Selasa, 21 April 2026

Berikut 4 Kecelakaan Kereta Terparah dan Memilukan di Indonesia, Ada Berulang di Tempat yang Sama

Kecelakaan kereta api kembali terjadi di lintasan Cilebut - Bogor, Minggu (13/3/2019) pagi. Akibat kejadian tersebut, sebanyak 17 orang luka-luka.

Penulis: Doan Pardede |
(Jimmy WP)
101 korban tewas dan 238 orang luka berat yang tercatat kibat terjadi kecelakaan kereta api terbesar dan paling tragis dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia, Senin pagi ( 19/10/1987 ) pukul 07.10 WIB di kampung Pondok Betung, RW IX, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Tabrakan antara KA patas no.220 dari Tanah Abang menuju Merak dengan LA no. 225 dari Rangkasbitung menuju Tanah Abang. 

TRIBUNKALTIM.CO -  Kecelakaan kereta api kembali terjadi di Indonesia.

Kali ini, kecelakaan kereta melibatkan Kereta Api (KA) 1722 relasi Jatinegara - Bogor ini terjadi di lintasan Cilebut - Bogor, Minggu (13/3/2019) pagi.

Akibat kejadian kecelakaan kereta tersebut, sebanyak 17 orang luka-luka.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai meninjau langsung lokasi kejadian mengatakan bahwa pihaknya berupaya agar jalur rel kereta bekas Kereta Rel Listrik (KRL) yang anjlok pada rute Jatinegara-Bogor di Kebon Pedes, Bogor tersebut segera teratasi.

Budi Karya Sumadi memastikan bahwa, Senin (11/3/2019), jalur tersebut sudah dapat dilalui kembali.

"Proses evakuasi terhadap gerbong akan kita lakukan segera. Malam ini akan bekerja untuk evakuasi gerbong ditarik dan memperbaiki jalur. Kita harapkan malam ini selesai dan besok sudah beroperasi kembali,"  kata Budi Karya Sumadi, seperti dilansir Tribunnews.com.

Selain itu, dirinya juga menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang telah terjadi.

“Hari ini kita mengalami satu musibah anjloknya KRL. Saya meminta maaf atas kejadian ini," ucap Budi Karya Sumadi.

Direktur Utama Jasa Raharja, Budi Rahardjo S mengungkapkan pihaknya telah menjamin 14 korban luka dalam kecelakaan KRL itu.

Rahardjo menyatakan Jasa Raharja akan menanggung semua biaya perawatan korban.

Biaya perawatan yang ditanggung oleh Jasa Raharja berupa biaya perawatan maksimal senilai Rp 20 juta, tambahan biasa P3K senilai Rp 1 juta, dan transportasi mobil ambulans maksimal Rp 500 ribu.

"Bahwa berdasarkan pada prinsipnya Penumpang yg menjadi Korban kecelakaan tersebut TERLINDUNGI berdasarkan UU Nomor 33 Tentang DANA PERTANGGUNGAN WAJIB KECELAKAAN PENUMPANG dan PMK No. 15 tahun 2017," papar Rahardjo lewat keterangan resmi, seperti dikutip dari Tribunnews.com, Minggu (10/3/2019)

Kereta Api 1722 jurusan Jatinegara menuju Bogor tertimpa tiang listrik Aliran Atas saat melintas di antara Stasiun Cilebut dan Bogor.
Kereta Api 1722 jurusan Jatinegara menuju Bogor tertimpa tiang listrik Aliran Atas saat melintas di antara Stasiun Cilebut dan Bogor. ((Twitter/Dindakoya))

Baca juga :

Detik-Detik Kecelakaan KRL di Bogor, Penumpang Kisahkan Sempat Lihat Kabel Gerak Kencang

Milenial Dominasi Kecelakaan, Polisi Ajak jadi Pelopor Keselamatan di Lapangan Merdeka

Kerap Terjadi Kecelakaan di Jalur Lintas Antar Kota, Polisi Ungkap Penyebabnya

4 Kecelakaan Tahun 2018 yang Buat Indonesia Berduka, Salah Satunya Dibangunkan Monumen

Berikut kecelakaan kereta terparan di Indonesia yang berhasil dihimpun Tribunkaltim.co dari bangka.tribunnews.com dan berbagai sumber :

1. 200 Tewas di Lembah Anai, Sumatera Barat

Tugu prasasti yang diyakini merupakan batu nisan makam ratusan korban kecelakaan kereta api di lembah Anai, Sumatera Barat, tahun 1944 dan 1945.

Peristiwa tragis ini terjadi pada 25 Desember 1944 di mana 200 orang tewas dan 250 lainnya luka-luka karena kereta api kehilangan rem.

Jalur rel lembah Anai, Sumatera Barat, memang cukup terjal sehingga rawan kecelakaan.

Tak berapa lama kemudian tepatnya pada 23 Maret 1945, kecelakaan kembali terjadi di lokasi yang sama, tetapi tak diketahui jumlah korbannya.

Sebagaimana dilaporkan infosumbar.net, korban meninggal dua kecelakaan itu dikuburkan di satu lubang yang sama.

Korban kecelakaan pertama dikuburkan sedalam lima meter, sedangkan yang kedua di galian dua meter di atasnya.

Beberapa jenazah dikuburkan dalam kondisi tidak utuh.

Sebuah prasasti yang tak terawat ditemukan di Kelurahan Balai-Balai Padang Panjang Barat beberapa puluh tahun kemudian.

Prasasti itu menggunakan ejaan lama yang aneh dan diyakini merupakan batu nisan korban kecelakaan KA di Lembah Anai.

Beberapa orang menganggap tugu prasasti itu mengeluarkan aura mistis.

2. Tragedi Bintaro

Kondisi kereta api setelah mengalami kecelakaan di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada 19 Oktober 1987.
Kondisi kereta api setelah mengalami kecelakaan di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada 19 Oktober 1987. (Print.Kompas.com)

Kondisi kereta api setelah mengalami kecelakaan di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada 19 Oktober 1987.

Kecelakaan yang terjadi pada 19 Oktober 1987 ini memakan 134 korban jiwa.

KA Cepat (KA 220) jurusan Tanahabang-Merak bertabrakan dengan KA lokal 225 jurusan Rangkasbitung-Tanahabang di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang.

Seharusnya dua kereta api itu bersilang di stasiun Sudimara, tetapi karena KA 225 terlambat, maka persilangan terpaksa dipindahkan ke stasiun Kebayoran.

101 korban tewas dan 238 orang luka berat yang tercatat kibat terjadi kecelakaan kereta api terbesar dan paling tragis dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia, Senin pagi ( 19/10/1987 ) pukul 07.10 WIB di kampung Pondok Betung, RW IX, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Tabrakan antara KA patas no.220 dari Tanah Abang menuju Merak dengan LA no. 225 dari Rangkasbitung menuju Tanah Abang.
101 korban tewas dan 238 orang luka berat yang tercatat kibat terjadi kecelakaan kereta api terbesar dan paling tragis dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia, Senin pagi ( 19/10/1987 ) pukul 07.10 WIB di kampung Pondok Betung, RW IX, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Tabrakan antara KA patas no.220 dari Tanah Abang menuju Merak dengan LA no. 225 dari Rangkasbitung menuju Tanah Abang. ((Jimmy WP))

Oleh karena ada perpindahan persilangan itu, maka tabrakan tak terhindarkan.

Upaya untuk menghentikan KA 225 juga sia-sia karena kereta itu terus melaju dan akhirnya bertabrakan dengan KA 220.

Setelah tabrakan terjadi, gerbong pertama di belakang lokomotif keduanya langsung menyelimuti lokomotif.

Baca juga :

Sederet Fakta dan Kronologi Kecelakaan Bupati Demak: Persiapan Nikah Sang Ajudan sudah 90 Persen

Kronologi Tewasnya Mantan Pemain PSPS Riau Khairunnas Afrizal, Kecelakaan Saat Bonceng Istri & Anak

Kapolda Kaltara Prihatin Angka Kecelakaan Tinggi yang Melibatkan Pengendara Kaum Milenial

Korban Selamat Kecelakaan Bus Kramat Jati Cicalengka Ungkap Hal Mengejutkan Soal Perilaku Sopir

3. 116 Tewas Akibat Tabrakan Kereta di Ratu Jaya, Depok

ILUSTRASI - Unit kereta milik PT Kereta Api Indonesia (KAI)
ILUSTRASI - Unit kereta milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) (istimewa)

 Cukup sedikit sumber yang menjelaskan mengenai penyebab kecelakaan tragis pada 20 September 1968 ini.

Namun, kecelakaan ini terjadi karena kereta api Bumel bertabrakan dengan keret api cepat di desa Ratu Jaya, Depok, Jawa Barat.

116 orang tewas akibat kejadian tersebut.

4. 45 Tewas di Brebes, Jawa Tengah

Pada 25 Desember 2001, kecelakaan parah kembali terjadi.

Kali ini, KA 146 Empu Jaya menabrak KA 153 Gaya Baru Malam Selatan yang sedang menunggu bersilangan di stasiun Ketanggungan Barat, Brebes, Jawa Tengah.

Kecelakaan yang menewaskan 45 orang itu murni kesalahan masinis KA Empu Jaya, yang tak mengurangi kecepatan saat melewati sinyal aspek kuning dan tak berhenti saat lampu merah

(Tribunkaltim.co/Doan Pardede)

Follow Instagram Tribunkaltim.co di bawah ini:

Subscribe Youtube Channel Tribunkaltim.co di bawah ini:

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved