Destinasi

Dulu Rusak dan Terbakar, Kini Lihat Panorama Asri dan Menyejukkan di Kebun Raya Balikpapan

Cuaca yang cerah memayungi perjalanan ke kebun ini, yang berada di alamat Jalan Sungai Wain, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara.

Penulis: Budi Susilo |
TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO
Panorama Kebun Raya Balikpapan yang berada dibilangan Jalan Sungai Wain, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (11/3/2018) pagi. 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co Budi Susilo

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Sejarah eksistensi alam hutan di Balikpapan pernah mengalami pengalaman pahit.

Satu di antaranya Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), yang era beberapa tahun silam menjadi sasaran perusak hutan, terkena pelampiasan hawa nafsu para pemburu biota hutan, sampai juga terkena keganasan jilatan si jago merah.

Hutan rusak, banyak yang menyayangkan, rindu akan kembali ke suasana sebelumnya.

Pagi hari, Tribunkaltim.co sambangi Kebun Raya Balikpapan, dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman jaraknya berkisar 15 kilometer, Minggu (11/3/2018).

Baca: Sebelum Berakhir Masa Jabatan, Yusran Aspar Ingin Jembatan Tol Teluk Balikpapan Rampung

Cuaca yang cerah memayungi perjalanan ke kebun ini, yang berada di alamat Jalan Sungai Wain, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selama menempuh jalur darat, melintasi jalanan aspal, tidak bertanah dan berbatu.

Saat masuk ke area Jalan Sungai Wain, sepi kendaraan bermotor, daerah ini seakan tak mengenal macet arus lalu-lintas ketimbang dibandingkan di daerah kilometer 5 Jalan Soekarno Hatta.

Baca: Messi Absen, Suarez-Coutinho Menangkan Barcelona, Inilah Hasil Liga Spanyol

Begitu tiba di lokasi kebun raya, disambut taman mini yang menonjolkan patung bunga Kantung Semar, sebagai ikon khas Kalimantan.

Nuansa taman rindang, tanaman tertata rapi, ada unsur air yang tertampung sebuah kolam menghilangkan rasa capek perjalanan.

Tidak lama, masuk ke dalam kebun raya.

Saat akan masuk ke kawasan ada sebuah pos dihuni dua orang penjaga menyapa dan menyambutnya secara ramah.

Baca: Gabung ke Lecia Gdansk, Wajah Egy Maulana Mulai Terpampang di Media-media Polandia

Masuk ke dalam kebun raya ternyata belum dimintai tarif retribusi.

Setiap pengunjung bebas menikmati, masih gratis dengan syarat mematuhi aturan berlaku seperti menjaga kebersihan, sopan santun, dan tak merusak semua yang ada di dalam kebun raya.

“Patuhi tata tertib, kalau melanggar bisa kami kenakan hukuman,” ujar sang petugas sekuriti yang mengenakan seragam dinas hitam.

Tidak lama kemudian, ketika masuk ke dalam kawasan, atmosfir kebun raya sangat berbeda dengan di pusat kota.

Kebun raya ini memberi ketentraman, serasa masuk dalam ruang pedesaan yang sehat, menyenangkan.

Baca: Masih Ingat Sonya Depari yang Ngaku Anak Jenderal? Begini Kabarnya Sekarang, Ada Berita Duka Lagi

Angin bertiup sepoi-sepoi, dahan pohon yang tersapu angin ini memberikan suara irama alam.

Hawa yang berhembus pun segar, memberikan ketentraman jiwa raga.

Infrastruktur jalan di kebun raya mulus, nyaman aman untuk dilintasi.

Rasa lelah selama perjalanan lunas terbayar dengan suguhan kebun raya yang penuh pesona dan mengesankan.

Saat Tribunkaltim.co bersua dengan Trisno (42), Koordinator bidang Konservasi Kebun Raya Balikpapan, menuturkan, dahulunya Kebun Raya Balikpapan ini bukanlah sebuah kawasan kebun yang ditumbuhi beberapa pohon tanaman dan buah.

Namun kala itu merupakan kawasan Hutan Lindung Sungai Wain.

Kondisi hutan lindung terancam dari beberapa bencana kerusakan, di antaranya akibat dari ulah manusia.

“Ada yang mencoba berburu binatang. Ada yang mau lakukan pembalakkan liar. Sampai sekarang masih ada bekasnya, bekas tebangan-tebangan pohon ulin, menebang liar,” ujarnya.

Tidak hanya itu, pernah sekitar tahun 1997 dan tahun 1998, pernah mengalami kebakaran hebat.

Hutan terbakar, asap putih pun mengebul ke berbagai arah, hampir selimuti seluruh Karang Joang, mengancam kawasan hutan lindung.

Dugaannya, ada kesengajaan dari beberapa pihak tertentu yang ingin melakukan perambahan hutan menjadi kawasan perkebunan atau pemukiman.

Kerusakan hutan akibat terbakar sangat berat, hutan berkondisi kritis, banyak pohon-pohon lenyap terbakar, sudah berwajah buruk tak layak lagi disebut hutan belantara.

“Tidak mungkin kalau terbakar sendiri, pasti ada campur tangan manusia yang sengaja membakar. Bisa membuang puntung rokok sembarangan atau faktor lainnya. Sayangnya pelaku sampai sekarang belum tertangkap. Kami hanya berupaya selamatkan saja supaya tidak merembet kemana-mana,” ungkap Nono, panggilan akrab Trisno.

Hutan berstatus parah, banyak warga Balikpapan yang sedih.

Akhirnya, kata Nono, banyak yang mengusulkan hutan disulap menjadi kebun raya.

Memulihkan kembali seperti semula sekaligus bisa menjadi simbol tekad dalam mempertahakan kelestarian alam Hutan Lindung Sungai Wain.

Tak heran sekarang Kebun Raya Balikpapan ini bertetangga dekat dengan Hutan Lindung Sungai Wain.

Upaya mengembalikan keperawanan hutan didukung penuh pemerintah daerah dan pusat.

Perjuangan menjadikan kebun raya pun dikabulkan, semua elemen setuju Balikpapan memiliki kebun raya yang kaya manfaat untuk semua lintas generasi.

“Bisa jadi wisata edukasi, penelitian, wisata keluarga, dan banyak lagi manfaatnya. Balikpapan bisa bangga dikenal sebagai kota yang mendukung pelestarian alam. Balikpapan ikut berperan menjaga bumi dari kerusakan,” kata Nono, pria kelahiran Samboja ini.

Senada disampaikan Ramlani, Koordinator Informasi Kebun Raya Balikpapan, menjelaskan, usulan pemantapan menjadikan kawasan kebun raya dilangsungkan sekitar tahun 2000.

Lanjut di tahun 2005, perjuangan tak sia-sia, pemerintah pusat melalui Kementrian Kehutanan mendukung penuh, secara resmi setuju disulap sebagai kebun raya.

Panorama Kebun Raya Balikpapan yang berada dibilangan Jalan Sungai Wain, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (11/3/2018) pagi.
Panorama Kebun Raya Balikpapan yang berada dibilangan Jalan Sungai Wain, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (11/3/2018) pagi. (TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO)

Berlanjut di tahun 2008, melakukan penataan secara maksimal, layaknya kebun raya yang sesungguhnya.

“Dibuat penataan. Yang sempat rusak dipulihkan. Ditambah lagi berbagai infrastruktur untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Dibuat rumah lamin, gazebo, jalanan,” urai Lani di beranda Rumah Lamin Kebun Raya Balikpapan.

Begitu dinyatakan rampung, barulah di tahun 20014 Kebun Raya Balikpapan diresmikan secara langsung pemerintah provinsi yang saat itu dihadiri langsung Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak.

Hingga kini, tahun terus bergulir, Kebun Raya Balikpapan terus berusaha menjadikan alam raya yang terbaik.

Buat kebanggan warga Balikpapan.

Menurut Lani, entah sampai kapan kebun raya ini mencapai masa puncak.

Panorama Kebun Raya Balikpapan yang berada dibilangan Jalan Sungai Wain, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (11/3/2018) pagi.
Panorama Kebun Raya Balikpapan yang berada dibilangan Jalan Sungai Wain, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (11/3/2018) pagi. (TRIBUN KALTIM/BUDI SUSILO)

Kebun Raya Bogor yang sudah berusia 200 tahun lebih saja belum menyatakan diri sebagai kebun raya yang sudah berada di puncak lestari.

“Sebenarnya kami masih banyak perbaikan, belum bisa dibandingkan seperti di Kebun Raya Bogor. Kami menggangap masih banyak kekurangan, masih butuh dukungan dari berbagai pihak untuk mengengembangkan dan memajukan Kebun Raya Balikpapan,” tutur Lani, pria kelahiran Balikpapan ini. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved