Mengenal Grevo Gerung, Adik Kandung Rocky Gerung yang tak Kalah Jago
Di balik kepopuleranhya, tak banyak yang tahu kalau Rocky Gerung juga punya adik kandung yang tak kalah hebat, bernama Grevo Gerung.
7. Pernah undang Jokowi
Saat Grevo Gerung didaulat menjadi ketua panitia Dies Natalis Unsrat ke 57 pihaknya menyurat ke Sekretariat Negara untuk mengundang Presiden Jokowi.
Sayang Jokowi tak berkesempatan hadir di acara yang digelar November 2018 lalu itu.
Tentu saja ini sempat menjadi perbincangan mengingat kakaknya, Rocky Gerung, terlanjur dikenal lantaran kerap mengeritik pemerintah Jokowi.
Kritikan Rizal Mallarangeng untuk Rocky Gerung
Tulisan Koordinator Nasional Relawan Golkar Jokowi (Gojo) Rizal Mallarangeng di Qureta.com sehari lalu yang berjudul “Rocky Gerung, Kembang, dan Bowoisme" mendapat komentar luas di medsos.
Rizal Mallarangeng mengatakan tulisannya itu merupakan kritik untuk Rocky Gerung, sahabatnya yang juga akademisi dan selama ini dikenal dengan jargon "akal sehat".
"Saya bersahabat dengan Rocky sejak tahun 1980-an. Kami adalah aktivis mahasiswa di puncak otoritarianisme Orba. Kenapa saya kritik dia dengan tulisan? Untuk mengingatkan dia. Dan juga, kaum intelektual tidak dinilai dari omongannya tapi dari tulisannya. Kalau perdebatan secara tertulis, pendapat jadi lebih sistematis dan mendalam," kata Rizal Mallarangeng kepada wartawan di Jakarta, Selasa (12/2/2019).
Dalam tulisannya, Rizal Mallarangeng menilai Rocky Gerung tidak berimbang dalam menyajikan fakta-fakta tentang capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto.
"Ada keberpihakan, Rocky condong ke Prabowo dan berbagai uraiannya sudah menjadi semacam mono-kritik terhadap Jokowi," kata Rizal Mallarangeng.
Sejatinya, akademisi yang menjadikan akal sehat sebagai konsep perjuangan, harus menimbang fakta dan argumen, serta mengarahkan 'pedangnya' kepada semua pihak di ruang publik tanpa terkecuali.
"Penguasa bisa benar bisa salah, demikian pula kaum oposisi," ujarnya.
Masih dalam kritiknya, menurut Rizal Mallarangeng, Rocky Gerung seharusnya tidak membedakan Prabowo dan Jokowi, atau berlindung di balik argumen bahwa seorang akademisi harus selalu mengkritik kekuasaan.