Kolom Rehat
Islandia dan Surga Jurnalisme
saat ini muncul jenis baru pengungsi, yaitu penerbit (yang harus mengungsi ke negara lain karena terancam di negera mereka sendiri)
oleh ARIF ER RACHMAN
ISLANDIA sempat mendadak ramai dibicarakan. Bukan karena aktivitas gunung apinya, Gunung Eyjafjallajökull, yang pada 2010-2011 lalu membuat penerbangan di Eropa lumpuh.
Tapi karena negara berpenduduk sekitar 330 ribu jiwa -- hanya separuh dari penduduk Kota Balikpapan --ini sukses membuat tim sepak bola Inggris tekempal dari babak 16 besar Piala Eropa 2016 di Prancis setelah menumbangkanya dengan skor 2-1, Selasa (2/6) lalu.
Negara yang diterpa hujan dan es sepanjang tahun ini pun menjadi trending topic di media sosial. Hampir semua memuji. Seorang teman membuat status tentang kekagumannya tentang hasil Islandia mengalahkan Inggris, teman lainnya mengomentari. Ada juga yang menulis komen tapi tidak berhubungan dengan sepak bola.
"Islandia itu kan negara tempat markas besarnya Wikileaks?" tanya teman itu pada kolom komen.
Karena si empunya status tidak menjawab, saya membantu menjawab bahwa benar Islandia adalah markas website organisasi jurnalistik internasional nirlaba yang sering membocorkan info-info dan dokumen rahasia dari sumber anonim itu.
Saya juga menambahkan, website Wikileaks diinisiasi di Islandia pada 2006 lalu oleh Sunshine Press, dan mengklaim telah memiliki 1,2 juta dokumen rahasia hanya dalam waktu setahun setelah peluncuran.
Orang di belakang Wikileaks, kita tahu, adalah Julian Assange. Dia adalah aktivis internet (baca: hacker) asal Australia yang merupakan pendiri, direktur, pemimpin redaksi, dan merangkap reporter serta juru bicara untuk Wikileaks.
Teman tadi kembali bertanya: Apa yang dicari Assange sampai jauh-jauh ke Islandia? Bukankah menerbitkan laporan online dari Australia juga bisa?
Di Facebook, saya menjawab singkat: Karena Islandia punya Icelandic Modern Media Initiative (IMMI) atau nonton saja film tentang Assange berjudul The Fifth Estate dengan Benedict Cumberbatch berperang sebagai Assange.
baca juga : Adil Sejak Dalam Kalam
Jawaban panjangnya seperti ini: Karena, dengan pandangan visionernye, Assange melihat Islandia bisa menjadi negara journalism haven (surga jurnalisme) selayaknya Panama, Cayman Island, dan beberapa negara kepulauan di Karibia sebagai negara-negara tax haven (surga pajak)
Selama mengampu Wikileaks, Assange terlibat dalam ratusan tuntutan hukum. Untuk bertahan dan melindungi narasumber, Assange terpaksa harus menyebar aset, mengenkripsikan setiap dokumen, memindahkan telekomunikasi dan orang yang terlibat dalam Wikileaks di seluruh dunia untuk mengaktifkan undang-undang perlindungan pers di yurisdiksi nasional berbeda.
Assange menjadi hebat dalam hal itu dan tidak pernah kalah dalam berkasus. Tapi ia menyadari bahwa tidak semua orang bisa melakukan upaya luar bisa itu. Beberpa media besar, termasuk The Guardian di Inggris, sering terpaksa tidak memuat berita-berita invetigasi daripada harus menghadapi tutntutan hukum. Bahkan media online pun sering diputus oleh internet service provider jika terancam karena media yang mereka tampung memberitakan kasus-kasus yang riskan.
Seperti kita tahu media Malaysia Today tidak lagi diterbitkan dari Malaysia, tapi dari negara lain yang dirahasiakan. The American Homeowners Association juga memindahkan server mereka ke Stockholm (Swedia) setelah tuntutan hukum bertubi-tubi di Amerika. Dan masih banyak contoh serupa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rehat_20160313_191547.jpg)