Selain Demi Gengsi, Balap Liar Ternyata Jadi Ajang Taruhan hingga Puluhan Juta Rupiah
"Kami adu gengsi. Motor atau pembalap mana yang paling keren dan laju pasti disegani di kalangan anak motor," ujar Jhon.
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Jhon (bukan nama sebenarnya) pernah menjadi anak motor atau istilahnya 'amor'. Bahkan sejak masih duduk di bangku SMP, Jhon sudah mulai mengikuti aksi balap liar. Saat itu, dia ingin mencoba rasanya memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi, namun lama kelamaan menjadi keasyikan.
"Awalnya coba-coba, lama-lama asyik dan seru. Adrenalin terpacu saat melakukan aksi balap liar," kata Jhon ditemui Tribun di rumahnya, Senin (5/6) kemarin.
Anak motor atau anak racing menjadi semacam identitas baru yang keren bagi anak seusianya. Bagi dirinya, dunia balap di lingkungan 'amor' tidak melulu bicara kecepatan dan skill.
"Kami adu gengsi. Motor atau pembalap mana yang paling keren dan laju pasti disegani di kalangan anak motor," ujar Jhon.
Gengsi sesama pembalap, dan komunitas ini yang mendorong banyak pebalap liar berani merogok kocek dalam-dalam untuk memodifikasi tunggangannya agar serasa motor balap.
Menurut dia, untuk kategori motor 2 tak, setidaknya dibutuhkan Rp 500.000 hanya untuk oprek mesin. Motor 4 tak, biaya yang dikeluarkan bisa Rp 5 juta hingga Rp 20 juta untuk kategori balap jalanan.
Jhon sendiri melakoni balap liar mulai kelas 2 SMP sampai lulus SMK. Dia mengikuti aksi balap liar di jalanan kota. Belakangan juga ikut drag race (balapan jalan lurus).
"Saya lumayan terkenal di kalangan anak motor Balikpapan era tiga tahun terakhir ini. Sebagai pebalap dengan postur tubuh gempal, saya paling jago di tikungan," ungkapnya.
Di jamannya, Jhon sering ikut aksi balap motor liar dengan taruhan sejumlah uang. Namun, karena tidak punya uang, dia hanya ditunjuk sebagai joki (pembalap). Motor yang dipakai pun terkadang bukan motor sendiri, tetapi motor yang sudah disiapkan oleh timnya.
"Dua tahun lalu, taruhannya sekitar Rp 150 ribu- Rp 200 ribu, tapi sekarang paling kecil sudah Rp 1 juta hingga Rp 2 juta sekali main," kata Jhon yang saat ini berusia 20 tahun.
Pernah suatu momen, ada adu balap motor dengan taruhan mencapai puluhan juta. Pebalapnya memang jago-jago di Balikpapan.
Menurut dia, mayoritas pebalap liar berusia 14-25 tahun. Bagi pebalap usia di atas 25 tahun biasanya memilih 'pensiun'. Termasuk dirinya yang sudah tidak lagi ikut balapan liar. Jhon sekarang lebih banyak ikut nonton, dan mendalami ilmu mesin.
"Ada juga yang tobat sama sekali, biasanya sudah patah-patah tulangnya, karena kecelakaan balap liar atau punya keluarga," tambah Jhon.
Sebagai mantan pebalap liar, dirinya lebih memilih mendalami ilmu permesinan. Impianya ingin menjadi mekanik handal sekaligus pemilik tim balap resmi yang mengarahkan anak-anak muda menjadi pebalap profesional.
Ayah dan ibu Jhon pun mengaku senang, anaknya tidak lagi ikut-ikutan jadi joki balap liar di Kota Balikpapan. Ditemui di rumahnya, kawasan Gunung Sari Ilir, sang ibu mengaku sempat heran saat tahu anaknya bisa mengendarai sepeda motor di usia 11 tahun. "Ngga tahu juga siapa yang ngajarin," kata Lastri.
Sejak bisa mengendarai sepeda motor, makin banyak teman sebayanya berkumpul di halaman rumahnya. Dia Sempat beberapa kali menegur Jhon dan temannya karena berkendara tanpa SIM. Pun demikian, seolah tak menghiraukan nasehat orang tua, mereka tetap datang mengajak anaknya pindah tempat tongkrongan.
Polisi Tindak Tegas
Humas Polres Balikpapan Iptu D Suharto menyatakan, pihaknya akan menindak tegas remaja yang suka kebut‑kebutan alias balapan liar di jalan umum saat bulan puasa. Selain membahayakan diri mereka, keselamatan pengendara lain juga terancam.
"Pokoknya yang kedapatan kami melaju dengan kecepatan di atas standar, tak pakai helm, tidak membawa dokumen kendaraan langsung kami tangkap. Motor kami sita, usai Lebaran baru boleh diambil," tegas Suharto.
Menurutnya, para pelaku balapan liar sebagai ajang menunjukan eksitensi diri. Namun kerap juga dijadikan ajang taruhan antar sesama anak motor. "Seharusnya mereka beribadah, meningkatkan kualitas diri di bulan suci. Jiwa muda yang membara harusnya diarahkan pada tempatnya, bukan malah balapan liar," ujarnya.
Dari beberapa anak remaja yang diamankan sampai kini belum ada yang mengaku bahwa aksi balap liar dijadikan ajang taruhan. Semuanya karena hobi dan senang‑senang bersama teman mereka.
Aksi balapan liar di jalanan juga menjadi perhatian Polresta Samarinda. "Kapolda tegaskan aksi balap liar harus diantisipasi, agar tidak terjadi. Sebelum ada aksi balapan, polisi harus lebih dahulu datang ke lokasi yang dijadikan tempat balapan," tutur Kasubag Humas Polresta Samarinda, Ipda Danovan, Senin (5/6).
Dari hasil pemetaan kepolisian, lokasi yang kerap di jadikan arena balap tak hanya di daerah pinggiran kota Samarinda, namun juga di tengah kota, seperti di Jl Soetomo, Jl A Yani, kawasan perumahan Alaya, ring road, jalur jembatan Mahkota II, jalur jembatan Mahulu, jalan Siradj Salman, Jl Pahlawan dan Jl Kusuma Bangsa.
"Kalau surat kendaraannya lengkap, pengendaranya kita hukum fisik, seperti senam. Tapi kalau berulang kali, kita amankan motornya hingga usai lebaran baru dapat diambil, kalau yang tidak lengkap Sat Lantas akan lakukan penilangan, dengan denda mencapai Rp 3 juta," urainya.
Kendati balapan liar marak terjadi, namun pihaknya belum menemukan adanya indikasi taruhan pada aksi balapan liar tersebut.
"Hingga saat ini belum ada indikasi seperti itu (anjang taruhan). Mereka melakukan balapan hanya mencari kesenangan dan juga sebagai kebanggaan bagi mereka. Kalau ada langsung kita kenakan pidana," ucap mantan Kanit Binmas Polsekta Samarinda Ilir itu.
Fun Race tak Diminati
Pengprov Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kaltim turut menyoroti fenomena balap liar yang meresahkan masyarakat. IMI Kaltim berupaya mengurangi fenomena balap liar dengan berbagai cara. Khususnya menyelenggarakan even kejuaraan yang melibatkan peserta remaja
Beberapa waktu lalu IMI Kaltim menyelenggarakan Kejuaraan Fun Race di Sirkuit Kalan, Samarinda. Kegiatan tersebut terbuka untuk umum, baik yang sudah profesional maupun yang masih amatir dan pelajar.
Kegiatan itu dilaksanakan sebagai wadah kreativitas dan oenyaluran bakat di dunia balap untuk remaja. Sayangnya remaja yang suka balap liar tidak antusias memanfaatkan kejuaraan itu. Padahal melalui kejuaraan tersebut, diharapkan muncul Pebalap baru yang dapat mengharumkan Kaltim di dunia otomotif.
"Di Fun Race itu kami sudah persilakan mereka yang suka balapan liar untuk daftar. Kamu biayai uang pendaftaran mereka. Tapi dari situ tidak ada yang antusias. Aneh, kalau sudah ada kejuaraan, mereka yang suka balap liar malah gak berani ikut," katanya kepada Tribun. (m02/cde/dmz)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/balap-liar_20170606_080926.jpg)