Minggu, 19 April 2026

Potensi Kakao, Pisang, hingga Garam di Perbatasan, Kalimantan Utara Perlu Investor

Seperti halnya kawasan perbatasan Kalimantan Utara yang berhadapan dengan Malaysia, justru memiliki keunggulan potensi sumber daya alam.

TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN
Samuel ST Padan, Kepala Biro Pengelola Perbatasan Setprov Kalimantan Utara. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Pengelolaan kawasan perbatasan tidak hanya menyangkut soal kepentingan strategis bidang pertahanan.

Lebih dari itu, kawasan beranda negara juga memiliki potensi untuk kepentingan keekonomian.

Namun potensi keekonomian yang bisa meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat belum tergarap berkesinambungan.

Seperti halnya kawasan perbatasan Kalimantan Utara yang berhadapan dengan Malaysia, justru memiliki keunggulan potensi sumber daya alam yang menjanjikan.

Kesuburan tanah menjadi faktor penting tumbuhnya berbagai tanaman-tanaman yang mampu menunjang kebutuhan pangan tidak saja di dalam namun juga bagi negara tetangga.

"Seperti di Sebatik, potensi kopi, kakao, rumput laut, perikanannya cukup menjanjikan. Hanya saja tantangannya adalah, masyarakat belum fokus menggarap salah satu komoditas itu. Contoh ketika harga sawit bagus, mereka ramai-ramai beralih ke sawit, rumput lautnya ditinggalkan. Begitu juga dengan komoditas lainnya," sebut Samuel ST Padan, Kepala Biro Pengelola Perbatasan Negara, Setprov Kalimantan Utara, saat disua Tribun, Rabu (25/2/2017) pukul 12.30 Wita.

Di Seimanggaris, Sebuku, dan Lumbis Ogong Kabupaten Nunukan juga terdapat potensi perkebunan lada dan pisang.

Begitu pula di Krayan dan beberapa daerah perbatasan di Kabupaten Malinau menyimpan potensi pertanian padi.

Kendati demikian, hasil-hasil perkebunan dan pertanian tersebut belum dikembangkan hingga ke sektor hilir.

"Selain untuk konsumsi, biasanya hasil-hasil panen ini langsung dijual ke Malaysia dalam bentuk tandan segar, seperti pisang. Padahal hasil-hasil panen ini bisa memiliki nilai tambah jika dikelola hingga sektor hilir," sebutnya.

Beragam potensi ini, bisa dijadikan objek agar investor bisa masuk mendirikan industri pengolahan. Hadirnya industri pengolahan diyakini bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat di perbatasan.

"Ketika investasi masuk, membangun pabrik tentu akan menyerap tenaga kerja. Dan produk yang dihasilkan tentu memiliki nilai jual tinggi dibandingkan bahan mentah," ujarnya.

Pemerintah dan Pemprov kata Samuel sudah memulai langkah agar investor bisa melirik kawasan perbatasan sebagai daerah ekspansi bisnis. Hal itu dibuktikan hadirnya Menteri BUMN Rini Soemarno di Krayan melihat potensi garam gunung.

"Setelah kunjungan Ibu Menteri dengan Pak Gubernur, rencananya akan masuk BUMN, PT Garam. Menurut penelitian Balai Litbang Kaltim dulu, masih ada potensi 20 sumur garam. Sekarang ada empat seperti di Long Layu, Long Midang, Pa Betun," sebutnya.

Selain mengenalkan potensi itu di mata nasional, klaim Samuel juga diupayakan ada dukungan dari lintas sektoral baik dari instansi Pertanian, Pekerjaan Umum, Perdagangan dan Perindustrian, termasuk instansi Penanaman Modal.

"Kami akan coba bersinergi dengan instansi-instansi ini. Karena membangun perbatasan bukan hanya membangun pertahanannya saja, tetapi membangun ekonominya," sebut Samuel. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved