Selasa, 14 April 2026

Kisah Pedagang Bendera Musim Agustusan

Datang dari Garut, Berharap Dagangan Laku untuk Biaya Kambing Kurban

Pria asli kelahiran desa Peundeuy, Kabupaten Garut 50 tahun silam ini mengaku baru sekali ikut berdagangan bendera musiman.

TRIBUN KALTIM/NALENDRO PRIAMBODO
Mahmud satu diantara pedangan pernak-pernik bendera musiman asal Garut di Balikpapan sedang merapikan dagangannya. 

LEMBARAN kain berwarna merah putih tergantung rapi di bawah pohon. Terselip sesosok pria tidur pulas beralaskan koran. Lelaki paruh baya berkulit sawo matang itu menunggu pembeli.

TANGANNYA masih memegang tas selempang berisi uang. Tidurnya tidak bisa pulas, karena ia terganggu raungan suara knalpot motor gede yang kebetulan lewat.

"Udara di Balikpapan panas, capek saya duduk menunggu orang beli bendera, jadi tidur sebentar," kata Mahmud, penjual atribut bendera musiman di lapaknya tepat pinggir jalan dekat jembatan parit Kampung Timur, Balikpapan.

Mahmud dan sekitar 35 orang rombongan asal Kabupaten Garut, Jawa Barat ini mengadu nasib di Balikpapan menjadi pedagang musiman pernak-pernik bendera menyambut kemerdekaan Republik Indonesia sejak empat hari lalu.

Pria asli kelahiran desa Peundeuy, Kabupaten Garut 50 tahun silam ini mengaku baru sekali ikut berdagangan bendera musiman.

Mahmud terpikat cerita sukses beberapa rekannya di kampung berdagang bendera musiman di Kalimantan. Sempat ragu berangkat, anak tertuanya, Suhendra berhasil meyakinkannya untuk pergi bersama.

"Pak, mau tidak ke Kalimantan jual bendera," kata Mahmud menirukan tawaran anaknya.
Akhirnya, pria yang sempat berdagang aksesoris keliling pulau Bali dan Lombok ini luluh juga. "Itung-itung cari pengalaman, karena jualan sepoerti ini cuma ada di bulan Agustus saja," ucapnya.

Bermodal tiket pesawat Rp 1,2 juta/orang. Pasangan bapak ini langsung menghubungi pemilik pernak-pernik bendera dan umbul umbul yang mereka panggil Bos.

Si Bos asal Garut inilah yang mengkoordinir puluhan pedagang bendera musiman di seantero Kota Balikpapan hingga 16 Agustus mendatang.

"Si bos yang urus surat izin ke Satpol PP, kontrak rumah dan yang punya barang," tutur Mahmud.
Untuk makan dan kebutuhan lainnya, Mahmud mengaku mengandalkan beberapa lembar uang bergambar tokoh proklamator republik, Soekarno-Hatta pemberian istrinya dari kampung.

Bendera dan umbul-umbul sendiri sengaja dibuat serta dibawa langsung dari Garut untuk mendapat keuntungan bagus.

Rata-rata tiap pedagang diberikan jatah sekitar 2 kodi untuk dihabiskan selama musim bendera berlangsung.
"Kalau habis, biasanya langsung ditambah stok sama bos," katanya. Dalam tiap kodinya, bercampur umbul-umbul berukuran panjang sekitar empat meter seharga Rp 60 ribu, bendera merah putih berbagai ukuran mulai harga Rp 10-80 ribu termasuk hiasan bendera dengan panjang sekitar 10 meter dengan logo burung garuda seharga Rp 750 ribu.

"Tapi harga itu masih bisa dinego," ucapnya sambil tersenyum. Karena baru pertama kali berdangan,dirinya mengaku menyerahkan urusan rezeki pada yang Maha Kuasa.

Pun demikian, ia masih berharap tren pembelian tetap bagus seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagaimana cerita rekan-rekan sesama pedagang yang sudah 7-8 musim berdagang bendera di Balikpapan.

Biasanya tren penjualan meningkat mulai awal bulan Agustus hingga satu hari menjelang perayaan proklamasi kemerdekaan.

Beberapa kawannya pernah menyebut mendapat keuntungan bersih sekitar lima juta menjelang akhir musim bendera yang jatuh 16 Agustus nanti.

"Kalau tidak laku dan tidak dapat untung ya, terpaksa minta tiket pulang sama istri dikampung," ujar Mahmud sambil menawarkan jaket kulit asli warna hitam buatan anaknya, mirip seperti yang dikenakan vokalis band Ramones, Joey Ramone atau Tria The Changcuters seharga Rp 1,2 juta. Lagi-lagi, masih bisa di nego.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved