Jumat, 17 April 2026

Perayaan Imlek

Kisah Tokoh Senior Etnis Tionghoa, Punya 7 Anak dengan Beda Keyakinan tapi Tetap Rukun

Dari ketujuh anak tersebut, mereka memiliki kepercayaan berbeda satu dan lainnya. Ada anaknya yang beragama Islam, Kristen, dan Buddha.

TRIBUN KALTIM/ANJAS PRATAMA
Hokiman Agus, tokoh senior etnis Tionghoa di Kota Samarinda, Kalimantan Timur yang tergabung dalam Paguyuban Kim Moy, Jalan Gatot Subroto. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Hokiman Agus sudah berusia senja. Umurnya mencapai 83 tahun.

Ia merupakan tokoh senior etnis Tionghoa di Kota Samarinda, Kalimantan Timur yang tergabung dalam Paguyuban Kim Moy, Jalan Gatot Subroto.

Hokiman banyak memberikan cerita menarik, terutama menyangkut kisah masa lalunya.

Bagaimana tidak? Hokiman memiliki tujuh orang anak hasil pernikahan dengan wanita beretnis Tionghoa pula.

Dari ketujuh anak tersebut, mereka memiliki kepercayaan berbeda satu dan lainnya. Ada anaknya yang beragama Islam, Kristen, dan Buddha.

"Anak saya ada tujuh. Enam masih di Samarinda, sementara yang paling besar tinggal di Surabaya. Kepercayaan dan agama anak-anak tak semuanya mengikuti saya yang beragama Buddha. Anak pertama saya memilih Kristen, anak kedua Buddha, ketiga Kristen, keempat, keenam Islam, dan anak terakhir beragama Buddha," ujar Hokiman.

Baca: Tahun Ayam Api, Tantangan Semakin Sulit Perlu Kerja Keras dan Integritas

Ia sama sekali tak pernah memaksa apapun pilihan kepercayaan yang dipilih masing-masing anaknya tersebut. Satu yang paling penting, mereka harus jadi orang baik, berbakti pada orangtua, serta berbuat baik pada masyarakat.

"Keyakinan pilihan masing-masing. Tak bisa diubah. Saya hanya katakan kepada anak-anak, yang penting kamu jadi orang baik," ujar warga yang tinggal di Belatuk, Samarinda tersebut.

Berubahnya keyakinan anak-anaknya tersebut pun terjadi dengan alasan berbeda-beda. Ada yang dikarenakan lingkungan sekolah, dan ada pula dikarenakan pernikahan.

"Bisa karena sekolah, karena saat saya muda, sekolah etnis Tionghoa sulit ditemui. Ada juga yang memilih mengikuti agama dari calon istri dan suaminya. Kan tidak bisa menikah dengan agama yang berbeda. Tetapi, mereka memilih agama, berdasarkan pilihan yang mereka anggap baik. Sama sekali tak ada paksaan ataupun desakan dari orang lain," ujarnya.

Meskipun berbeda dari sisi keyakinan, kerukunan keluarga Hokiman Agus sama sekali tak ada masalah. Ketujuh anaknya tetap hormat. Tetap pula selalu menjaga silaturahmi dengan keluarga dan orang tua.

"Tak ada masalah. Namanya anak dan orangtua, masak mau bertengkar," ujarnya.

Hal ini dibuktikan pula dengan tetap datangnya ketujuh anaknya saat merayakan hari besar keagamaan, maupun saat Hokiman dan istrinya melakukan perayaan hari besar Tionghoa.

"Saya merayakan Imlek, anak-anak tetap datang ke rumah. Ketika ada anak saya yang merayakan Lebaran, mereka juga datang ke rumah untuk minta maaf. Pun begitu ketika ketika anak saya merayakan Natal, juga datang ke rumah, untuk tradisi minta maaf pula. Semua kumpul baik-baik," ujarnya.

Lebih lanjut, ada pula anak dari Hokiman Agus yang telah selesai melakukan umrah dan sebentar lagi akan melakukan ibadah Haji.

"Anak keenam, tinggal dengan saya bersama istrinya. Dia muslim dan sudah umrah. Tetapi, saya belum panggil dia pak haji, karena memang belum haji, baru mau saja," ujar Hokiman sambil tertawa. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved