Tak Asing dengan Tarakan, Begini Pengalaman Berharga Anang Sofyan Saat Bertugas di Daerah Konflik
Bukan itu saja, Anang pernah ditugaskan di daerah rawan konflik yaitu di daerah Papua tepatnya di Puncak Jaya.
Penulis: Junisah |
TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Saat ini Komandan Yonif (Danyon) Raider 613 Raja Alam/RJA dijabat Mayor Inf Anang Sofyan Efendi.
Anang mengantikan Letkol Inf Hipni yang kini menjabat sebagai Komandan Distrik Militer (Dandim) 0907 Tarakan.
Sudah beberapa hari ini pria yang akrab disapa Anang tiba di Tarakan Provinsi Kaltara.
Ternyata Kota Tarakan tidak asing lagi pria lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 2001 itu.
Anang pernah bertugas di Kota Tarakan akhir tahun 2016.
Ia bertugas dalam persiapan operasi pembebasan sandera Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditawan oleh kelompok separatis di Filipina.
Anang bertugas di Kota Tarakan selama enam bulan. Selama menjalankan tugasnya ini ia memetakan keamanan di Provinsi Kaltara dari kejahatan.
Diantaranya, terorisme, illegal logging hingga narkoba.
Pasalnya Tarakan salah satu pintu perbatasan yang rawan masuknya tindak kejahatan ini. Oleh karena itu perlu diantipasi dan diperketat penjagaan keamanannya.
Bukan itu saja, Anang pernah ditugaskan di daerah rawan konflik yaitu di daerah Papua tepatnya di Puncak Jaya.
Di Puncak Jaya ini Anang menjabat sebagai Kasdim 1714 Puncak Jaya. Dalam menjaga keamanan di Puncak Jaya, pria kelahiran Magelang 30 April 1980 ini pernah menghadapi separatis di daerah tersebut.
Bahkan saat ia menghadapi kelompok separatis di daerah tersebut pernah terjadi tembak-menembak.
Tak hanya itu, daerah Puncak Jaya yang lebih banyak pengunungan dan hutan ini tingkat suhu dinginnya dapat mencapai 9 derajat celcius.
Selama 18 bulan Anang bertugas di Puncak Jaya, tugas ini dijalankannya dengan baik.
Sampai akhirnya ia kembali ke Jawa Timur (Jatim) untuk melanjutkan sekolah staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad).
Lulus Seskoad ditempatkan di Kodam VI Mulawarman dan akhirnya dipercaya mengemban tugas menjadi Danyonif 613/RJA.
Selain itu ada pula peristiwa yang tidak pernah ia lupakan seumur hidupnya, saat bertugas di Aceh.
Kala itu ia mendapatkan tugas operasi Darurat Militer terkait dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Di Aceh ini ia bertugas selama 18 bulan.
Ketika bertugas di Aceh, ia masih ingat 26 Desember tahun 2004 Aceh dilanda tsunami hebat.
Pada saat tsunami, ia bersama rekan-rekannya sedang berada di hutan yang agak jauh dari pesisir, karena mencari anggota GAM yang bersembunyi di hutan. Sehingga ia pun selamat bersama rekan-rekannya.
Meskipun begitu, ia diperintahkan atasnya untuk tetap membantu rakyat Aceh yang mengalami musibah tsunami.
Oleh karena itu ia pun membantu mengevakuasi korban yang luka-luka, termasuk jenazah manusia yang ia tidak kenal. (*)