Menyiasati Harga Pembalut Mahal, Ini yang Dipakai Wanita Berbagai Negara Saat Menstruasi
Mereka harus memutar otak untuk mencari benda lain yang bisa digunakan sebagai pengganti pembalut. Harga pembalut mahal, ini yang dipakai cewek-cewek
TRIBUNKALTIM.CO - Mungkin bagi kita yang tinggal di kota-kota besar enggak pernah kepikiran kalo pembalut adalah barang yang penting dan berharga banget buat perempuan.
Soalnya kita bisa menemukan benda ini di mana-mana. Coba sebutin, apa ada minimarket di sekitar kita yang enggak jual pembalut?
Harganya juga bisa dibilang cukup terjangkau, dengan uang receh kita masih bisa memenuhi kebutuhan yang satu ini.
Tapi ternyata enggak segampang itu keadaannya bagi teman-teman kita yang tinggal di daerah lain.
Mereka harus memutar otak untuk mencari benda lain yang bisa digunakan sebagai pengganti pembalut.
Untuk menyiasati harga pembalut yang mahal, berikut ini pengganti pembalut yang dipakai cewek-cewek dari berbagai negara saat mentruasi.
Malawi
Dilansir dari menstrualhygieneday.org, banyak perempuan di Malawi, Afrika, yang tidak mampu membeli pembalut dan beralih ke alternative lain seperti menggunakan kain lap, serat pisang, busa Kasur, dan kertas toilet pada periode menstruasi mereka.
Nepal

Dilansir dari nationalgeographic.com, perempuan di Nepal harus menjalani masa menyedihkan ketika lagi menstruasi, yakni diasingkan.
Perempuan yang lagi menjalani masa haidnya dianggap tidak suci dan diusir ke gubuk pengasingan.
Perempuan di Nepal biasanya tidak menggunakan apa-apa sebagai pengganti pembalut, tapi ada juga yang memakai kain untuk menahan darah yang keluar.
India
Banyak daerah pedesaan di India yang belum tersentuh kemajuan teknologi.
Seperti yang ditulis di BBC, seorang pria bernama Arunachalam Muruganantham menciptakan pembalut murah untuk istrinya di tahun 2014.
Sebelum itu, pria ini mengaku merasa kasihan pada istrinya yang ternyata selalu menggunakan kain lap kotor di masa menstruasinya.
Tak hanya kain bekas kotor, Muruganantham semakin terkejut ketika mengetahui bahwa perempuan di pedesaan India banyak menggunakan bahan tak higienis lainnya sebagai pengganti pembalut, seperti pasir, serbuk gergaji, daun, bahkan abu.
Celakanya lagi, para perempuan yang menggunakan kain bekas sebagai pembalut biasanya terlalu malu untuk mengeringkannya di bawah sinar matahari sehingga kain tersebut akan selalu basah dan kotor.
Inilah sebabnya mengapa menurut data, sekitar 70 persen dari semua penyakit reproduksi di negara ini disebabkan oleh kebersihan menstruasi yang buruk, yang juga dapat mempengaruhi angka kematian ibu. (*)
Berita ini telah dipublikasikan CewekBanget.id dengan judul, "Harga Pembalut Mahal, Ini yang Dipakai Cewek-cewek dari Berbagai Negara Saat Mentruasi."