Gunung Merapi Erupsi
Bahaya untuk Kesehatan Manusia, Bagaimana Cegah Dampak Abu Vulkanik?
Abu vulkanik yang tersebar di udara usai erupsi gunung berapi menyimpan kandungan berbahaya bagi kesehatan manusia.
TRIBUNKALTIM.CO -- Abu vulkanik yang tersebar di udara usai erupsi gunung berapi menyimpan kandungan berbahaya bagi kesehatan manusia, salah satunya menyebabkan penyakit paru yang fatal.
Gas yang dikeluarkan saat erupsi gunung berapi antara lain karbonmonoksida (CO), karbondioksida (CO2), hidrogen sulfide (H2S), sulfurdioksida (S02), dan nitrogen (NO2).
Semua zat tersebut diketahui berbahaya bagi manusia.
Sementara itu, abu vulkanik mengandung mineral kuarsa, krsitobalit atau tridimit.
Baca: Putra Almarhum Bripka Marhum Diberi Dispensasi Masuk Kepolisian
Zat ini adalah kristal silika bebas atau silikon dioksida (SiO2) yang bisa menyebabkan silikosis atau penyakit paru yang fatal.
Menurut Dr. Erlang Samoedro Sp.P FISR, seorang ahli paru dan sebagai Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, mengatakan, penyakit silikosis sering terjadi pada pekerja tambang.
Baca: Masuk Pekan Terakhir Premier League, 20 Tim Main Serentak! Berikut Jadwal Siaran Langsung
"Para pekerja tambang bekerja di wilayah dengan udara yang mengandung silika berkonsentrasi tinggi dalam jangka waktu lama. Abu silikosis ini sangat halus dan menyerupai pecahan kaca," katanya kepada Kompas.com pada hari Jumat (11/5/2018).
Abu vulkanik setelah erupsi Merapi Jumat, (11/5/2018) juga mengandung kandungan SiO2.
Baca: Erupsi Merapi, Grup Band Europe Tetap Manggung di Volcano Rock Festival 2018 Hari Ini!
Secara umum, Erlang menjelaskan gejala yang harus diwaspadai apabila berada di wilayah dengan tingkat abu silikosis tinggi, seperti wilayah yang terdampak abu vulkanik.
"Pertama, terjadi iritasi pada hidung dan membuat hidung meler, lalu sakit tenggorokan disertai batuk kering dan sesak napas atau mengi dengan dahak berlebihan," jelasnya.
Baca: Begini Tanda-tanda yang Dirasakan Juru Kunci Sebelum Merapi Meletus
Untuk pencegahannya, Erlang menyarankan untuk menutup jendala, pintu dan meminimalkan penggunaan pemanas atau pendingin udara.
Tujuannya agar mengurangi abu masuk ke dalam rumah.
Lalu, menggunakan masker tipe N-95 dan kacamata ketika di luar ruangan atau saat membersihkan abu.
Namun, apabila tidak ada masker jenis N-95, masker biasa diperbolehkan.
Baca: Bule Ini Ungkap Bahasa Inggris Ayu Ting Ting Selevel Cewek-cewek di Blok M, Maksudnya?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pasir-dan-debu-letusan-freatik-merapi_20180512_113134.jpg)