Amerika Serikat akan Masukkan Garda Revolusi Iran dalam Daftar Hitam Kelompok Teroris
Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump siap memasukkan Korps Garda Revolusi Iran ke dalam daftar hitam organisasi pendukung teroris.
TRIBUNKALTIM.CO - Media AS hari Senin (8/4) memberitakan, pemerintahan Presiden Donald Trump siap memasukkan Korps Garda Revolusi Iran ke dalam daftar hitam organisasi pendukung teroris. Iran segera bereaksi dan menyebut rencana itu "bencana baru".
Kalau memang terjadi, maka inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah AS, sebuah angkatan bersenjata nasional dikategorikan sebagai "organisasi teroris asing." Rencana ini pertama kali diberitakan oleh harian Washington Post.
Kantor berita Reuters dan The Associated Press kemudian mendapat konfirmasi dari beberapa pejabat pemerintahan yang memberi keterangan berdasarkan kondisi anonimitas.
Angkatan Laut Arab Saudi Klaim Tangkap 3 Anggota Garda Revolusi Iran
Pasukan Garda Revolusi Iran Menembakan Peluru Kendali ke Arah Suriah
Pengamat memperkirakan, kebijakan itu akan memperumit hubungan AS dengan badan-badan lain di Timur Tengah, terutama kawasan yang selama ini mendapat dukungan dana dari Iran, misalnya beberapa kelompok di Irak dan Libanon.
Peringatan Iran. Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menyebut rencana itu sebagai "bencana baru" yang diprakarsai oleh "beberapa pejabat AS" yang bertindak sebagai kepanjangan tangan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Parlemen Iran memperingatkan, Iran akan mengambil "tindakan balasan" jika Washington menetapkan Garda Revolusi sebagai kelompok teroris.
"Jadi para pemimpin Amerika, yang sendirinya adalah pencipta dan pendukung teroris di wilayah (Timur Tengah), akan menyesali tindakannya yang tidak pantas dan konyol ini," demikian disebutkan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Parlemen dan dikutip kantor berita Iran, IRNA.
AS saat ini memuat sekitar 60 kelompok di seluruh dunia dalam daftar hitam organisasi teroris asing, namun tidak satupun dari kelompok itu adalah militer resmi yang dikelola oleh negara, seperti Garda revolusi Iran.
Berpotensi menyulut konflik
Kalangan pengamat memperingatkan, keputusan AS dapat membuat para pejabat militer dan intelijen AS juga dimasukkan dalam daftar teroris oleh pemerintahan asing yang menentang AS.
Mereka mengatakan, kebijakan itu juga akan mempersulit misi militer AS dan personil diplomatik di luar negeri. Di Irak, Iran mendukung banyak milisi dan partai-partai politik yang beraliran Syiah, sementara di Lebanon, Iran mendukung Hizbullah, yang merupakan bagian dari pemerintahan.
Para pejabat AS saat ini dilarang melakukan kontak dengan Hizbullah, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris asing oleh Washington.
Pasukan Garda Revolusi Iran meluncurkan serangkaian serangan peluru kendali ke arah Suriah, Minggu (18/6/2017). Serangan itu dilakukan dalam rangka balas dendam atas serangan mematikan di Teheran yang diklaim dilakukan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) di Teheran.
Ini adalah serangan rudal pertama yang dilakukan Iran ke luar wilayahnya sendiri dalam 30 tahun, atau sejak perang Iran-Irak 1980-1988.
Tolak Permintaan Rp 4 Juta, Mahasiswa Bunuh Janda Muda Tajir Seusai Diajak Ngamar
Demo Mahasiswa Kaltim Ditertawakan, Beredar Video Aksi Pasukan Polisi yang Direkam dari Ketinggian
Demikian laporan media setempat, yang dikutip kantor berita AFP, Senin (19/6/2017).
Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah pernyataan di situsnya, berjanji akan menampar musuh-musuhnya Iran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/donald-trump_20180706_085622.jpg)