaknya. Eh... ini malah ada yang tega memberikan vaksin palsu untuk anak balita,” kata Ny Herliana (32), warga Ujungberung, Kota Bandung, dengan nada geram.

Ny Ani (31) yang baru mengantarkan anaknya untuk vaksin DPT dan polio II di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, juga marah mendengar kabar beredarnya vaksin palsu. Ia meminta pelaku dihukum seberat-beratnya.

”Mencari uang, kok, membahayakan anak orang lain. Jumlah anak yang dirugikan juga ribuan. Ini keterlaluan,” ujarnya.

Baca: Kepala Dinas Kesehatan Imbau Orangtua Berikan Vaksin Anak di Puskesmas

Menurut Ani, para orangtua, seperti dirinya, tak punya pilihan lain, apalagi jika vaksin itu masuk dalam program imunisasi dasar. Orangtua tetap harus memberikan vaksin supaya anaknya terbebas dari ancaman penyakit, seperti polio, campak, difteri, dan penyakit lainnya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan Ani untuk menghindari vaksin palsu adalah memilih rumah sakit dan dokter tepercaya. Ia percaya dengan kualitas dokter dan pelayanan kesehatan di RSIA Budi Kemuliaan karena sudah dua kali melahirkan di sana.

”Di sini dokternya bagus-bagus dan pro (kelahiran) normal. Saya sudah pengalaman dengan anak pertama yang usia lima tahun. Jadi, ya, percaya saja,” tuturnya.

Ia menyayangkan mengapa keberadaan vaksin palsu itu baru terkuak setelah 13 tahun. Padahal, vaksin berhubungan dengan masa depan generasi penerus Indonesia.

”Imunisasi itu, kan, tidak boleh ditunda dan biasanya sudah selesai saat usia anak di atas 9 bulan,” ujar Ani.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah merek vaksin yang dipalsukan antara lain Tuberculin, Pediacel, Tripacel, Havrix, dan Biosave.

Hingga kemarin, Badan Reserse Kriminal Polri telah menetapkan 15 tersangka yang diduga terlibat produksi dan distribusi vaksin palsu sejak 2003 itu.

Baca: Dapat Untung Besar dari Vaksin Palsu, Kini Wanita Ini Menangisi Nasibnya di Penjara

Seberat-beratnya

Wati (32), ibu bayi usia dua minggu yang juga ditemui di RS Budi Kemuliaan, mengatakan memendam harapan yang sama dengan Ani.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved