Minggu, 26 April 2026

Berita Internasional Terkini

PBB Peringatkan soal Krisis Pangan Global yang Dipicu Panas Ekstrem

Laporan terbaru PBB memperingatkan bahwa gelombang panas ekstrem semakin mendorong sistem pangan dan pertanian dunia ke titik kritis.

TRIBUNKALTARA.COM
CUACA PANAS EKSTREM - Ilustrasi kondisi Tanjung Selor Ibu Kota Provinsi Kaltara yang terik di siang hari . Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa gelombang panas ekstrem semakin mendorong sistem pangan dan pertanian dunia ke titik kritis.(TRIBUNKALTARA.COM/ DESI KARTIKA) 

Ringkasan Berita:
  • Gelombang panas ekstrem mengancam sistem pangan global, menurunkan produktivitas pertanian, perikanan, dan kehutanan.
  • Dampak nyata sudah terlihat di berbagai negara, dari penurunan hasil panen hingga kerugian ekonomi besar.
  • PBB mendesak langkah adaptasi segera, termasuk teknologi pertanian tahan panas, sistem peringatan dini, dan dukungan finansial bagi petani.

TRIBUNKALTIM.CO - Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa gelombang panas ekstrem semakin mendorong sistem pangan dan pertanian dunia ke titik kritis.

Gelombang panas adalah kondisi suhu tinggi yang berlangsung lama, baik siang maupun malam, yang berdampak langsung pada hasil panen, ternak, perikanan, dan hutan, serta membahayakan kesehatan pekerja sektor pertanian.

Menurut laporan bersama Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), panas ekstrem telah menyebabkan hilangnya sekitar 500 miliar jam kerja setiap tahun.

Baca juga: Filipina Dilanda Panas Ekstrem, Sekolah Ditutup 2 Hari, Terapkan Kembali Kelas Online

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menegaskan bahwa fenomena ini menjadi faktor risiko tambahan yang memperburuk kelemahan sistem pertanian.

“Panas ekstrem semakin menentukan bagaimana sistem pangan dan pertanian kita bekerja,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahwa panas ini menjadi faktor risiko tambahan yang memperparah kelemahan yang sudah ada dalam sistem pertanian kita. 

Risiko Berlipat Ganda

"Panas ekstrem adalah 'faktor pelipat ganda risiko yang besar'," ujar Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu.

Maksudnya adalah panas bukan hanya satu masalah tunggal melainkan membuat masalah lain seperti ekonomi dan ketersediaan pangan jadi jauh lebih sulit.

Dampak panas ekstrem sudah mulai terlihat jelas di berbagai sistem pertanian.

Untuk banyak tanaman utama, hasil panen mulai menurun saat suhu di atas 30 derajat C.

Suhu panas ini membuat struktur tanaman melemah dan produktivitasnya berkurang.

Baca juga: Cuaca Panas Ekstrem Terjadi di Balikpapan, Ini 8 Langkah yang Bisa Dilakukan Agar Tetap Sehat

Hewan ternak bahkan mengalami stres, terutama babi dan unggas yang tidak bisa mendinginkan tubuhnya sendiri dengan baik.

Akibatnya, pertumbuhan mereka terhambat, produksi susu menurun, dan dalam kasus yang parah, bisa menyebabkan gagal organ.

Di laut, kenaikan suhu menurunkan kadar oksigen sehingga ikan-ikan tertekan.

Tercatat 91 persen wilayah lautan global mengalami setidaknya satu kali gelombang panas laut pada tahun 2024.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved