Rombongan Manusia Perahu Datang Lagi, Sebenarnya Siapa dan Dari Mana Mereka?
Oleh turis asing, pulau ini juga disebut Pulau SpongeBob karena bentuknya persis Bikini Bottom, tempat tinggal tokoh kartun ngehits itu.
Penulis: Syaiful Syafar | Editor: Syaiful Syafar
TRIBUNKALTIM.CO - Kabar tentang eksodus manusia perahu kembali bikin heboh.
Kabar ini pertama kali diungkap oleh Wakil Bupati Berau Agus Tantomo, Selasa (24/1/2017).
Dalam percakapan di grup WhatsApp jurnalis, Agus mengirimkan sebuah foto yang diduga kawanan manusia perahu.
Di foto itu terlihat 7 wanita, dan 4 anak-anak berada di sebuah perahu yang mengapung di perairan.
"Tidak tahu kah mereka (manusia perahu) kalau kita ini defisit anggaran," tulis Agus Tantomo mengomentari foto tersebut.
Saat TribunKaltim.co hendak mengonfirmasi kabar ini, nomor telepon seluler Agus Tantomo tidak aktif hingga pukul 15.00 Wita. Menurut kabar dirinya sedang berada di luar kota.
Namun tak berselang lama, TribunKaltim.co akhirnya mendapat kepastian dari pihak kepolisian.
Kapolsek Biduk-biduk, AKP Suradi, membenarkan bahwa foto yang disebar Wabup Agus Tantomo itu adalah kawanan manusia perahu yang berlabuh di kawasan Batu Putih, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Foto ini berasal dari anggota kepolisian.
"Jumlah mereka ada 34 orang, mereka naik tiga perahu. Beberapa sudah kami identifikasi sebagai manusia perahu yang dulu pernah (dievakuasi) di sini (Berau), ungkap Suradi.
Pihak kepolisian terus memantau pergerakan manusia perahu tersebut.
Menurut Suradi, mereka sengaja berlabuh di wilayah Batu Putih karena sedang berziarah ke salah satu anggota keluarga mereka di Pulau Manimbora yang juga masih wilayah gugusan Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau.
Misteri Pulau Manimbora
Pulau Manimbora adalah pulau hampa tak berpenghuni di gugusan Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Travelog Indonesia Evi Indrawanto menceritakan pengalamannya berkunjung ke pulau seluas 2 hektare ini pada Mei 2016 lalu.
Dilansir dari www.eviindrawanto.com, Evi mengungkap daratan pulau itu hanya sejumput pasir bertanah yang ditumbuhi beberapa pohon kelapa dan semak belukar.
Oleh turis asing, pulau ini juga disebut Pulau SpongeBob karena bentuknya persis Bikini Bottom, tempat tinggal tokoh kartun ngehits itu.
Yang mengagetkan, di daratan pulau ini banyak berserakan tulang-belulang manusia.
Konon, tulang belulang dan nisan-nisan pekuburan itu adalah milik masyarakat Balikukup, sekelompok suku Bajau yang mendiami pulau seluas kurang lebih 28.2 hektare yang terletak di seberang Manimbora.
Tulang belulang tersebut bukan korban kejahatan atau apa pun cerita misteri lainnya. Manimbora memang tanah pekuburan bagi warga Balikukup.
Tulang belulang tadi berasal dari pusara terbongkar akibat dampak abrasi pantai.
Pusara paling bagus atau yang berkelambu kuning milik tokoh masyarakat atau semacam wali dalam masyarakat Balikukup.
Yang menarik, tulang belulang tersebut banyak yang kembali ke Balikukup dan dipercaya oleh penduduk bahwa yang bersangkutan rindu pada kampung halamannya.
Biasanya akan dikumpulkan dan dikubur kembali ke Manimbora. Tapi sebanyak yang dikubur kembali, sebanyak itu yang pulang kembali untuk menemui sanak saudara mereka.
Apa Hubungannya dengan Manusia Perahu?
Pada tahun 2014, Kabupaten Berau dihebohkan dengan keberadaan nelayan asing yang masuk secara ilegal. Jumlahnya mencapai ratusan orang.
Sebenarnya mereka sudah terdeteksi sejak 2010, namun puncaknya terjadi di 2014.
Orang-orang asing ini dideteksi adalah kelompok suku Bajau yang berasal dari Bunggau, Filipina dan Semporna, Malaysia.
Mereka menjadikan perahu sebagai rumahnya. Nekat menyusuri ganasnya ombak lautan, menyambung hidup dengan mencari ikan hingga menjelajah daerah-daerah baru.
Potensi kekayaan perairan Berau berikut keramahan aparat keamanan di Indonesia menyebar di kalangan manusia perahu dari mulut ke mulut. Asalnya, dari rekan mereka yang sudah lebih dulu beroperasi di perairan Berau.
Untuk sampai ke perairan Indonesia di Berau mereka bermodalkan kapal kayu berukuran sekitar 10x2 meter, yang merupakan kapal induk bagi manusia perahu.
Namun mereka yang hanya memiliki sampan juga tetap bisa pergi ke Indonesia dengan cara mengikatkan sampan ke perahu induk yang biasa bermesin dompeng.
Setelah sekian lama beroperasi di perairan Indonesia, manusia perahu yang belum memiliki kapal induk perlahan membeli kapal sejenis ketinting.
Untuk perjalanan dengan jarak yang cukup jauh, lagi-lagi kapal ketinting ini harus menumpang ke kapal induk.
Secara umum, cukup sulit berkomunikasi dengan manusia perahu, terutama jika pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan waktu misalnya sudah berapa lama di perairan Indonesia, berapa umurmu, umur istri atau anak. Kebanyakan pertanyaan semacam ini hanya dijawab berdasarkan perkiraan saja oleh manusia perahu.
Manusia perahu hanya berpatokan pada hitungan kemunculan bulan. Sehingga mereka tidak bisa menjawab persis jika ditanyakan hal yang berkaitan dengan waktu.
Hasil tangkapan ikan manusia perahu biasa dijual ke pengepul yang berada di Tanjung Batu, Pulau Derawan, maupun pulau lain di perairan Berau yang berpenghuni.
Dalam sekali transaksi, mereka bisa mendapatkan uang sekitar Rp 300 ribu.
Rata-rata, tiap pria dewasa manusia perahu minimal bisa mendapatkan hasil laut berkisar 10 kg setiap harinya.
Sementara, uang hasil penjualan tangkapan mereka digunakan untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari seperti ubi, beras, kopi, biskuit, gula hingga, rokok.
Pada 2014 lalu, Pemkab Berau terpaksa menampung ratusan manusia perahu di wilayah Tanjung Batu, Kecamatan Derawan.
Selama satu bulan mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian.
Pemkab Berau harus menyediakan 150 kg beras per hari untuk memenuhi pangan 678 manusia perahu.
Itu baru beras saja, belum lagi singkong dan lauk-pauknya, ditambah obat-obatan karena semakin banyak manusia perahu yang sakit karena kondisi penampungan yang tidak layak.
Sebanyak 88 orang akhirnya dipulangkan ke Filipina setelah Konsulat Jenderal Filipina mengakui bahwa itu adalah warganya.
Adapun ratusan sisanya dipulangkan pada Januari 2015 menuju perairan Malaysia.
Pemulangan manusia perahu itu dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemprov Kaltim, Pemkab Berau dengan pengawalan TNI dan Polri. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/evakuasi-manusia-perahu_20170124_163718.jpg)