Kolom Rehat

Pokemon dan Bocah-bocah Suriah

RFS mengunggah sejumah foto bocah-bocah Suriah yang sedang memegang gambar karakter Pokemom dengan tambahan kata-kata berisi permintaan kepada dunia

Tribun Kaltim
Arif Er Rachman 

oleh ARIF ER RACHMAN

SAYA bukan penggemar game. Tidak ada satupun aplikasi game di dua ponsel saya. Saya lebih suka membaca atau menonton untuk memanfaatkan waktu luang. Jadi, saat ada demam Pokemon Go saat ini, saya tidak ikut gupuh untuk mencari tahu bagaimana caranya bisa mengunduh aplikasi game dengan realitas tertambah (augmented reality) berbasis GPS (global positioning system) yang belum secara resmi dirilis di Indonesia itu.

Tapi, ternyata saya juga harus berurusan dengan soal unduh-mengunduh Pokemon Go, karena Indra (10) dan Attar (5) -- dua anak saya -- berkeras minta tablet mereka diisikan dengan game yang dikembangan Niantic (perusahaan aplikasi dan game yang bermarkas di San Fransisco) itu.

baca juga : Mengapa Westerling Tersenyum?

Syukurlah ada beberapa teman kantor yang sudah bermain Pokemon Go dan bersedia mengunduhkannya di tablet Indra dan Attar. Kalau soal anak, saya memang banyak kalahnya. Dua buah tablet anak-anak saya hampir semua isinya game. Istri saya pernah protes, tapi saya berdalih bahwa game bisa merangsang anak berpikir dan membuat mereka terlatih mengambil quick decision dalam soal problem solving.

"Ah, itu kan alasan aja. Dasar Papa aja yang gak tegaan sama anak. Terlalu memanjakan anak," kata istri saya.
"Biarin. Siapa lagi yang memanjakan mereka. Apa Mama mau anakmu dimanjakan tetangga," kata saya tidak mau kalah.
Begitulah, kalau soal anak, saya sukar berpikir rasional.

Ngomong-ngomong soal Pokemon dan anak-anak, dan kebetulan pada 23 Juli ini adalah Hari Anak Nasional yang ditetapkan Presiden Soeharto sejak 1984, bagaimana kalau kita sempatkan waktu untuk melihat dan berempati pada penderitaan ratusan ribu anak-anak di Suriah yang dalam lima tahun terakhir tercabik-cabik oleh perang saudara.

Jangankan untuk menemukan dan memelihara Pikachu dan monster lucu lainnya dalam permainan Pokemon Go, untuk menghirup udara dengan tenang saja mereka kesukaran. Ancaman kematian mengancam di setiap sudut jalan dan di setiap waktu. Bisa karena serangan udara pasukan AS yang membombardir ISIS atau dari tentara pemerintah Presiden Bashar Assad yang memerangi pasukan kelompok-kelompok pejuang yang mereka cap sebagai pemberontak.

baca juga : Islandia dan Surga Jurnalisme

Seperti kita tahu, lima tahun sejak perang saudara, lebih dari 250. 000 warga Suriah tewas dalam pertempuran dan tak kurang dari 11 juta lainnya tercerai-berai dam hidup dalam kepungan. Sebagian besar dari mereka itu adalah perempuan dan anak-anak.

Perhatian dunia pada penderitaan bocah-bocah ini dapat dikatakan hampir tidak ada. Saya mencoba untuk dapat merasakan betapa mengenaskan dan menyedihkannya keadaan ini, terutama saat perhatian dunia - termasuk media Indonesia -- jauh lebih banyak tertuju pada Pokemon sialan itu.

Karena itu, Revolutionary Forces of Syria Media Office (RFS) -- sebuah organisasi media yang bekerja untuk menyebarkan pesan warga Suriah melawan kekejaman rezim Presiden Assad -- dengan cerdas memanfaatkan demam dunia pada Pokemon Go untuk menarik perhatian dunia pada penderitaan bocah-bocah Suriah.

RFS mengunggah sejumah foto bocah-bocah Suriah yang sedang memegang gambar karakter Pokemom dengan tambahan kata-kata berisi permintaan kepada dunia untuk menemukan dan menyelamatkan mereka alih-alih mencari monster maya Pokemon.

Sebuah foto memperlihat seorang anak berusia 7 tahun memegang gambar monster Pokemon dengan kata-kata: "Saya berada di Kafr Nabl di luar wilayah Idlib, datang dan selamatkan saya." Foto lain menunjukan bocah perempuan dengan tatapam memelas mengangkat poster bergambar Pokemon dengan kalimat: "Saya di Kafr Zeta, bebaskan saya."

Dan ada belasan foto serupa yang diunggah RFS ke internet sesaat setelah 50 warga sipil tewas dalam sebah serangan udara di utara Suriah pekan lalu. Sebagian besar korban tewas tersebut adalah perempuan dan anak-anak. Foto-foto ini sudah mulai jadi viral di internet dan semoga berdampak positif.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved