Muktamar IDI
Muktamar IDI - Ini Serangkaian Tes Medis untuk Kenali 9 Jenis Kanker yang Dibahas di Simposium IDI
Ada sembilan jenis potensi kanker yang dapat dideteksi melalui serangkaian tes tadi.
Penulis: Rafan Dwinanto |
Muktamar IDI - Ini Serangkaian Tes Medis untuk Kenali 9 Jenis Kanker yang Dibahas di Simposium IDI
Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Simposium kesehatan yang menghadirkan ratusan dokter dari seluruh penjuru Tanah Air, digelar di Hotel Bumi Senyiur Samarinda , Rabu (24/10/2018).
Simposium yang membahas berbagai isu terkini dunia medis tersebut merupakan rangkaian kegiatan pra Muktamar XXX Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang berlangsung 23-28 Oktober, di Samarinda.
Berbagai update terbaru soal kesehatan, seperti jantung, penyakit dalam, hingga teknologi baru terkait upaya pencegahan penyakit, dipaparkan dalam simposium tersebut.
Seperti yang dipaparkan dr Siska Damayanti, S Si, M Farm, berupa serangkaian tes yang dapat mengenali potensi kanker pada seseorang.
Dalam paparannya Siska menuturkan, test yang dinamakan C (cancer) Risk, ini bisa mengenali potensi kanker pada seseorang melalui penelitian Genomic atau gen.
"Tes ini untuk mengetahui besar kecilnya potensi seseorang terserang kanker berdasarkan gen. Ada 50 gen dengan 65 variasi. Tapi, tes ini bukan diagnosa. Artinya, meskipun dia teridentifikasi berpotensi kanker, tapi dia belum kanker," kata Siska.
Ada sembilan jenis potensi kanker yang dapat dideteksi melalui serangkaian tes tadi.
Di antaranya kanker uterus, ovarium, payudara, paru-paru, tiroid, serviks, hingga hati.
Hasil akhir tes tersebut, kata Siska, berupa skoring. Mulai dari high risk (risiko tinggi), potensial risk, average risk, hingga low risk. Beberapa rekomendasi pun disertakan dalam hasil skoring tersebut.
"Jadi misalnya dia high risk. Tapi kan dia belum kanker. Nah, jadi akan ada rekomendasi apa yang harus dilakukan agar risiko kanker ini tidak berubah menjadi kanker betulan," kata Siska.
Tes tersebut, lanjut Siska, lebih berperan pada upaya pencegahan kanker yang dipicu faktor gen.
Meski demikian, Siska memaparkan, faktor gen hanya menyumbang sekitar 5-10 persen penyebab kanker. 80 persen penyebab kanker dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
"Faktor lingkungan itu berkaitan dengan apa yang kita makan, apa yang kita lakukan, paparan yang kita terima, hingga mikrobiota dalam tubuh kita," jelas Siska.
Pemeriksaan C-Risk sendiri menggunakan sampel darah.
"Walaupun hasil tesnya itu low risk atau average risk, bukan berarti seseorang tak akan terserang kanker. Oleh sebab itu, yang low risk pun akan diberi saran atau rekomendasi agar tetap tidak terkena kanker. Misalnya mengubah gaya hidup, pola diet, dan lain sebagainya," tutur Siska. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/simposium-idi_20181024_174244.jpg)