Banjir Genangi Samarinda, Warga Ogah Mengungsi dan Pilih Tinggal di Lantai Dua
Untuk kebutuhan makan dan minum disediakan oleh sejumlah warga, relawan dan petugas
Penulis: Doan E Pardede | Editor: Januar Alamijaya
Laporan Wartawan Tribunkaltim.co, Doan Pardede
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Banjir yang menggenangi 3 kecamatan di Kota Samarinda, yakni Samarinda Seberang, Loa Jalan Ilir, dan Sungai Kunjang, Jumat (23/3/2018) siang, perlahan-lahan mulai surut.
Seperti di seputaran Jalan HM Rifaddin, titik-titik banjir tak lagi terlihat. Sehari sebelumnya, ketinggian air di titik ini mencapai lebih 1 meter. Bahkan tepat di depan kampus IAIN Samarinda, 1 buah mobil masuk ke parit karena tak kuat menahan kuatnya arus air yang menggenangi jalan. Di sepanjang jalan, warga juga terlihat mulai menjemur perabotan yang sebelumnya terendam air.
Titik banjir yang masih terlihat cukup parah ada di Kecamatan Loa Janan Ilir, tepatnya di seputaran Jalan Barito RT 17, RT 11 dan RT 20, Kelurahan Simpang Tiga. Di titik ini, ketinggian air rata-rata masih sepinggang orang dewasa. Bahkan di sejumlah titik, ketinggian air masih di atas 1,5 meter dan sama sekali tak bisa dilalui dengan berjalan kaki. Bekas ketinggian air juga masih membekas di dinding-dinding rumah.
Sebagian warga yang rumahnya berlantai dua memilih tinggal dan menunggu air surut. Untuk kebutuhan makan dan minum disediakan oleh sejumlah warga, relawan dan petugas yang hilir mudik dengan perahu. Sementara sebagian warga yang rumahnya hanya 1 lantai memilih mengungsi ke rumah kerabat atau menempati tenda-tenda darurat yang ada di sekitar Jalan Barito.
Beberapa warga yang rumahnya sudah mulai mengering dan bisa dimasuki mulai tampak bersih-bersih. Sejumlah perabotan yang sebelumnya terendam air dijemur di depan rumah.
Petugas Kepolisian dan relawan juga tampak hilir mudik dengan perahu dan berjalan kaki, jika sewaktu ada warga yang membutuhkan bantuan atau mendesak untuk dievakuasi. Tak jauh dari perumahan warga, juga tampak sudah berdiri posko kesehatan lengkap dengan petugas medis.
Supandi, warga yang sudah tinggal sejak tahun 1996 di RT 17 Jalan Barito menyebut bahwa ini adalah banjir terparah dalam 10 terakhir.
"Kalau hujan, memang di sini sering banjir. Tapi biasanya nggak lama dan nggak tinggi. Inilah yang paling parah," ujarnya.
Supandi mengaku tak mengungsi dan memilih menunggu air surut di lantai 2 rumahnya. Yang dibutuhkan warga saat ini menurutnya adalah truk sampah atau alat yang bisa digunakan mengumpulkan sampah. Pasalnya, karena air tak kunjung surut, sampah terus berdatangan kendatipun sudah dibersihkan.
"Maunya ada seperti truk sampahlah. Ada sampah langsung dibawa," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/banjir_20180323_151539.jpg)