Senin, 18 Mei 2026

Penghuni 'Rumah Jokowi' Inginkan Segera Tersambung Layanan Air Bersih PDAM

Jalan kompleks rumah juga sudah tergarap, telah terbuka aksesnya secara luas meski belum terlapisi aspal mulus.

Tayang:
Penulis: Budi Susilo |
TRIBUN KALTIM / BUDI SUSILO
Keberadaan 'rumah Jokowi' untuk masyarakat berpenghasilan rendah di kilometer lima Kelurahan Batu Ampar Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur pada Minggu (1/4/2018) siang. 

Laporan Wartawan Tribunkaltim.co Budi Susilo

TRIBUNKALTIM.CO BALIKPAPAN – Warga Balikpapan yang mengambil rumah subsidi perumahan masyarakat berpenghasilan rendah yang pernah dikunjungi Presiden Jokowi di kilometer lima berharap banyak pada Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Balikpapan untuk segera sambungkan pipa aliran air bersih.

Satu di antara konmumen rumah subsidi ini, Suhasni, mengaku, keluarganya sudah melakukan akad kredit dengan Bank Tabungan Negara, mengambil satu unit rumah subsidi namun sampai sekarang masih kesulitan untuk mendapatkan pelayanan air bersih.

“Sudah akad sejak dua bulan yang lalu. Sudah penyerahan kunci rumah. Bagus saja kondisi rumahnya,” katanya kepada Tribunkaltim.co saat disambangi di kediamannya di blok Q pada Minggu (1/4/2018) sore.

Bangunan rumah subsidi telah rampung sudah berdiri tegak sekitar akhir tahun 2017. Fisik rumah sudah berpenampilan baik dan kokoh. Bagian luar rumah sudah cantik, dicat putih dan merah.

Jalan kompleks rumah juga sudah tergarap, telah terbuka aksesnya secara luas meski belum terlapisi aspal mulus.

“Sayangnya air belum juga masuk. Dimana ini peran PDAM? Kan disini sudah mulai banyak warga yang tinggal. Sudah banyak rumah yang terbangun, kenapa PDAM belum juga masuk kesini,” tegas ibu beranak dua ini.

Sampai sekarang ini, pihaknya mencari sumber air bersih selalu bergantung pada tumpahan air hujan.

Atau solusi lain, saat hujan jarang turun, terpaksa harus membeli air keliling yang per tandon ukuran 1.200 liter bertarif Rp 85 ribu sekali isi.

“Beli sama tandon keliling. Kalau tidak hujan, memakainya boros, tidak sampai lima hari sudah habis, ya beli lagi air isi ulang tandon,” ungkapnya.

Kondisi ini tidak hanya dirasakan Suhani saja, para tetangga di sekitaran yang sudah tinggal di rumah Jokowi juga ada yang mengalami hal sama, mencari air bersih dari tampungan guyuran hujan dan membeli di tukang air keliling.

Dia pun berharap kepada PDAM Balikpapan harusnya peka. Rumah subsisi merupakan program pemerintah pusat semestinya diutamakan untuk layanan pengadaan air bersih.

PDAM harus cepat lakukan penyambungan pipa, aliri air bersih. Apalagi rumah jokowi ini juga bertetangga dengan komplek rumah non subsidi yang sudah tersambung dengan jaringan PDAM, setidaknya mudah untuk melakukan penyambungan sampai komplek rumah subsidi ini.

“Susah juga kalau kami harus tunggu lama pengadaan air PDAM. Tolonglah PDAM, cepat masuk kesini. Warga disini semuanya pasti butuh air. Air itu kebutuhan utama juga,” katanya.

Kesulitan Cari Sumber Daya Air

Menanggapi permintaan penghuni rumah subsidi masyarakat berpenghasilan rendah di kilometer lima itu, pihak PDAM Balikpapan, menegaskan sedang berupaya membangun infrastruktur penambahan kapasitas dan pemantapan proses treatment.

“Sebenarnya kita sudah sangat siap layani. Kita lagi berupaya penambahan kapitas air dahulu,” ujar Direktur Utama PDAM Balikpapan, Haidar Effendi saat ditemui belum lama ini.

Kata dia, kondisi PDAM Balikpapan belum dikatakan sempurna, sebab ada beberapa sumber air yang masih belum makimal. Penyediaan air bersih di beberapa tempat di Balikpapan yang menjadi kendala ialah sumber airnya, yang dianggap masih minim.

“Membangunnya kaitan erat sama prosesnya, butuh waktu, butuh tahunan. Perlu waktu, ada proses lama untuk penambahan kapasitas air,” ujar Haidar.

Menurut dia, pemasangan pipa aliran air PDAM terpasang namun tidak bisa mengalir airnya, tentu saja akan seakan sia-sia, sama saja tidak melakukan sesuatu.

Karena itu, PDAM sekarang sedang berupaya memaksimalkan sumber airnya, mengingat pertumbuhan penduduk di Balikpapan selalu meningkat.

“Jangan sampai pasang di situ (rumah subsisi di kilometer lima) kemudian air dialiri nanti di tempat lain mati. Kami tidak mau air dialiri ke tempat baru tetapi yang tempat lama tidak dapat air, kan sama saja bermasalah nantinya,” katanya.

Dipastikan, estimasi treatment dan penambahan sumber air paling cepat akhir tahun ini.

“Treatment sedang dibuat. Air dari waduk Teritip ada 200 liter per detik. Treatment sedang dibuat, Desember ini selesai. Insyaa Allah tahun 2019 sudah bisa jalan,” ungkapnya.

Selama ini, tambah dia, PDAM pun juga mengalami kesulitan untuk melayani di beberapa wilayah seperti Kampung Baru Kelurahan Baru Tengah dan daerah Batakan.

“Kalau yang pusat kota kami belum bisa buat sambungan air itu ada di daerah Karang Rejo atas. Tempatnya di daerah tinggi, susah,” tegas Haidar.

Kendala lain PDAM bukan saja soal pengadaan sumber air namun juga kerusakan dari bencana. Hampir sekitar 70 persen pipa PDAM berada di bawah jalan dan bangunan. Ada resiko pecah dan patah.

“Sambungan banyak rusak, ada pelebaran jalan dampaknya bocor dan muntah airnya, terbuang mubazir,” tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved