Kisah Kehidupan Waria, Dari Transaksi di Taman Lawang Sampai Dunia Maya
Beraneka kisah bergulir bertahun-tahun, dan kebanyakan memang bernada negatif dan berhubungan dengan dunia malam.
Jumlahnya puluhan, dan areal mangkalnya meluas hingga pinggiran Jl. Sultan Agung yang dekat dengan jalan baru yang menghubungkannya dengan Jl. Rasuna Said.
Sekarang, meski tidak seramai dulu, Taman Lawang memang belum bisa steril dari penyakit masyarakat.
Terakhir, saat operasi gabungan digelar oleh Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Menteng yang dipimpin camat Menteng Dedy Arif, bulan Agustus 2016 lalu, masih ada saja waria yang terjaring dan dijebloskan ke Panti Sosial Kedoya, Kebon Jeruk.
Meskipun jumlahnya hanya seorang.
Melihat jumlahnya yang kecil, warga Jakarta, bolehlah merasa senang.
Artinya, permasalahan PSK waria sudah bisa tertanggulangi.
Bisa jadi, banyak yang mengira bahwa waria sekarang sudah alih profesi.
Tidak lagi menjadi PSK dan meresahkan warga.
Transaksi Seks di Dunia Maya
Meski di dunia nyata waria tidak terlihat, namun kiprah mereka tidak berhenti begitu saja.
Banyak di antara waria yang jelas-jelas menjajakan dirinya melalui jaringan internet.
Tanpa malu-malu, mereka membuka praktik, baik lewat media sosial maupun lewat situs-situs yang menawarkan layanan escort.
Sebenarnya, hal ini bukan hal baru, bahkan sudah menjadi rahasia umum.
Sosial media seperti twitter, facebook dan belakangan Bigo mereka jadikan media untuk menarik pelanggan.
Model bisnisnya pun beragam. Bukan lagi menawarkan kencan face to face.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/miss-waria-2016_20161116_171524.jpg)