Selasa, 7 April 2026

Warga Muara Adang Sulit Mendapatkan Air Bersih, BPBD Usulkan Paser Siaga Karhutla,

Dalam kurun waktu tujuh bulan terakhir, Kabupaten Paser telah mengalami 9 kali kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Editor: Sumarsono

TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER - Dalam kurun waktu tujuh bulan terakhir, Kabupaten Paser telah mengalami 9 kali kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Jika ditambah karhutla yang terjadi hingga 14 Agustus 2018, maka jumlah kejadian karhutla mengalami peningkatan drastis.

Hal inilah yang mendorong Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Paser Edwar Effendi, Kamis (16/8), akan mengusulkan Surat Keputusan (SK) Bupati Paser tentang Siaga Karhutla, sebagai upaya meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan bencana Karhutla.

"Akhir bulan Januari terjadi sekali, Februari nihil, Maret sekali, April dan Mei nihil, Juni 2 kali, Juli 4 kali dan sampai tanggal 14 Agustus 2018 terjadi 8 kali Karhutla. Jadi grafiknya terus meningkat, prediksi musim kemarau berlanjut sampai bulan November, makanya kita usulkan agar Paser siaga Karhutla," kata Edwar Effendi.

Baca: Penyidik Lanjuktan Penggeledahan, AKBP Winardy: Tersangka Kasus RPU Bisa Tambah

Lokasi Karhutla, lanjut Edwar, tersebar di Kecamatan Long Ikis, Tanjung Harapan, Batu Sopang, Muara Komam, Tanah Grogot, Kecamatan Pasir Belengkong. Luas lahan yang terbakar 31,4 hektar (Ha), Karhutla terparah terjadi Desa Muara Adang Kecamatan Long Ikis dengan luas 8 Ha. Dan 2 kali kejadian di Desa Jone dengan luasan masing-masing sekitar 3,5 Ha.

"Tanah Grogot dengan 5 kali kejadian, Long Ikis 4 kali, Batu Sopang 2 kali, sisanya masing-masing satu kali kejadian. Ini berdasarkan berita acara yang kita buat setiap kali kejadian sekaligus sebagai pertimbangan Pak Bupati menetapkan Siaga Karhutla, supaya tim reaksi cepat Karhutla bergerak," sambungnya.

Baca: ICW Sebut Ada Kejanggalan ‎‎dalam Proses Rotasi Pejabat di KPK

Untuk tindakan pencegahan, Edwar mengatakan pihaknya telah menghimbau kepada masyarakat dan perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan kehati-hatian akan bahaya Karhutla. Sedikit saja lahan yang terbakar akan meluas ke lahan lain, sehingga dapat mengancam terbakarnya pemukiman warga dan fasilitas umum.

Sementara sumber air untuk memadamkan Karhutla banyak yang kering, sehingga menyulitkan pemadaman. "Kades Muara Adang saja sudah minta bantuan air bersih, warga disana sudah kesulitan mendapatkan air bersih. Segera kita kirim, ini salah satu tugas kita. Ada 2 unit mobil tangki yang bisa kita kerahkan untuk membantu warga," ucapnya.

Apabila banyak sekali warga yang membutuhkan, tambah Edwar, pihaknya akan meminta bantuan perusahaan yang beroperasi di sekitar warga yang membutuhkan. Khusus Desa Labuang Kalo dan Desa Selengot, dua desa di Kecamatan Tanjung Harapan, suplai air bersih hanya bisa dikirim melalui angkutan sungai atau laut.

Baca: Layanan Buka 24 Jam, Stok Darah Darah di Samarinda, Kukar, Berau dan Paser Hari Ini

"Khusus Labuang Kalo dan Selengot, apabila warganya membutuhkan air bersih, kami harap Kadesnya menyiapkan kapal untuk mengangkut air, nanti kami suplai dari pelabuhan terdekat dan mereka yang membagikannya kepada warga," tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved