Kala Nelayan Tradisional Bertemu Generasi Milenial, Telkomsel Internet of Things jadi Solusi
Telkomsel pada dasarnya mendukung program yang diselenggarakan pemerintah, termasuk dalam upaya menghadapi Revolusi Industri 4.0.
Kala Nelayan Tradisional Bertemu Generasi Milenial, Telkomsel Internet of Things jadi Solusi
Laporan wartawan Tribun Kaltim, Trinilo Umardini
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Akhir 2018 lalu, Pemerintah Republik Indonesia (RI) meluncurkan roadmap Making Indonesia 4.0. Ada 10 prioritas nasional untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0.
Revolusi Industri 4.0, dimulai era 2000-an hingga saat ini.
Era dimana penerapan teknologi modern antara lain teknologi fiber (fiber technology) dan sistem jaringan terintegrasi (integrated network), yang bekerja di setiap aktivitas ekonomi dari produksi hingga konsumsi.
Namun pertanyaannya, siapkah masyarakat menyambut era ini?
SALOK OSENG sejatinya tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Dari titik Nol Km, Jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan Utara, Kalimantan Timur, desa ini berjarak sekitar 10 km, cuma butuh waktu 30 menit untuk menjangkaunya.
Hanya saja, akses jalan yang tak mulus dengan kontur yang turun naik bukit, perjalanan ke desa ini seperti merambah wilayah pelosok.
Terlebih sepanjang kanan-kiri jalan memasuki wilayah desa, masih rindang pepohonan, layaknya jalan hutan.
Terletak di Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat, Desa Salok Oseng bukan wilayah yang populer.
Bahkan Desa Salok Oseng tak tercantum dalam aplikasi Google Map.
Tak banyak warga Balikpapan yang mengetahui wilayah ini.

Padahal kawasan ini memiliki potensi tersembunyi yang bisa menjadi sentra ekonomi baru bagi Kota Balikpapan.
Warga di Desa Salok Oseng, Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat, sejatinya merupakan nelayan.
Merasa frustrasi dengan kesejahteraan ekonomi, mereka pun beralih pekerjaan menjadi buruh pabrik di Kawasan Industri Kariangau (KIK).
Namun sebagian warga yang hanya bisa menjadi nelayan tradisional tetap setia menekuni pekerjaan tersebut. Dengan segala keterbatasan.
Terutama warga di RT 03, Jalan Manuntung, Desa Salok Oseng.
Sejak pagi, mereka telah bersiap ‘melaut’. Melaut di sini sebenarnya bukan pergi ke laut lepas melainkan sungai di sekitaran Teluk Balikpapan.
Mereka tak bisa jauh karena kapal yang digunakan cuma perahu motor kecil (ketinting) dengan alat tangkap bubu.
Pergi pukul 08.00 dan kembali pukul 12.00 atau menjelang petang. Hasil tangkapan tak tentu.
Rata-rata 3 kg ikan dan 8 kg kepiting. Sebulan penghasilan rata-rata Rp 3 juta, bisa kurang atau lebih tergantung hasil tangkapan.
“Itu kalau surut, tapi kalau pasang, agak susah cari ikan,” ujar Husain (58).
Faktor cuaca paling dominan membuat mereka tak bisa melaut. Bisa berhari-hari dan itu artinya, nelayan tak dapat penghasilan.
Dengan hasil tak menentu itu, banyak nelayan yang akhirnya bekerja di pabrik. Padahal dulu hampir semua warga Salok Oseng merupakan nelayan turun-temurun.
Hal itulah yang ingin diubah Zulfadli, mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, Semester 8, Institut Teknologi Kalimantan (ITK).
Bersama 19 teman-temannya yang tergabung dalam penelitian pengembangan budidaya kepiting soka di Desa Salok Oseng, Fadli tergerak untuk membantu nelayan.
Menurut Fadli, Salok Oseng memiliki potensi ekonomi dan masyarakat yang antusias ingin maju bersama.
“Sayang jika ada potensi sebagus ini tapi tak dikembangkan,” tutur Fadli.
Menjadi nelayan bukan berarti tak bisa sejahtera atau selalu hidup dalam kemiskinan.
Sebagai kalangan generasi milenial, ia tertantang dengan ilmu yang dipelajari di kampus.
Idealismenya semakin memuncak apalagi dengan predikatnya sebagai anggota komunitas Tangan Di Atas (TDA), wadah di mana para pelaku UMKM/UKM berada.
Ia dan teman-temannya yakin, masyarakat di Salok Oseng bisa maju.
Tentu saja nelayan dengan pola pikir modern, melek teknologi, berpikir jauh ke depan sehingga selaras dengan program Indonesia menuju Revolusi Industri 4.0.
Proyek dimulai Oktober 2018, para mahasiswa yang rata-rata berusia 20 tahunan bersama nelayan mulai memetakan masalah bagaimana caranya agar hasil produksi dan penghasilan nelayan bisa meningkat.
Mulai dari nelayan sebagai penangkap, pola berubah menjadi nelayan penangkap sekaligus pembudidaya.
Jika tak melaut karena faktor cuaca, mereka bisa terus bekerja di tambak.

Ke depan mereka berupaya membangun teknologi Recirculating AquaCulture System (RAS), bagaimana caranya membudidaya kepiting secara indoor. Tak lagi tambak di luar. Cara ini bisa menghemat lahan 80 persen.
Jika selama ini tambak yang ada membutuhkan 2 hektare (ha) lahan, kini cukup membangun semacam ‘apartemen’, tambak bertingkat di dalam ruangan.
Tak tergantung alam, dan bisa dikerjakan setiap hari tanpa tergantung cuaca.
Selain meningkatkan produksi mereka juga berupaya memasarkan produk.
Jika selama ini nelayan tergantung pada tengkulak, kini mereka bisa langsung menjual kepada user (calon pembeli langsung).
Mereka juga tengah membangun sistem startup sendiri.
Saat ini para nelayan dan generasi milenial tengah mencari perusahaan financial technology (fintech) yang siap mendukung bisnis budidaya kepiting.
Perusahaan fintech ini akan melakukan inovasi di bidang jasa keuangan dengan sentuhan teknologi. Jenis fintech cukup beragam, mulai dari pengelolaan aset, penggalangan dana, e-money, payment gateway, remittance, saham, hingga meliputi bidang asuransi.
Angan-angannya kelak, dengan sistem startup, pemasaran produk kepiting bisa lebih luas. Tak hanya di Balikpapan tapi juga bisa ke seluruh Indonesia bahkan ekspor!
Kepiting Balikpapan sebenarnya sudah terkenal di seantero Indonesia karena rasa dagingnya yang lebih empuk, besar, dan tentu saja segar! Hanya saja, pemasaran masih sebatas lokal.
Tentu demi mewujudkan mimpi itu, semuanya tentu butuh dana.
Lantaran hal itulah ia mengajak Dhino Nofian Abdhi, Ketua Komunitas TDA Balikpapan, pengusaha konstruksi, kuliner Bebek Pak Ndut, juga agroindustri.
Tergabung dalam komunitas TDA Balikpapan, mereka saling mendukung. Dhino yang telah berpengalaman sebagai pebisnis andal juga menjadi mentor bagi Fadli dan kawan-kawan.
Dhino mengungkapkan, potensi wilayah Salok Oseng sebenarnya cukup menjual. Kepiting merupakan kuliner khas Balikpapan yang kerap dijadikan oleh-oleh bagi orang luar Balikpapan.
Selain itu hotel dan restoran banyak yang membutuhkan pasokan kepiting segar. Hal ini tentu saja menjadi keunggulan tersendiri karena pasarnya telah ada.
“Dengan potensi luar biasa, apalagi dengan perangkat teknologi seperti ini bisa banget sinergi sehingga membuat suatu daerah bisa maju,” tutur Dhino.
Dari pertemuan tersebut juga terungkap ide-ide yang selama ini tersembunyi.
Rustam, nelayan budidaya kepiting tambak menuturkan, sebenarnya para warga selain bekerja sebagai nelayan juga ingin agar desanya dikenal.

Mereka ingin Desa Salok Oseng menjadi tujuan wisata.
Kondisi alamnya sangat mendukung karena habitat mangrove yang masih lebat.
Setiap sore, masih banyak bekantan berkeliaran di sekitar mereka.
“Jadi orang dari luar bisa datang ke sini. Memancing ikan atau kepiting, bisa dimasak di sini atau dibawa pulang sembari menikmati pemandangan alam,” tutur Rustam. Hal itu tentu saja berimbas pada pendapatan masyarakat sekitar.

Sementara berproses ke arah itu, nelayan yang berkolaborasi dengan anak-anak muda generasi milenial kini fokus dulu pada produksi kepiting soka.
Mereka belajar mengemas produk kepiting sehingga memiliki nilai jual dan mudah dipasarkan.

Telkomsel sebagai operator milik bangsa pada dasarnya mendukung program yang diselenggarakan pemerintah, termasuk dalam upaya menghadapi Revolusi Industri 4.0.
Mulya Budiman, GM Sales Telkomsel Region Kalimantan didampingi Adhika W Pradhana, Manager Market & Customer Development dan Projo NT Hartadi, Supervisor Regional Account Management memaparkan, sebagai pelaku telekomunikasi, sasaran Telkomsel pada Revolusi Industri 4.0 adalah meningkatkan produktivitas dari industri-industri yang ada melalui konektivitas antar mesin (machine to machine connectivity).
Era dimana memberikan solusi sebuah layanan yang berada pada posisi lebih tinggi dibanding layanan saat ini sehingga setiap orang atau pelanggan akan semakin spesifik menyesuaikan kebutuhan untuk mendapatkan layanan.
“Terkait dengan Revolusi Industri 4.0 ini yang utama tentunya bentuk dukungan terkait dengan digital infrastructure, sebagai operator telekomunikasi Telkomsel secara konsisten mengimplementasikan teknologi seluler terkini dan menjadi yang pertama melakukan ujicoba layanan 5G di Indonesia,” tutur Mulya Budiman.
Dengan jumlah pelanggan tersebar di seluruh Indonesia hingga saat ini mencapai lebih dari 168 juta.

Implementasinya, Telkomsel bekerjasama dengan Komunitas TDA untuk kegiatan eksibisi MyBusiness Telkomsel dan kegiatan empowering segmen SME.
Mulya Budiman menerangkan, kerjasama dengan TDA seperti menggelar kegiatan Forum Group Discussion (FGD) dan sharing session menghadirkan pemateri terkait bersama peserta dari pelaku UKM di Kota Balikpapan.
Dari TDA sendiri, Dhino mengungkapkan Telkomsel sangat membantu UMKM/UKM dalam hal berbagi ilmu yang selaras dengan Revolusi Industri 4.0.
Misalnya e-Accounting dengan server yang di-maintenance Telkomsel.
Program e-Accounting (akuntan digital) merupakan aplikasi teknologi online dan Internet untuk fungsi akuntansi bisnis.
“Bagi yang punya toko atau restoran jadi tahu laporan keuangannya secara detail,” tutur Dhino.
Program ini telah berjalan setahun dan masih terus berproses.
Dampaknya cukup signifikan. Ia mengungkapkan, dari anggota TDA yang mengikuti program ini bisa meraih pendapatan 10 kali lipat.
Ia mencontohkan Roti Gembong Kota Raja yang telah membuka cabang ke-50 di seluruh Indonesia, Sushinei, juga ada KAKA Driving School.
Contoh tersebut semakin meyakinkan adanya Internet of Things (IoT) merupakan teknologi yang memungkinkan setiap instrumen terkoneksi satu sama lain secara virtual sehingga mampu mendukung kinerja operasional usaha, pengawasan terhadap performa manajemen serta peningkatan nilai guna output.
Jika bisnis-bisnis di atas masih berada di perkotaan, bagaimana peluangnya dengan yang di pelosok, bisakah memiliki kesempatan yang sama?
Menurut Mulya Budiman, Internet of Things (IoT) memungkinkan semuanya bisa tercapai.
Tentu saja tetap ada tantangan dan kendalanya. Dari sisi teknologi dan perangkat, Telkomsel telah menyediakan.
Misalnya ujicoba layanan 5G dan jaringan 184.000 BTS tersebar di seluruh Indonesia.
Tinggal kebiasaan dan kemauan dari SDM, dalam hal ini pelaku usaha untuk mengikuti perkembangan zaman yang serba digital.
Namun dengan bantuan anak-anak muda ‘generasi milenial’ yang notabene lebih melek teknologi, pelaku usaha di kota maupun pelosok dari generasi terdahulu tak perlu khawatir bakal terjebak dengan jargon Revolusi Industri 4.0 dan hanya menjadi penonton. (*)