Menuju Deklarasi Kota Bebas Anjal
Capek Jemput Anak ke Satpol PP, Sabariah Dukung Rencana Deklarasi Kota Bebas Anak Jalanan
Hidup dan mencari penghasilan di jalanan telah dilakoni oleh Sabariah (51), serta keluarganya sejak tahun 1974 silam.
Penulis: Christoper Desmawangga | Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Hidup dan mencari penghasilan di jalanan telah dilakoni oleh Sabariah (51), serta keluarganya sejak tahun 1974 silam.
Rumah Sabariah berada di lahan Pemkot Samarinda, di jalan Agus Salim, Gang Manunggal, RT 37.
Di rumah yang memiliki luas sekitar empat kali enam meter itu, hanya memiliki satu kamar, ruang berkumpul dan loteng sempit sebagai tempat tidur anak-anaknya.
Sebelum masuk dalam rumah, tepat di depan rumah kayu itu, terdapat kios kecil menjual aneka jajanan anak, serta kebutuhan rumah tangga.
Lalu, perlengkapan masak serta kamar mandi juga terdapat di depan rumah.
Baca: Tarik Simpati Masyarakat, Anjal Berekspresi Memelas dan Peragakan Aksi Pantomim di Simpang Jalan
Baca: Revisi Perda, Denda Rp 50 Juta bagi Pengemis dan Pemberi tapi Masih Berkutat pada Naskah Akademik
Memasuki rumah, dengan dua kali langkah saja, maka dapat menjangkau setiap sudut rumah, di ruang tengah terdapat lemari berisi tas, serta pajangan dinding, sound system, televisi dan LED TV.
Di ruangan itu juga menjadi tempat tidur sebagian anaknya.
Sabariah memiliki delapan anak, dan hampir seluruh anaknya pernah berada di jalanan, mulai dari menjual koran, pengamen, hingga dagang asongan. Sedangkan suaminya, bekerja sebagai montir di bengkel.
Dirinya pun tak ragu menceritakan, kalau dirinya pernah jadi pemulung, dan jualan koran di jalanan.
"Saya dua tahun jadi pemulung, lalu pernah jualan koran, kalau dulu ibu-ibu di sini banyak yang jualan koran, tapi sekarang malu," ucap wanita asal Berau ini.
Saat ini lima anaknya telah berkeluarga, tinggal tiga yang belum dan masih di bawah umur, yakni Rd, Rk dan Ss, dua diantaranya masih sering berada di jalanan.
Kendati masih terdapat anaknya yang di jalanan, namun pendidikan anak- anaknya tidak putus.
Rk misalnya, yang saat ini duduk di bangku kelas IV SD itu, selalu ke jalanan untuk ngamen, usai pulang sekolah, dan kembali ke rumah tengah malam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/gpeng-dan-anjal_20160616_233933.jpg)