Pulau Tarakan Kaya Potensi Minyak Bumi, Belanda dan Jepang Berebut Menguasai

Tarakan adalah kota yang terletak di Provinsi Kaltara. Dalam sejarahnya, Kota Tarakan merupakan salah satu daerah yang luar biasa

Penulis: Junisah | Editor: Sumarsono
Tribun Kaltim
Rumah Boender peninggalan zaman Belanda masih terawat dengan baik di Kota Tarakan. 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Tarakan adalah kota yang terletak di Provinsi Kaltara. Dalam sejarahnya, Kota Tarakan merupakan salah satu daerah yang luar biasa, karena memiliki sumber minyak bumi dengan kualitas sangat baik. Tidak salah jika Kota Tarakan menjadi incaran penjajah.

Potensi sumber minyak bumi membuat beberapa negara Eropa dan Asia tertarik untuk menguasai Pulau Tarakan. Awalnya Belanda yang pertama kali masuk di Tarakan pada tahun 1800. Tentara Belanda inilah yang kali pertama menemukan sumur minyak, sekitar tahun 1896.

Kegiatan penambangan minyak mulai dilakukan pemerintah Belanda di Pulau Tarakan. Namun kegiatan ini penambangan minyak terhenti ketika tentara Jepang melakukan penyerangan ke Tarakan pada 1941. Namun, tentara Jepang gagal melakukan penyerangan.

Baca: Perang Sanga Sanga Tercatat dalam Sejarah Indonesia, Sayang Tokoh Pejuangnya tak Pernah Disebut

Dengan adanya penyerangan yang dilakukan tentara Jepang, Belanda akhirnya membuat bunker-bunker untuk persembunyian tentara-tentaranya. Termasuk mendirikan rumah bagi prajurit dan perwira. Peninggalan dari Belanda saat ini masih ada.

Peninggalan Belanda yang ada di Tarakan saat ini, seperti bunker di Bandara Juata Tarakan, Peningki, Selumit dan beberapa lokasi lainnya di Tarakan. Ada juga rumah Boendar, dulunya perumahan tentara Belanda yang letaknya di sebelah Kantor DPRD Kota Tarakan, yang berubah menjadi Musem Flora dan Fauna dikelola Badan Lingkungan Hidup (BPLH) Tarakan.

Sejarahwan Kota Tarakan, Usman Said Assegaf mengungkapkan, dari sejarah Kota Tarakan inilah, bisa diketahui, bawah Tarakan merupakan pulau yang penuh rahmat karena memiliki sumber minyak bumi dengan kualitas terbaik di dunia.

Baca: Ratusan Bunker Eks Perang Dunia II Terpendam Dalam Kawasan Bandara Juwata Tarakan

"Ini tercatat loh di dokumen Belanda dan Jepang bahwa sumber minyak di Pulau Tarakan yang terbaik. Sehingga, koloni Belanda dan Jepang tertarik menguasai Tarakan disukai," ungkapnya.

Bukan itu saja, melalui sejarah Pulau Tarakan ini cucu dan cicit tentara Belanda dan Jepang masih sering datang ke Tarakan. Mereka ingin mengetahui bagaimana Pulau Tarakan, tentunya ini menjadi kunjungan pariwisata Kota Tarakan.

Dituturkan Usman Said, pada 1942 Jepang melakukan penyerangan lagi ke Belanda. Saat itu terjadi pertempuran besar. Pertempuran dimenangkan Jepang. Saat itu, Jepang sudah memiliki tentara sebanyak 15 ribu, sedangkan Belanda hanya 7 ribu. Itu pun dibantu para pekerjanya orang China dan Jawa.

Tahun 1945 Belanda bersekutu dengan Australia balik menyerbu Jepang. Ketika itu penyerbuan besar-besaran dilakukan. Sampai akhirnya dua hari sebelum Indonesia merdeka, tepatya 15 Agustus 1945 Jepang kalah.

Tepat 17 Agustus 1945 akhirnya Indonesia merdeka. Masyarakat Tarakan bersuka cita, karena hari itu Indonesia benar-benar merdeka tidak ada lagi peperangan. Bahkan saat Indonesia merdeka, Pulau Tarakan menjadi daerah yang pertama kali membebaskan tawanan.

Baca: Kakek Mantan Pejuang Ini Curhat di Hadapan Cawagub Kaltim, Begini yang Ia Sampaikan

Dengan adanya sejarah inilah, Walikota Tarakan Sofian Raga membangun Museum Perang Dunia II dan Museum Sejarah Perminyakan. Tujuannya agar masyarakat yang datang ke Tarakan mengetahui kisah dari pulau Tarakan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved