Terbukti Selamatkan Banyak Nyawa, Operasi Caesar Ternyata Berawal dari Ritual Ini
Dalam kepercayaan mereka, Julius Caesar merupakan anak pertama yang lahir dengan proses tersebut.
Pada 1940, bedah caesar mulai umum dilakukan. Hal ini mengikuti kemajuan dalam penemuan antibiotik.
Selanjutnya, perbaikan teknik bedah, transfusi darah, dan prosedur antiseptik juga turut membuat prosedur ini lebih baik lagi. Semua itu mengurangi risiko kematian yang terjadi pada bedah caesar.
Batas Aman
Tahun 1985, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan tingkat bedah sesar optimal adalah 10 hingga 15 persen dalam populasi tertentu. Rekomendasi ini diberikan bukan tanpa alasan.
Menurut WHO, jika operasi caesar dilakukan di atas tingkat tersebut, beban berlebihan akan terjadi untuk perawatan ibu dan anak baik sebelum dan sesudah persalinan. Artinya, prosedur ini meningkatkan jumlah perempuan dan bayi untuk terpapar risiko yang terkait operasi.
Meski sudah diberi batasan, pada kenyataannya, di akhir abad ke-20 persentase operasi caesar di Amerika Serikat meningkat tajam. Sebagian besar terjadi akibat peningkatan jumlah malpraktik dokter kebidanan untuk menemukan indikasi masalah dalam persalinan.
Pada awal abad 21, tingkat bedah caesar melebihi rekomendasi WHO. Angka yang melonjak tinggi terlihat pada beberapa negara seperti Inggris, Australia, Jerman, Perancis, Italia, India, China, dan Brasil.
[Resa Eka Ayu Sartika]
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penemuan yang Mengubah Dunia: Operasi Caesar, Berawal dari Ritual",