Selasa, 14 April 2026

Pilpres AS

Gara-gara Wajahnya Mirip Donald Trump, Selebriti Ini Babak Belur Diserang Tiga Pria

"Saya dipukuli tiga pria berusia 25-35 tahun. Mereka mengatakan, wajah saya mirip dengan Donald Trump," ujar Anders.

Facepunch
Koki terkenal Swedia Anders Vandel (kiri) dan presiden terpilih AS, Donald Trump. 

TRIBUNKALTIM.CO - Seorang koki yang juga selebriti Swedia, Anders Vendel, babak belur dipukuli tiga orang pria karena wajahnya dianggap mirip dengan wajah Donald Trump.

Anders mengatakan, dia diserang tiga orang pria pada Sabtu pagi pekan lalu.

Anders mengklaim, mereka memegangi tangannya lalu menghajarnya sebanyak 20 kali.

Serangan yang terjadi di sebuah gerai makanan cepat saji di kota Malmo itu mengakibatkan Anders mengalami patah tulang hidung dan memar di salah satu matanya.

Selain itu, mulut dan rahangnya juga terluka. Kepolisian Swedia kini tengah menangani kasus tersebut.

"Saya dipukuli tiga pria berusia 25-35 tahun. Mereka mengatakan, wajah saya mirip dengan Donald Trump," ujar Anders lewat akun Facebook-nya.

"Dua dari tiga pria itu memegang tangan saya dari belakang dan yang ketika memukuli wajah saya. Saya mencoba membela diri dengan menggunakan kaki. Setelah mendapatkan sekitar 20 pukulan, saya jatuh di lantai," tambah Anders.

Setelah jatuh ke lantai, Anders melanjutkan, ketiga orang itu masih menendangi tubuh dan kepalanya.

(Baca juga: Luar Biasa. . . Hanya Hitungan 48 Jam Lubang Besar di Jalan Raya Ini Berhasil Diperbaiki )

"Hasilnya, tulang hidung saya patah, mata, bibir, dan rahang memar serta jempol kanan saya patah," lanjut dia

Anders melanjutkan, ketiga orang pria yang memukulinya diduga adalah warga keturunan Timur Tengah, sebab dia mendengar mereka berbicara dalam bahasa Arab.

Kisah Anders ini langsung disambar situs-situs berita umum maupun situs-situs sayap kanan yang anti-imigran dan anti-Islam.

Akibatnya, Anders kini merasa khawatir, kisah yang diunggahnya ke Facebook itu digunakan kelompok yang tak bertanggung jawab untuk menyebarkan kebencian.

"Saya sedang marah, sakit, dan dipermalukan saat menulis kisah itu dan mengunggahnya ke media sosial. Saya tak tahu apa yang saya pikirkan saat itu," ujar Anders.

"Saya bukan seorang rasialis, bahkan setelah apa yang menimpa saya. Pelakunya bisa siapa saja, saya masih hidup dan saya tak apa-apa," lanjut Anders kepada harian The Local.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved