Salam Tribun

Pancasila Kita

Para korban dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka baru ditemukan pada 3 Oktober 1965

Penulis: Syaiful Syafar | Editor: Syaiful Syafar
Ilustrasi 

SETIAP tanggal 1 Oktober pagi, hampir semua pejabat di republik ini berkumpul untuk melaksanakan upacara bendera.

Bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, anak-anak sekolah, dan elemen lainnya, mereka hening cipta untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Presiden RI Joko Widodo bersama sejumlah pimpinan negara meninjau monumen para jenderal usai memimpin peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lapangan Upacara Monumen Pancasila Sakti, Jakarta Timur, Kamis (1/10/2015). FOTO: TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

Mengapa disebut sakti?

Kata 'kesaktian' di sini sebenarnya merujuk pada peristiwa kelam 51 tahun silam.

Uraian sejarah yang penulis dapat di bangku sekolah menjelaskan ada enam jendral senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta.

Para korban dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka baru ditemukan pada 3 Oktober 1965 dalam keadaan membusuk.

Bagi generasi yang tumbuh di era 80-90an tentu ingat betul adegan per adegan tragedi berdarah itu. Semua dituang dalam film dokumenter yang diputar di televisi pemerintah setiap malam tanggal 30 September. Tak heran jika lebih banyak orang yang mengenal peristiwa ini lewat layar kaca ketimbang buku sejarah.

Namun seiring runtuhnya rezim Orde Baru, film itupun dihentikan penayangannya karena dianggap tidak relevan dengan fakta-fakta yang sebenarnya.

Meski masih jadi perdebatan di tengah lingkungan akademisi mengenai siapa penggiat dan apa motif di belakang kudeta, namun otoritas militer dan kelompok religi terbesar saat itu menyebarkan kabar bahwa insiden tersebut merupakan usaha Partai Komunis Indonesia (PKI) mengubah dasar negara Pancasila menjadi idiologi komunis.

Gejolak yang timbul akibat pemberontakan itu pada akhirnya berhasil diredam oleh otoritas militer Indonesia. Pemerintah Orde Baru kemudian menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September (G30S) dan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Setidaknya peringatan itu tetap bertahan sampai detik ini.

Itu pula sebabnya Pancasila sebagai dasar negara dianggap masih sakti dan tidak bisa digoyah oleh kekuatan manapun.

Jika merujuk pada catatan sejarah, konsep Pancasila sebenarnya lahir pada 1 Juni 1946. Adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) yang menandai hari lahir tersebut.

Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan "Lahirnya Pancasila" oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved