Rabu, 15 April 2026

5 Sosok Penting Dibalik Misteri Supersemar, Soekarno Tegaskan Bukan Transfer Kekuasaan

Istana Kepresidenan Bogor memang menjadi saksi bersejarah penting bagi kepemimpinan presiden pertama RI Soekarno.

Ilustrasi (Kolase)
IPPHOS - Dok. Kompas/Song via kompas.com 

TRIBUNKALTIM.CO - Proses lahirnya Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar hingga kemudian sampai ke tangan Soeharto, tidak lepas dari keterlibatan, paling tidak dengan sepengetahuan, lima tokoh nasional saat itu.

 

Siapa saja mereka, disebutkan para tokoh ini sempat terlibat dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, pada Jumat, 11 Maret 1966, yang konon sebagai awal lahirnya Supersemar.

Namun karena saat itu Presiden Soekarno yang sedang memimpin rapat dalam kondisi terkepung oleh mahasiswa, ia dikabarkan meninggalkan lokasi dan menuju Istana Kepresidenan Bogor.

Dikutip tribunjogja.com dari kompas.com, Istana Kepresidenan Bogor memang menjadi saksi bersejarah penting bagi kepemimpinan presiden pertama RI Soekarno.

Pada 11 Maret 1966, Soekarno disebut memberikan "surat sakti" kepada Soeharto yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar.

Surat itu berisi persetujuan Soekarno agar Soeharto mengambil langkah yang dianggap perlu untuk memulihkan keamanan setelah Gerakan 30 September 1965 yang dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia.

Bermodalkan Supersemar, Soeharto tidak hanya memulihkan keamanan, tetapi juga secara perlahan mengambil alih kepemimpinan nasional.

Soeharto kemudian ditunjuk sebagai pejabat presiden setahun kemudian, Maret 1967, berdasarkan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No XXXIII/1967 pada 22 Februari 1967.

Akan tetapi, Presiden Soekarno membantah memberikan Supersemar sebagai alat untuk transfer kekuasaan kepada Letjen Soeharto yang ketika itu menjabat Menteri Panglima Angkatan Darat.

Hal ini disampaikan Soekarno dalam pidato yang disampaikan saat peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1966.

"Dikiranya SP 11 Maret itu suatu transfer of authority, padahal tidak," kata Soekarno dalam pidato berjudul "Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah" atau lebih dikenal dengan sebutan "Jasmerah".

Sejarawan Asvi Warman Adam pun menilai bahwa Supersemar menjadi alat bagi Soeharto untuk melakukan "kudeta merangkak".

Lalu siapa saja tokoh yang terlibat dalam Supersemar dan apa saja perannya? Berikut penjelasannya:

1. Soekarno

Presiden Soekarno (kanan, berpeci)
Presiden Soekarno (kanan, berpeci) (Dok. Kompas/Song)

Pada Jumat, 11 Maret 1966, itu Soekarno digambarkan sedang memimpin rapat kabinet di Istana Merdeka.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved