Siapa Sangka, Tradisi Mudik Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit, Begini Sejarahnya
Lebaran kerap diidentikan dengan tradisi mudik. Para perantau kembali ke kampung halaman
TRIBUNKALTIM.CO - Lebaran kerap diidentikan dengan tradisi mudik. Para perantau kembali ke kampung halaman, melepas rindu, dan berkumpul dengan keluarga besar.
Pilihan cara untuk kembali ke kampung halaman juga semakin beragam.
Jika kembali ke masa lalu, seperti apa sejarah mudik?
Baca: Karier Pesepakbola Asal Palestina Berakhir Setelah Ditembak di Lutut Oleh Sniper Israel
Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengungkapkan, mudik sudah ada sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.
"Awalnya, mudik tidak diketahui kapan. Tetapi ada yang menyebutkan sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam," Silverio saat dihubungi Kompas.com, Rabu (6/52018) siang.
Dulu, wilayah kekuasaan Majapahit hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya.
Baca: Survei Charta Politika, 40,4 Persen Pemilik PKS di Provinsi Ini Pilih Jokowi Jadi Presiden
Oleh karena itu, pihak kerajaan Majapahit menempatkan pejabatnya ke berbagai wilayah untuk menjaga daerah kekuasaannya.
Suatu ketika, pejabat itu akan balik ke pusat kerajaan untuk menghadap Raja dan mengunjungi kampung halamannya.
Hal ini kemudian dikaitkan dengan fenomena mudik.
"Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Terutama mereka balik menghadap Raja pada Idul Fitri," kata dia.
Istilah mudik sendiri baru tren pada tahun 1970-an.
Baca: Mau Beli Kue Lebaran, Kakek Ini Kaget Uang yang Diambilnya dari Bank Berubah Seperti Ini
Mudik merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh perantau di berbagai daerah untuk kembali ke kampung halamannya.
Mereka kembali ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama dengan keluarga.
"Mudik menurut orang Jawa itu kan dari kata Mulih Disik yang bisa diartikan pulang dulu. Hanya sebentar untuk melihat keluarga setelah mereka menggelandang (merantau)," ujar Silverio.

Selain itu, masyarakat Betawi mengartikan mudik sebagai "kembali ke udik".
Dalam bahasa Betawi, kampung itu berarti udik.
Saat orang Jawa hendak pulang ke kampung halaman, orang Betawi menyebut "mereka akan kembali ke udik".
Akhirnya, secara bahasa mengalami penyederhanaan kata dari "udik" menjadi "mudik".
Selain mengunjungi sanak keluarga di kampung halaman, saat mudik, para perantau juga melakukan ziarah ke kuburan sanak keluarganya.
Hal tersebut dilakukan untuk meminta doa restu agar pekerjaan dan kehidupan di perantauan berlangsung baik.
Berbeda
Dalam perkembangannya, mudik pada zaman dahulu dengan zaman sekarang terdapat perbedaan.
Pada zaman dulu, mudik dilakukan secara natural untuk mengunjungi dan berkumpul dengan keluarga.
Namun, menurut Silverio, pada era sekarang, perantau yang mudik sekaligus menunjukkan eksistensi dirinya selama di perantauan.
Mereka yang balik ke kampung akan membawa sesuatu yang membanggakan diri dan keluarganya.
"Pada era ini kebanyakan pemudik memaksakan diri untuk tampil sebaik mungkin, cenderung wah," kata Silverio.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Kisah Menarik di Balik Sejarah Mudik..