Sabtu, 2 Mei 2026

Media Sosial Down

VIDEO - Facebook dan Instagram Down, Begini Keluhan Penjual di Online Shop dan Penggunanya

Dua platform media sosial, Facebook dan Instagram down mulai Rabu (13/3/2019) malam sekitar pukul 22.00 Wita.

Tayang:
Penulis: Djohan Nur | Editor: Amalia Husnul A
tribunkaltim.co/djohan nur
Ilustrasi pengguna sosial mengakses Instagram 

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Djohan Nur

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Dua platform media sosial, Facebook dan Instagram down mulai Rabu (13/3/2019) malam sekitar pukul 22.00 Wita. 

Para pengguna media sosial di Balikpapan, Kalimantan Timur bahkan masih mengeluhkan media sosial down hingga Kamis (14/3/2019) pukul 11.00 Wita.

Pada pengguna media sosial yang sangat populer tersebut melaporkan bahwa meraka sama sekali tidak bisa menggunakan platform ini untuk berkomunikasi.

Instagram, Facebook dan WhatsApp Down di Waktu yang Bersamaan, Ramai Muncul Meme Lucu di Twitter

Setelah Facebook dan Instagram Down, WhatsApp pun Ikut Error

Rayakan 100 Ribu Followers Instagram, Pengusaha Rudy Salim Bagi Duit Sampai Rp 100 Juta

Media sosial down, para penggunanya mengatakan mengalami gangguan saat mengupload instagram story dan mengirim direct massage dan beberapa konten dalam aplikasi tersebut tidak bisa digunakan.

Amanda, pelajar yang aktif di media sosial Instagram dan Facebook merasakan dampaknya.

“Awalnya saya kaget. Saya kira kuota saya sudah habis, ternyata server dari sana sudah error.

Jadi tidak bisa melihat apa-apa, tidak ada sama sekali informasi dari instagram, dan juga tidak ada notifikasi yang muncul”.

Hal ini juga dirasakan oleh pada pengguna media sosial untuk berjualan secara online.

“Instagram dan facebook down itu, jadi tidak bisa posting itu ngaruh banget buat di jualan online shop aku.

Karena aku jualan itu sehari bisa 10 sampai 15 kali posting.

Jadi, kalau misalnya sosial media itu saya tidak bisa gunakan itu bener- bener merugikan buat saya karena saya juga tidak bisa proses orderan dan temen-temen yang lain yang ingin order ke saya juga terkendala,” kata Mel Hadath, pemilik online shop.

Tak hanya di Indonesia ganggungan yang terjadi pada situs jejaring sosial ini dirasakan juga oleh semua orang di berbagai belahan dunia.

Gangguan ini menyebabkan pengguna tak bisa melakukan pembaharuan status jika ingin membuat status baru.

Di layar komputer atau ponsel hanya akan tertera tulisan "Facebook akan segera kembali".

Sementara untuk Instagram pemilik akun diketahui tak akan bisa mengunggah kabar terbaru baik melalui Instastory, maupun kronologi.

Bahkan hanya sekadar membuka laman instagram saja pengguna taka akan bisa masuk ke dalam akunnya.

Gangguan yang terjaod pada situs jejaring sosial Facebook dan Instagram ini mendapatkan respon dari warganet.

Tagar #InstagramDown serat #FacebookDown menjadi trendiong topic di twitter.

 

Begitu pula dalam pencarian google trend.

Instagram Down menjadi kata kunci yang banyak dicari oleh warganet.

Facebook dalam unggahannya di Twitter hanya menuliskan pihaknya sedang berupaya menyelesaikan masalah tersebut sesegera mungkin.

"Kami menyadari bahwa beberapa orang saat ini mengalami masalah dalam mengakses kumpulan aplikasi Facebook. Kami sedang berupaya menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin," cuit akun Facebook pada unggahan Twitter.

Sementara mengutip dari situs DownDector.com, gangguan yang terjadi pada situs jaringan sosial ini mulai terjadi di Amerika Serikat terutama wilayah Pantai Barat dan Timur.

Gangguan kemudian berlanjut ke Eropa dan Australia. 

Dalam unggahan lainnya Facebook juga memberikan keterangan bahwa gangguan ini tidak terkait dengan serangan DDoS.

"Kami fokus pada upaya untuk menyelesaikan masalah secepat mungkin, tetapi dapat mengonfirmasi bahwa masalah tersebut tidak terkait dengan serangan DDoS," tulisnya.

Mengenal Serangan Ddos

Facebook dalam cuitan Twitter mengonfirmasi gangguan yang terjadi tidak terkait dengan serangan DDoS.

Apa itu serangan DDoS? Penolakan layanan secara terdistribusi atau Distributed Denial of Service (DDos) adalah salah satu jenis serangan Denial of Service yang menggunakan banyak host penyerang.

Baik itu menggunakan komputer yang didedikasikan untuk melakukan penyerangan atau komputer yang "dipaksa" menjadi zombie untuk menyerang satu buah host target dalam sebuah jaringan.

Dikutip dari Wikipedia, serangan Denial of Service klasik bersifat "satu lawan satu", sehingga dibutuhkan sebuah host yang kuat (baik itu dari kekuatan pemrosesan atau sistem operasinya) demi membanjiri lalu lintas host target sehingga mencegah klien yang valid untuk mengakses layanan jaringan pada server yang dijadikan target serangan.

Serangan DDoS ini menggunakan teknik yang lebih canggih dibandingkan dengan serangan Denial of Service yang klasik, yakni dengan meningkatkan serangan beberapa kali dengan menggunakan beberapa buah komputer sekaligus, sehingga dapat mengakibatkan server atau keseluruhan segmen jaringan dapat menjadi "tidak berguna sama sekali" bagi klien.

Serangan DDoS pertama kali muncul pada tahun 1999, tiga tahun setelah serangan Denial of Service yang klasik muncul, dengan menggunakan serangan SYN Flooding, yang mengakibatkan beberapa server web di Internet mengalami "downtime".

Kasus Kedok Wanita Cantik di Facebook Minta Uang, Jika Tidak Ini yang Dilakukan

Pada awal Februari 2000, sebuah serangan yang besar dilakukan sehingga beberapa situs web terkenal seperti Amazon, CNN, eBay, dan Yahoo! mengalami "downtime" selama beberapa jam.

Serangan yang lebih baru lagi pernah dilancarkan pada bulan Oktober 2002 ketika 9 dari 13 root DNS Server diserang dengan menggunakan DDoS yang sangat besar yang disebut dengan "Ping Flood".

Pada puncak serangan, beberapa server tersebut pada tiap detiknya mendapatkan lebih dari 150.000 request paket Internet Control Message Protocol (ICMP).

Untungnya, karena serangan hanya dilakukan selama setengah jam saja, lalu lintas Internet pun tidak terlalu terpengaruh dengan serangan tersebut (setidaknya tidak semuanya mengalami kerusakan).

Tidak seperti akibatnya yang menjadi suatu kerumitan yang sangat tinggi (bagi para administrator jaringan dan server yang melakukan perbaikan server akibat dari serangan), teori dan praktik untuk melakukan serangan DDoS justru sederhana, yakni sebagai berikut:

Terungkap, Segini Tarif Endorse Maell Lee Bukan Kaleng-kaleng di Instagram

Menjalankan tool (biasanya berupa program (perangkat lunak) kecil) yang secara otomatis akan memindai jaringan untuk menemukan host-host yang rentan (vulnerable) yang terkoneksi ke Internet.

Setelah host yang rentan ditemukan, tool tersebut dapat menginstalasikan salah satu jenis dari Trojan Horse yang disebut sebagai DDoS Trojan, yang akan mengakibatkan host tersebut menjadi zombie yang dapat dikontrol secara jarak jauh (remote) oleh sebuah komputer master yang digunakan oleh si penyerang asli untuk melancarkan serangan.

Beberapa tool (software) yang digunakan untuk melakukan serangan serperti ini adalah TFN, TFN2K, Trinoo, dan Stacheldraht, yang dapat diunduh secara bebas di Internet.

Ketika si penyerang merasa telah mendapatkan jumlah host yang cukup (sebagai zombie) untuk melakukan penyerangan, penyerang akan menggunakan komputer master untuk memberikan sinyal penyerangan terhadap jaringan target atau host target.

Serangan ini umumnya dilakukan dengan menggunakan beberapa bentuk SYN Flood atau skema serangan DoS yang sederhana, tetapi karena dilakukan oleh banyak host zombie, maka jumlah lalu lintas jaringan yang diciptakan oleh mereka adalah sangat besar, sehingga "memakan habis" semua sumber daya Transmission Control Protocol.

Hampir semua platform komputer dapat dibajak sebagai sebuah zombie untuk melakukan serangan seperti ini.

Sistem-sistem populer, semacam Solaris, Linux, Microsoft Windows dan beberapa varian UNIX dapat menjadi zombie, jika memang sistem tersebut atau aplikasi yang berjalan di atasnya memiliki kelemahan yang dieksploitasi oleh penyerang.

Beberapa contoh Serangan DoS lainnya adalah:

Serangan Buffer Overflow, mengirimkan data yang melebihi kapasitas sistem, misalnya paket ICMP yang berukuran sangat besar.

Serangan SYN, mengirimkan data TCP SYN dengan alamat palsu.

Serangan Teardrop, mengirimkan paket IP dengan nilai offsetyang membingungkan.

Serangan Smurf, mengirimkan paket ICMP bervolume besar dengan alamat host lain.

(*)

Follow Instagram tribun kaltim

Subscribe official YouTube Channel Tribun Kaltim, klik di sini


Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved