Minggu, 26 April 2026

Merinding, Ini Yang Dialami 154 Orang Mati Suri. Bukti Adanya Alam Baka? Begini Ilmuwan Menjelaskan

Apa kata sains mengenai fenomena ini dan bisakah mati suri dijadikan bukti adanya kehidupan setelah kematian?

Ilustrasi mati suri 

TRIBUNKALTIM.CO - Anda mungkin sudah pernah mendengar kisah-kisah mengenai mati suri. Mayoritas menceritakan adanya pengelihatan setelah dinyatakan mati secara klinis dan banyak yang menganggapnya sebagai bukti adanya kehidupan setelah kematian.

Apa kata sains mengenai fenomena ini dan bisakah mati suri dijadikan bukti adanya kehidupan setelah kematian?

Mati suri atau fenomena Near Death Experiences (NDEs) memiliki lima tanda umum. Di antaranya adalah merasakan roh melayang ke luar dari tubuh atau Out of Body Experience (OBE); merasakan roh masuk ke terowongan yang gelap; merasakan ada sinar terang di ujung terowongan yang seakan menghubungkan ke dunia lain; dan merasa melihat Tuhan, malaikat atau sosok dicintai yang sudah meninggal dunia sedang menyambut di ujung terowongan. 

Dikutip dari BigThink Jumat (12/1/2018), fenomena mati suri sendiri mulai menarik perhatian ilmuwan sejak buku laris Raymond Moody, Life After Life, mengulas lebih dari 100 kasus mati suri pada 1975. 

Selain itu, ahli jantung Fred Schoonmaker membuat laporan selama 18 tahun terhadap lebih dari 2.000 pasiennya dan menemukan lebih dari 50 persen pernah mengalami NDE.

Pim van Lommel, ahli jantung lain juga mengklaim bahwa 12 persen dari 344 pasien yang berhasil dihidupkan kembali mengalami mati suri. Di bukunya yang berjudul Consciousness Beyond Life, dia menuliskan bahwa mati suri adalah bukti kekuatan pikiran tanpa otak.

Namun, seorang dokter di Oregon Emegency Room, Mark Crislip, berkata bahwa seseorang yang mati suri tidak benar-benar mati.

Menggunakan analisis EEG (Elektroensefalografi) yang merekam aktivitas elektrik di sepanjang kulit kepala dan mengukur fluktuasi tegangan yang dihasilkan oleh arus ion di dalam neuron otak, Crislip mengungkapkan bahwa saat mati suri mayoritas orang hanya mengalami perlambatan aktivitas otak.

"Hanya sedikit yang memiliki garis datar atau benar-benar mati. Kondisi itu hanya terjadi selama 10 detik sebelum sadar. Anehnya, aliran darah sesedikit apapun masih dapat menjaga normalitas EEG," jelas Crislip.

"Oleh karena itu, kematian klinis sejatinya tidak ada karena apabila dalam 2 sampai 10 menit jantung tidak berfungsi, maka seseorang tidak akan sadar kembali," sambungnya.

Dalam kondisi ini, jelas Crislip dalam jurnal Lancet, otak kekurangan oksigen dan melepaskan zat kimia saraf yang bisa menyebabkan halusinasi sama seperti pada pengguna narkoba.

Jika dalam situasi seperti ini CPR (Cardiopulmonary resuscitation) atau pertolongan pertama pada jantung tidak dilakukan dalam 5-10 menit pertama, otak pasien bisa rusak dan menyebabkan kematian.

Inilah mengapa kata "Near" digunakan untuk menerangkan "Death" dalam istilah NDE. Sebab, mati suri hanya mendekati kematian, tidak mati dalam arti sesungguhnya.

Hal ini juga menyimpulkan bahwa mati suri bukanlah perjalanan ke alam baka karena mereka tidak sungguh-sungguh meninggal.

154 orang yang pernah mati suri ditanya apa saja yang mereka alami.

Jawabannya bikin merinding! 

Tak ada yang pernah tahu tentang apa yang terjadi setelah mati.

Namun, orang-orang yang pernah punya pengalaman mendekati kematian bisa memberi gambaran.

 
Charlotte Martial dari University Liège di Belgia meneliti 154 orang yang pernah mendekati kematian atau mengalami mati suri.

Dia dan timnya mengumpulkan beragam pengalaman orang-orang tersebut serta mencari tahu apakah pengalaman mendekati kematian selalu sama baik jenis maupun urutannya.

Riset yang dipublikasikan di Frontiers Research of Neuroscience bulan Juli 2017 mengungkap, 80 persen responden merasakan kebahagiaan saat mendekati kematian.

Sementara, 69 persen melihat cahaya terang dan 64 persen bertemu dengan roh-roh orang dikenal yang sudah mati lebih dahulu.

Pengalaman yang paling jarang dirasakan adalah pikiran yang lebih cepat (5 persen) dan kemampuan melihat masa depan (4 persen).

Menurut riset ini, pengalaman mendekati kematian unik pada setiap orang.

Tidak semua jenis pengalaman ada walaupun ada yang paling umum.

Selain merasakan kedamaian, pengalaman paling umum dirasakan saat mati suri adalah melihat terowongan dengan cahaya terang di ujungnya.

Meski tak ada urutan pengalaman mati suri, tetapi sepertiga orang yang mengalaminya merasakan keluar dari tubuh dan kembali lagi.

"Ini menunjukkan bahwa pengalaman mendekati kematian selalu bermula dari keluar dari tubuh fisik dan berakhir saat kembali lagi," kata Martial seperti dikutip Science Daily, 26 Juli 2017 lalu.

Martial mengungkapkan, riset tentang pengalaman mendekati kematian perlu agar ilmuwan memperoleh gambaran untuh yang ilmiah soal fenomena itu.

Menurutnya, kita masih perlu tahu lebih jauh tentang pengalaman itu, apakah dipengaruhi oleh ekspektasi tiap individu dan latar belakang budaya. 

Kematian Bisa Jadi Tidak Semenakutkan yang Anda Kira

Beberapa tahun yang lalu, psikolog Kurt Gray berkesempatan untuk membaca pernyataan terakhir dari 500 narapidana yang dieksekusi antara tahun 1982 hingga 2003.

Dia heran. Mayoritas dari pertanyaan tersebut bernada positif.

Untuk mengetahui bila hal ini hanya terjadi pada sebagian orang saja atau merupakan fenomena psikologi yang meluas, Gray pun melakukan sebuah penelitian bersama dengan Universitas North Carolina, Chapel Hill.

Dituturkannya dalam makalah yang dipublikasikan melaluiPsychological Science, Gray dan kolega membagi penelitian ini menjadi dua fase.

Pada fase pertama, para peneliti menganalisa unggahan blog yang ditulis oleh pasien-pasien kanker dan amyotrophic lateral sclerosis(ALS) sebelum meninggal, dan membandingkannya dengan tulisan fiksi dari para partisipan yang diminta untuk membayangkan bila mereka divonis kanker serius yang tak dapat disembuhkan.

Ternyata, tulisan para pasien secara rata-rata lebih positif daripada tulisan orang-orang sehat yang membayangkan dirinya akan mati.

Frekuensi penggunaan kata-kata positif, seperti “bahagia” dan “cinta”, juga didapati semakin meningkat ketika pasien mendekati ajal.

Hal serupa juga ditemukan pada fase kedua penelitian ketika para peneliti membandingkan pernyataan terakhir dari para narapidana hukuman mati dengan pernyataan terakhir yang ditulis oleh partisipanonline.

Menggunakan usaha terakhir mereka, kebanyakan narapidana mengungkapkan rasa terima kasih dan cinta kepada keluarga dan teman-teman mereka.

Tidak sedikit juga yang berkata bahwa mereka pasrah dan rela menerima hukuman mati.

Sebaliknya, orang-orang sehat yang diminta untuk membayangkankematian lebih seiring menggunakan kata-kata negatif, seperti “takut”, “teror”, dan “cemas”.

Kepada Nymag.com 7 Agustus 2017, Gray mengatakan, yang kita temukan adalah orang-orang benar-benar mencari arti dari kematian mereka.

‘Aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku cintai’. ‘Aku akan melakukan sesuatu untuk Yesus’. Mereka juga mengungkapkan cinta kepada keluarga dan teman-teman mereka.

Hal ini, menurut Gray, sesuai dengan konsep “sistem kekebalan psikologi” yang pernah ditulis oleh psikolog Harvard Dan Gilbert dalam bukunya Stumbling on Happiness.

Ketika menghadapi situasi yang buruk, pikiran kita bekerja keras untuk mencari titik terang atau alasan di balik semuanya.

Dia mengatakan, sebagian dari alasan mengapa pasien dan narapidana begitu positif adalah karena mereka berfokus pada orang lain.

Sebaliknya, kita yang sehat biasanya lebih egois ketika memikirkan kematian – kita berpikir mengenai diri kita sendiri dan betapa sulitnya hari-hari kita nanti.

[Michael Hangga Wismabrata, Shierine S Wangsa, Kompas.com/Big Think]
 

 

 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved