Kolom Rehat

Patriotisme Paman Gober

Trump kerap hadir dalam berbagai publikasi menjelang Pemilu dengan mulut yang kotor, lagak arogan, dan sikap yang rasis-diskriminatif.

Tribun Kaltim
Arif Er Rachman 

oleh: ARIF ER RACHMAN

TAK banyak yang menyangka Donald Trump mengalahkan Hillary Clinton dalam Pemilu AS yang baru lewat.

Penduduk dunia lebih banyak menyoroti sisi negatif milarder yang kerap disamakan dengan Paman Gober yang kikir itu.

Trump kerap hadir dalam berbagai publikasi menjelang Pemilu dengan mulut yang kotor, lagak arogan, dan sikap yang rasis-diskriminatif. Ia kerap dijadikan bahan bully dan tertawaan.

Tapi, kok bisa menang dan sebentar lagi resmi jadi penguasa Gedung Putih jika tidak ada masalah dalam Pemilu Electoral College pada Desember nanti?

Baca: Sumber Segala Kejahatan

Ya bisa saja, mengapa tidak? Kemenangan Trump menjadi pembenar ungkapan "there is no such thing as bad publicity" -- tidak ada itu yang namanya publisitas buruk. Semua pemberitaan atau publisitas membuat orang jadi populer dan menjadi populer itu selalu bagus untuk menjangkau banyak orang.

The only thing worse than being talked about is not being talked about, kata sastrawan Inggris Oscar Wilde.

Satu-satunya hal yang lebih buruk daripada dibicarakan orang adalah tidak dibicarakan sama sekali. Karena itu mungkin kita sering mendengar artis tertentu sengaja berbuat ulah atau menyatakan hal yang kontroversial agar namanya tetap dibicarakan.

Dengan begitu ia tetap ngetop dan populer. Apalah artinya jadi selebriti kalau tidak ngetop.

Tak jarang publisis atau manajer atau PR para selebriti sengaja men-setting peristiwa agar si selebriti tetap berada dalam radar popularitas. Banyak contoh dan Anda bisa temukan sendiri, termasuk di Indonesia.

Kita kembali pada mengapa Trump bisa menang, padahal penduduk dunia dalam liputan media disebutkan bahwa bukan saja tidak mendukung tapi membenci Trump? Karena ini adalah Pemilu AS, bukan Pemilu Dunia. Pemilihnya adalah warga AS, bukan warga Dunia.

Sebenarnya harus diakui bahwa Trump maju sebagai calon Presiden AS dari Partai Republik bukan sekadar bermodal popolaritas dan uang. Dalam kampanye Trump menawarkan patrotisme Amerika yang dinilainya sudah mulai memudar. 'Making America great again', menjadi tagline- nya dalam setiap kampanye.

Trump meminta soal patriotisme diajarkan kembali di setiap sekolah. Ia angin anak-anak sekolah diajarkan soal penghormatan yang lebih besar pada nilai-nilai patriotik.

Trump berkonsultasi pada kelompok-kelompok veteran perang untuk mempromosikan "kebanggan dan patriotisme" di sekolah, dan mengajarkan kembali soal pentingnya penghormatan pada bendera da sumpah setia pada negara.

Baca: Tempat Tergelap di Neraka

Dan terbukti menurut survei bahwa patriotisme Amerika Serikat meningkat 15 persen dibanding tahun lalu -- setidaknya dilihat dari meningkatnya penjualan bendera.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved