Politeknik Negeri Samarinda

Kreatif, Warga di Samarinda Seberang Buat Pewarna Alami dari Kulit Buah Naga

Kebanyakan orang hanya mengonsumsi daging buahnya lalu kulitnya dibuang karena dianggap tidak berguna. Padahal kulit buah naga sangat bermanfaat.

Kreatif, Warga di Samarinda Seberang Buat Pewarna Alami dari Kulit Buah Naga
Pelatihan pembuatan zat pewarna alami Antosianin dari kulit buah naga merah oleh Kelompok Dasa Wisma RT 05 Kelurahan Gunung Panjang, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Dasawisma RT 05 Kelurahan Gunung Panjang, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, mengikuti pelatihan pembuatan zat pewarna alami Antosianin dari kulit buah naga merah.

Pelatihan ini diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Samarinda (Polnes). Ini sejalan dengan visi Polnes menjadi perguruan tinggi vokasi yang unggul di bidang rekayasa dan tata niaga tingkat nasional, serta selaras dengan misi menyelenggarakan pengembangan dan peningkatan kualitas hasil karya intelektual yang aplikatif melalui penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Demikian dikemukakan Muh Irwan ST MT mewakili Ketua UP2M Polnes saat membuka acara yang dihadiri group research dan peserta pelatihan, pada 4 November 2017 lalu, di Jurusan Teknik Kimia Polnes.

Pelatihan ini dilaksanakan atas kerjasama Unit Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (UP2M) Polnes dengan group research di Jurusan Teknik Kimia Polnes serta melibatkan kelompok dasawisma sekitar kampus. Group reserach yang diketuai oleh Firman ST M Eng dengan anggota Sitti Sahraeni ST MEng dan Drs Harjanto MSc sekaligus menjadi narasumber pada pelatihan tersebut.

Menurut Firman, melalui pelatihan ini warga belajar membuat zat warna alami dari kulit buah naga merah. Juga memberikan kontribusi pada pengembangan teknologi sederhana pembuatan zat warna alami sebagai pengganti pewarna berbahaya. "Kaltim sebagai salahsatu penghasil buah naga terbesar di Indonesia. Nah, kebanyakan orang hanya mengonsumsi daging buahnya lalu kulitnya dibuang karena dianggap tidak berguna. Padahal kulit buah naga sangat baik bagi kesehatan," ujar Firman.

Kulit buah naga merah, jelasnya, merupakan salah satu limbah makanan yang dapat dimanfaatkan menjadi pewarna. Kulit buah naga yang berkisar 31-34% dari total keseluruhan berat buah naga ini memiliki beberapa keunggulan.

Harjanto sebagai anggota group research juga membenarkan kulit buah naga merah mengandung antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan daging buah naga.

Sementara Sitti Sahraeni sebagai anggota group research mengungkapkan, pelatihan ini dilaksanakan dengan metode penjelasan tentang pembuatan zat warna alami dari kulit buah naga merah serta menambah pengetahuan masyarakat dasa wisma tentang proses pembuatan pewarna alami.

Pelatihan diberikan kepada warga di sekitar lingkungan Polnes yaitu kelompok Dasawisma RT 05, yang merupakan para ibu rumah tangga yang memiliki usaha warung kecil di rumah. Mereka ada yang menjual keripik, jus buah, es lilin dan makanan ringan seperti sosis dan kue-kue. Makanan dan minuman yang mereka jual sering menggunakan bahan pewarna yang diperoleh di pasaran.

Dra Siti Fatimah, Ketua Dasawisma RT 05 Kelurahan Gunung Panjang mengungkapkan, pelatihan ini sangat berguna bagi masyarakat sekitar kampus karena banyak yang sehari-hari menjual makanan dan minuman. "Melalui kegiatan ini masyarakat dapat lebih memahami bahaya penggunaan bahan kimia pewarna yang berbahaya, juga membuat pewarna sendiri untuk jualan mereka," ujar Fatimah seraya berterimakasih pada pihak Polnes.(*)

Editor: Fransina Luhukay
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved